Sharing Alumni Bersama Shofwan Al-Banna

Hidup itu ibarat pohon tumbuh yang semakin ke atas. Ketika masih kecil, pohon itu belum bisa menjangkau apa yang ada di atas. Perlahan namun pasti, semakin lama ia mampu menjangkau apa yang ada di atasnya.

Dulu, mungkin kita belum bisa menempati ruang-ruang tertentu yang kita anggap lebih luas dan lebih besar. Kita belum bisa menjangkau  sesuatu yang lebih  atas dari kita, namun yakinlah suatu saat akan bisa kita untuk menjangkaunya. Sebuah pohon juga mengalami gugur daun, kering, dan jatuh. Namun, ia bisa tumbuh lagi sesuai waktunya. Hal ini seperti ingatan kita yang kadang lupa dan kadang ingat. Ada ingatan baik, ada yang buruk, ada yang menyenangkan, ada yang traumatis.

Demikianlah Shofwan Al-Banna memulai pertemuan kami sebelum ia memperkenalkan dirinya lebih mendalam. Nama lengkapnya Sofwan Al-Banna. Ia berasal dari desa yang terkenal sebagai pusat batik, yaitu Jogokariyan, Jogjakarta. Pada masa kecilnya, ia sudah tidak asing dengan Islam karena di desa ini memang sudah kenal ke-Islam-annya. Sekolah dasar dan sekolah menengahnya banyak memberikan pengaruh bagi tumbuh kembangnya. Ia menemukan banyak kelompok orang dari sekolahnya tersebut. Ia juga suka berdiskusi dan bertanya pada orang-orang di sekelilingnya. Di masa SMA, ia pernah membuat kampanye “masuk IPS”.nya, terjadi ketidakadilan

Ketika akan mencari perguruan tinggi, ia memilih UI karena bila ia terus di Jogjakarta, ia merasa tidak tumbuh dan berkembang. Ia masuk UI tanpa dimodali uang oleh ayah ibunya sehingga ia harus mengusahakan biaya sekolahnya sendiri. Sofwan termasuk anak yang berani. Ketika masuk UI, ada kegiatan orientasi kehidupan kampus yang disingkat OKK. Menurutnya, OKK adalah pembodohan atau pembudakan mahasiswa baru. Oleh karena itu, ia menyatakan ketidaksetujuannya mengikuti OKK melalui surat dan menolak mengikuti OKK ketika mahasiswa baru.

Dalam hidup ini, kita hidup ibarat pohon yang selalu tumbuh dan berkembang. Ketika di awal kuliah, buatlah visi yang besar. ketika ia menjadi mapres, ia ingin membuktikan bahwa menjadi aktifis tidak menghalanginya untuk berprestasi. Pelajari berbagai bahasa, banyaklah berlatih, berwawasan luas, milikilah pengaruh di public, independensi perlu dijaga, dan usahakan agar menjadi orang yang dicintai. Belajar terus, intelektual diasah, banyak baca buku. Dalam membuat perubahan, milikilah karakter!

Jadi, penting membuat visi yang besar dan jelas. Jelaskan dengan lebih rinci namun berikan ruang fleksibilitas karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Lembaga, orang tua, orang-orang yang kita sayangi dan ada di sekeliling kita bisa sangt berpengaruh pada kita.

Setiap orang punya definisi sukses yang berbeda. Buat definisi itu. Kita mungkin punya titik awal yang berbeda ketika masuk asrama namun hendaknya punya titik akhir yang sama. Bagaimana cara kita menjangkau titik akhir (sukses) tersebut adalah pilihan kita. Yang penting kita tahu kita mau kemana dan melangkah bersama yang lain justru akan memberikan kekuatan. Jangan lupa, wahyu Allah yang pertama adlaah IQRA’. Kita disuruh membaca dan membaca!

Mari, bertumbuh dengan kebaikan dan ilmu. Kembali kita meningkatkan kuantitas dan kualitas membaca kita, baik kitab suci Al-Quran pun kitab buku pengetahuan🙂 agar semakin bermakna hidup ini, semakin berkembang ke arah kebaikan yang Allah ajarkan🙂