Momen Romantis: 12-13 Juni 2012

Depok, 14 Juni 2012. 11.34

Hari selasa-rabu, tanggal 12-13 Juni 2012 akan menjadi salah satu momen yang mungkin tidak saya lupakan. Mestinya Anda tahu dan melihat saat itu, mestinya Anda mengamati dan benar-benar merasa aneh dengan saat itu. Selasa pagi hari, saya pergi ke asrama untuk sekadar lewat dan mampir tanpa tahu apa yang akan saya lakukan di sana. Saya pikir, asrama pasti akan sepi karena tidak ada aktivitas apapun di sana.

Ternyata saya keliru. Setelah melewati pos satpam, saya berjalan berbelok kiri melewati gazebo. Seorang lak-laki duduk di gazebo yang sepertinya saya kenal. Fathan, salah satu anggota keluarga asrama, duduk sendiri. Katanya, sedang menunggu teman-teman lain untuk menyambut maba di kantin nanti. Keszia, salah satu keluarga asrama yang lain, datang menyusul. Baju mereka sama, putih. Ternyata memang itu seragamnya. Tyas, salah satu keluarga asrama pun datang menghampiri, berbaju putih juga. Seorang bapak setengah baya berseragam rektorat juga menghampiri kami, pak Yitno kepala TU asrama. Ia membawa selembar poster berukuran A3 berisi tulisan cara mendaftar asrama. Agaknya beliau sibuk mempersiapkan tempat untuk penyambutan maba di asrama. Tidak ada alasan bagi saya untuk bersegera meninggalkan asrama, sehingga akhirnya saya menawarkan diri untuk turut membantu. Kami pergi ke kantin untuk mulai mempersiapkan tempat penyambutan mahasiswa baru (maba).

Meja untuk satpam disiapkan, meja untuk kami pun disiapkan. Yang menyiapkan bukan hanya anak-anak, tapi ada pak agus dan rekan-rekannya yang membantu. Kami membawa laptop yang harus berarus listrik. Namun, di bagian teras kantin asrama yang dekat dengan kantor TU, hanya ada colokan listrik yang rusak. Beruntung, pak Agus bersedia memperbaiki colokan tersebut. Jadilah pos penyambutan maba, yang digunakan untuk membantu para maba mendaftar asrama secara online sekaligus menjadi meja informasi terkait pendaftaran asrama. Meja ini pun dipenuhi laptop dan brosur-brosur selebaran pendaftaran asrama.

Pukul 09.30 kami membagi menjadi 2 tim untuk berjaga di asrama dan balairung. Nisa dan tyas berjaga di asrama, sedangkan putri, fathan, keszia, dan suci ke balairung. Saya pun ikut bersama di balairung karena sebenarnya pun tiba-tiba dipanggil bertugas sebagai Sahabat Maba. Sampai di balairung, kami mencari pos asrama yang ada di belakang balairung di dekat jalan menuju rektorat. Di sana, ada pos yang disipakan untuk informasi terkait asrama. Hanya ada 2 meja dan beberapa kursi tunggu. Ada pula tulisan “ASRAMA” di sebuah papan yang tegak berdiri. Di sampingnya ada standing banner yang menjelaskan alur pendaftaran asrama. Seorang bapak duduk sendiri, pak Sartimin namanya. Beliau tengah berjaga kalau-kalau ada maba yang sudah selesai registrasi ulang UI dan ingin tahu cara pendaftaran asrama.

Setau saya, yang boleh mendekat di lokasi balairung adalah ornag-orang yang berkepentingan saja. Mereka menggunakan identitas “PANITIA” untuk bisa tetap berjaga di sana. Ternyata anak-anak asrama pun tidak tahu akan seperti apa dan bagaimana selanjutnya setelah tiba di balairung. Mereka hanya tahu, bahwa mereka akan membantu pendaftaran asrama di balairung, sebagaimana yang ditawarkan pak juhdi, selaku kepala asrama. Nah, mulailah saya mendekati pak Sartimin dengan terlebih dulu mengenakan rompi Sahabat Maba agar bisa “legal” memasuki arena balairung (meskipun sebenarnya saya tidak tahu juga apa itu boleh atau tidak, ya nekat saja lah :p).

Saya menyapa dan memperkenalkan diri pada pak Sartimin. Mengaku Sahabat Maba dan mengaitkannya dengan asrama. Saya mulai mengumpulkan informasi terkait pos asrama itu. Lobi dan negosiasi coba dilakukan agar anak asrama bisa masuk. Ya, niatnya kan baik, mau membantu, moso ga dibolehin? Ya kan? Ada satu hal yang menarik menurut saya. Beliau bilang, “Tapi kami tidak menyediakan makan siang…”. Saya jawab saja, “Oo ga papa Pak, saya kira anak asrama ga makan siang gapapa,.nanti mungkin bisa beli sendiri saja, Pak.” Hehehehe… (padahal si, diragukan juga kalau pada mau cari makan sendiri)

Well, akhirnya anak asrama bisa diizinkan masuk 3 orang. Mulailah aksi membagi brosur, menata laptop untuk online maba, bicara ini itu tentang asrama, menawari ini itu kepada maba yang datang. Pak Sumantri, yang katanya sebagai penanggung jawab pos ini pun datang di tengah-tengah kami. Irsyad, Delly, Arif, Midah, Hanun, dan Zul tidak lupa hadir turut berpartisipasi dan bercuap-cuap ria :p. Menit berlalu, jam berlalu, matahari pun semakin terik hingga menyengatkan para maba yang duduk menunggu giliran “mencoba mendaftar asrama” dengan laptop yang tersedia. Posisi meja laptop dan tempat duduk tunggu pun terkena terik panas hingga diputuskan pindah dari posisi awalnya.

Nah, inilah momen yang saya bilang “romantis”. Tahu kenapa? Saya melihat keluarga baru yang akrab. Pak Sartimin, pak Sumantri, dan anak asrama yang laki-laki, bergotong royong mengangkat meja. Anak asrama yang perempuan menjaga laptop yang di atas meja agar tidak jatuh, menyingkirkan kabel-kabel yang bisa terbalut di kaki-kaki meja, dan mereka bersama-sama memindahkan kursi-kursi tunggunya. Anda mestinya melihat bagaimana kompaknya mereka saat itu. Bagaimana akrabnya mereka dalam satu lokasi bekerja bersama di momen itu. Mungkin dulu sering salah paham, berbeda posisi (mahasiswa dan petinggi), berbeda lokasi (asrama dan rektorat), dan berbeda kepentingan juga mungkin. Tapi kemarin itu, mereka bersatu lhooo…bekerja sama dan bersama-sama. Ahhh, romantisnya…

Siang semakin panas, rasa haus dan lapar mulai menyerang. Ingin makan, tapi jumlah maba yang perlu diberikan penjelasan tidak henti memenuhi pos kami. Ternyata segerombolan orang datang membawa makanan. Pak Sumantri, pak Sartimin, Fathan, Arif, dan (lupa siapa lagi :p) membawa tas plastik merah berisi makan siang. Ahhh… akhirnya bisa mengisi perut. Tawaran makan siang pak Sumantri kepada kami belum dilaksanakan. Tawaran kedua pun demikian, hingga tawaran ketiga, ia sambil berkata, “Ini perintah saya yang ketiga kali untuk makan siang.” Hahaha… saya baru ingat kalau beliau berlatarbelakang anggota menwa (resimen mahasiswa). Saya pikir, di tempat itu memang penuh komando dan disiplin tinggi. Pantas saja beliau demikian :p Anda juga mestinya melihat bagaimana caranya memberi info tentang asrama dengan nada tegas pada para maba, sangat berbeda dengan cara anak asramanya. Kata putri pada saya, “Bisa-bisa pada shock semua kak!” hehe…

Ketika minum yang kami bawa habis, botol
sudah kosong, haus… pak Sartimin kebetulan ada di depan kami, beliau sedang berbincang dengan pak Juhdi mungkin mendengar keluhan kami kekurangan air. Beliau langsung menawarkan “Apa mau isi botolnya? Yuk ambil sama saya!” Waaaa baiknya.. beliau juga menawari printernya untuk mencetak proposal yang kami buat dan bersedia mencetak serta memperbanyak brosur pendaftaran asrama. Romantis juga kan? Hehehe..

12-13 Juni 2012, akan diingat. Hari itu, saya jadi tahu kepeduian pak juhdi, perhatian pak yitno, kebaikan pak sartimin, ketegasan pak sumantri, kesigapan karyawan TU, dan tentunya kerja keras serta keuletan anak-anak keluarga asrama. Alhamdulillah… semoga keluarga besar ini akan menjaga keakrabannya dan semakin romantis :).

Salam hangat dari saya…
-FNW-