Harga Jannah Itu Mahal

Depok, 10 Juni 2012. 19.00.

Harga jannah itu mahal. Kalimat itu adalah satu dari sekian banyak kalimat yang saya catat dalam buku agenda saya dalam seminar kemarin. Harga jannah (syurga) itu mahal, ia akan tetap mahal sekalipun dunia sudah ada di era globalisasi. Saya sedang mencoba sepakat dengan pernyataan tersebut. Dalam jalan dakwah ini, sepanjang sejarah sejak nabi dan Rasulullah memulai dakwah ini, sudah berapa kekayaan yang mereka korbankan. Sudah berapa waktu dan tenaga yang dihabiskan. Sudah berapa nyawa yang hilang dalam jihad fisabilillah.

Tengoklah Abu Thalib, paman nabi yang turut mendukung dakwah Nabi. Lihatlah Khadijah yang merelakan hartanya untuk dakwah Nabi. Lihatlah Abu Bakar, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, hingga Umar bin Khatab dan seorang Hamzah bin Abdul Muthalib yang diburai perutnya di akhir hayatnya dalam jihad, bahkan seorang rasul Allah, utusan Allah, manusia paling sempurna Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wassalam yang tak henti dicaci, dimaki, dilempari kotoran, hingga ancaman pembunuhan dirinya. Semahal itukah harga syurga?

Ya, mungkin semahal itulah harga syurga. Dan ia tidak akan pernah turun harga meski dunia sudah semakin modern. Mungkin sudah tidak ada lagi perang fisik, namun ujiannya tetap ada hanya bentuknya yang berbeda. Jika sekarang kita mungkin sedang dibombardir atau sedang diperangi pemikirannya dalam berbagai bentuk. Model, fashion, food, hiburan, pendidikan, iming-iming kekayaan, jabatan, dan berbagai bentuk yang sebenarnya adalah bentuk penjajahan juga. Hal-hal yang membuat kita tidak merdeka, menikmati kebebasan hakiki dalam berakal, berdzikir, bergerak, berorientasi, dan sebagainya.

Jika semahal itu harga jannah, apa yang sudah kita kontribusikan untuk dakwah ini? Untuk agama Allah ini? Untuk menjadi pembela dan pertanggungjawaban kita dihadapan Allah kelak? Agar kita bisa masuk dalam jannah-Nya agar kita bisa berkumpul bersama Rasul, keluarga, sahabat, dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah lainnya. Beramallah, bergeraklah, memberilah, mencintailah, sekecil apapun itu, lakukan dengan ikhlas. Berat memang, namun berusaha adalah keniscayaan. Semoga kita semakin mantap bertekad berdakwah di jalan-Nya dan semoga kita dikumpulkan di jannah-Nya. Semoga. Mari, bersama!

 

sumber gambar: az2z.blogspot.com

 

 

 

 

 

 

Allah akan selalu melihat kita. Dimana pun dan apapun yang kita lakukan, maka jangan berkecil hati ketika kita melakukan kebaikan tapi tak terlihat seorang pun manusia. Allah Maha mendengar, hingga setiap bisikan kata dalam hati pun Allah mendengarnya dengan jelas. Tak perlu ber sedih ketika kita berdoa lirih dan tak ada satupun manusia yang mendengar. Allah Yang Maha Baik, yang telah memeberi kecukupan rizki pada seorang janin meski mereka tak tahu apa-apa, tak berilmu, tak bertenaga, hingga ia besar dna tumbuh sempurna menjadi bayi. Subhanallah… begituberlimpah kenikmatan Allah itu. Masihkah kita meragukan kekuatanNya? Masihkan kita meragukan keputusanNya? Hanya orang yg tidak mengenal Allah yang merasa tak berkecukupan.