Kajian Dhuha Bersama Ustadzah Rufidah

“Hati ini telah sesak oleh kerinduan yang membuncah pada-Mu. Merindukan pertemuan dengan wajah-Mu. Merindukan pertemuan di tempat terindah-Mu. Rabbi… dalam wujud seperti apa aku akan menghadap-Mu nanti?”

Empat golongan dalam surat Al Fatihah yang termasuk orang-orang yang diberi jalan yang nikmat (An-Nisa: 69), yaitu  para nabi, shidiqqin (membenarkan ajaran tauhid Allah dari umat nabi manapun), syuhada, orang-orang shaleh.

Jadilah orang shidiq yang paling percaya pada syariat Allah. Untuk menjadi syuhada, menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah (menyapa, tersenyum, qiyamul lail, dsb) di tengah kerusakan yang begitu hebatnya, maka disitu pahala seperti seratus orang yang syahid. Mencapai satu syuhada saja sulit, apalagi seratus (QS 3: 109). Orang-orang yang mati syahid tidak kembali ke alam ruh tapi langsung ke syurga bahkan mereka hidup di dalamnya karena ruh tersebut Allah titipkan di jasad burung-burung hijau mencicipi kenikmatan syurga. Orang-orang syahid masuk syurga tanpa hisab dan boleh merekomendasikan 70 orang untuk masuk syurga. Jadi, mati syahid adalah cita-cita tertinggi. Barang siapa yang belum pernah ingin mati syahid, maka bisa jadi ia mati dalam kondisi kekafiran. Yang penting adalah kesungguh-sungguhan melakukan syariat Allah dan niatkan mati syahid. Jaga keistiqomahanmu. Orang-orang sholeh itu punya ciri: kedekatannya intens kepada Allah, tidak merasa apa yang diperolehnya adalah karena dirinya, tidak sombong, bertawakal pada Allah, tidak lepas doa kepada Allah.

Jangan pernah ragu dengan doa kita. Pasti dikabulkan. Bisa dikabulkan saat itu juga, bisa ditunda pengabulannya, atau diganti yang leih baik di akhirat. Doa dengan spesifik untuk menunjukkan besarnya harapan kita pada Allah, kedekatan kita pada Allah, dan Allah memang senang mendengar rengekan kita (QS 40:60). Jangan malu meminta pada Allah! Allah itu dekat, lebih dekat dari urat leher kita (QS 2: 186). Syaratnya bila ingin dikabulkan doanya pada Allah: dia punya respon yang cepat pada perintah Allah (sura’atul istijabah). Mejaga keistiqomahannya dan percaya bahwa doa kita akan dikabulkan. Selalu khuznudzon billah.

Jangan lupa infak dan sadaqoh. Sadaqoh bisa menolak bala. Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jangan menetukan balasan yang kita inginkan, tapi biarkan Allah yang menilai dan membalas dari infak kita. Ayoo infak, untuk mengikis kekikiran dalam diri kita!

Seorang mukmin hendaknya selalu melakukan muakadah (perjanjian) pada Allah bahwa Allah adalah Rabb-nya. Seperti yang telah dilakukan pada saat manusia sebelum dimasukkan ke rahim ibunya. Ia bersaksi bahwa Allah ada rabb-nya. Rabb itu luas, sebagai hakim, pemberi rizki, pengatur kita, penjaga kita, pencipta kita, dan sebagainya. Bayi dilahirkan dalam keadaan hanif (kecenderungan pada Allah). Misalnya, bangun pagi-pagi, tidur sebelum dhuhur, kalau kencing risih dan ingin dibersihkan, dan sebagainya., jadi tugas orang tua adalah menjaga fitrahnya.

Muroqobbah (merasa diawasi oleh Allah selalu, merasa ada pengawasan dari Allah) dimanapun dan kapanpun, dalam sendiri-ramai, terang-gelap, dan sebagainya. Sehingga apa yang kita lakukan selalu merasa ada Allah.

Muhasabah setiap hari. Apa kita lebih banyak taat atau lebih banyak maksiat. Iman itu naik turun, meningkat karena ketaatan pada Allah dan turun karena maksiat pada Allah. Rasakan bahwa waktu kita sedikit padahal kewajiban kita banyak. Para sahabat memperbarui surat wasiat setiap malam tentang amanah, titipan, dan sebagainya. Hisablah diri kita sebelum Allah menghisab kita.

Muaqobah (menghukum diri kita sesuai kemampuan kita). Mujahadah (berjihad= berlelah-lelah) sampai bertemu dengan Allah nanti. Misalnya: bangun solat malam sampai lelah, dan sebagainya. Jangan banyak tidur, perbanyak amal agar tidurnya lama di kubur. Sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Sakaratul maut itu sunatullah, sangat sakiiiitt seperti kambing dikuliti, namun Rasulullah tetap mengingat kita, umatnya hingga akhir hayatnya. Subhanallah, solawat untukmu ya Rasul..aku mencintaimu.