Dialog Tokoh Bersama Ustadz Ali Kurt

Meskipun emas jatuh ke lumpur, ia tak lantas berubah nilainya. Umat Islam yang sejatinya baik, juga tidak akan berubah nilainya.

 Ustadz Ali Kurt sebagai seorang tokoh yang gigih memperkenalkan risalah An-Nuur memberi banyak pelajaran pada peserta PPSDMS regional Jakarta putra dan putri mengenai persatuan umat Islam. Ia mengatakan bahwa kaum muslim di seluruh negara ini adalah satu umat. Kita lahir dari generasi Nabi yang sama, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wassalam. Sudah selayaknya jika persatuan umat menjadi hal yang diperhatikan.

 

Bila melihat kondisi umat Islam saat ini, ia mempertanyakan apa yang sudah kita lakukan selama ini? Apa kesalahan kita sehingga kita masih tetap dijajah hingga sekarang. Padahal kita adalah kaum mayoritas di dunia. Mengapa kita tidak bersatu dan menggalang kekuatan untuk menghadapi musuh yang sebenarnya, bukan memerangi umat Islam sendiri. Bila di Amerika ada USA, di Inggris ada UK, tapi kita belum punya wujud persatuan kaum muslim dunia.

 

Semua yang terjadi pada kita bukan karena kebetulan. Ada tiga masalah Islam yang saat ini ada, yaitu:

  1. Kebodohan. Kita tidak lagi menjadi umat yang berwawasan luas, suka berpikir, apalagi menemukan sesuatu. Seringkali kita mengekor pada Barat dan mendewakan ilmu pengetahuan barat. Semestinya umat Islam bisa membuka sekolah sendiri atau institusi pendidikan lain untuk dapat menguranginya.
  2. Kemiskinan. Dengan pendefinisian miskin adalah orang yang memiliki pendapatan di atas 2 dolar per hari. Sangat disayangkan terjadi juga di Indonesia, karena Indonesia memiliki kekayaan yang berlimpah. Kefakiran itu bukan takdir Allah, maka semua pasti bisa diusahakan sehingga kemiskinan bisa diatas.
  3. Perpecahan. Untuk menangani perpecahan ini, salah satu proyek yang dilakukan adalah meningkatkan pendidikan umat Islam. Hal ini dilakukan untuk menumpas kebodohan yang seringkali menjadi latar belakang perpecahan umat Islam sendiri. Atas ketidakpahaman akan ilmu, ketidakmampuan meningkatkan status kehidupan dan ekonominya, semua bsia terjadi termasuk perpecahan umat Islam.

 

Sejalan dengan pentingnya pendidikan, risalah An-Nuur hadir sebagai sebuah ajakan dan konsep pentingnya pendidikan, pentingnya menimba ilmu. Dengan adanya persamaan konsep ini, maka dunia pendidikan umat Islam akan terintegrasi bukan hanya untuk kepentingan dunia atau pencapaian fisik semata melainkan hingga meresap dalam hati.

 

Jalalluddin Rummi bersyair bahwa seluruh ilmu kita adalah apa yang dipahami dan apa yang kalian sampaikan. Jadi, kita harus memberi pendidikan yang bisa memuaskan mata dan hati. Kebodohan itu mendatangkan kejahiliyahan.

 

Kemudian, bagaimana kita bisa mengembangkan negara kita? Menurut beliau, kita bisa melakukannya dengan berperang. Berperang lewat pena (pendidikan) dan lewat pedang (ketentaraan). Kita bisa memilihnya atau melakukan keduanya. Terutama bagi para generasi muda. Namun, menurut saya, yang lebih bisa dilakukan bagi para pelajar dan mahasiswa adalah berperang lewat pena atau pendidikan. Berperang lewat pena, artinya kita belajar dengan giat, menulis pikiran kita, membuat karya, memberikan kegiatan nyata bagi masyarakat, melakukan penelitian, dan banyak lagi prestasi yang mungkin bisa dilakukan melalui pendidikan. Sebagaimana tugas seorang intelektual yang semestinya ia berkontribusi bagi bangsanya dengan pendidikan. saya teringat dengan kisah Harun Ar-Rasyid yang membuat Baitul Hikmah untuk menunjang para kaum mudanya melakukan penelitian, membaca, mengembangkan ilmu pengetahuan, menerjemahkan buku-buku dari bangsa lain, dan sebagainya. Yang terlintas dipikiran saya ketika mengetahuinya adalah betapa pada zaman itu, Islam tangguh dan kokoh pemikirannya yang dibarengi keimanan di hatinya. Ilmu yang mereka cari itu bukan seperti barat yang hanya ingin memuaskan nafsu dan mengeksploitasi alam melainkan karena kecintaan mereka pada Allah. Mereka melakukan pengemangan ilmu pengetahuan karena dalam AL-Quran sudah tertera dan mereka melakukannya untuk kemaslahatan umat.

 

Sedangkan kita bandingkan saat ini, di mana kaum muslim terutama para remajanya justru lebih suka bermain games, jalan-jalan/ nongkrong, menggunakan narkoba, dan berbagai fenomena yang jauh berbeda dari zaman keemasan Islam, Harun Ar-Rasyid. Sangat memprihatinkan bagi saya. Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Ustadz Ali Kurt bahwa agama Islam adalah agama ilmu, bahkan wahyu pertama pun “IQRA” yang artinya, ‘bacalah’. Maka, tidak ada alasan untuk tidak berilmu, membaca dengan nama Tuhan kita, dan berilmu dengan sungguh-sungguh untuk Allah.

 

Risalah An-Nuur membawa misi kebenaran tapi tidak mengklaim bahwa ialah yang paling benar. Pemikiran yang dibawa salah satunya adalah penitngnya pendidikan bagi kaum muslim. Pesan dari ustadz Ali Kurt adalah meskipun emas jatuh ke lumpur, ia tak lantas berubah nilainya. Umat Islam yang sejatinya baik, juga tidak akan berubah nilainya. Maka, umat Islam harus memperkokoh jati dirinya, baru bisa membuka wawasan dari barat. Mari kita kenali Islam lebih mendalam, perkokoh ia dalam hati kita, jadikan Islam sebagai jalan hidup kita. Wallahu’alam bishawab.