Kerja Keras

Bila kerja keras adalah sebuah proses, maka izinkan aku untuk terus melaluinya dengan kekuatan-Mu. Jika kerja keras adalah lelah yang harus dibayarkan, maka izinkan aku sanggup melunasinya hingga usai dengan harta-Mu. Jika kerja keras adalah beban berat yang harus kupikul di dunia, maka kuatkan pundakku dengan keperkasaan-Mu, Rabbi..

Kerja keras agaknya menjadi momok yang menakutkan dan membuat enggan tiap individu. Ia bagaikan tantangan menanjak gunung ribuan meter di atas permukaan laut. Atau mungkin seperti tantangan menyelam ke dasar samudra dengan kedalaman kiloan meter jauhnya. Tapi, percayalah bahwa kerja keras akan tetap diperlukan untuk menjalani hidup ini. 

Dunia ini, terlalu banyak diisi oleh orang-orang yang berambisi, memiliki tekad baja, memiliki tujuan dan cita-cita menggunung, memiliki rangkaian kisah yang menginspirasi, memiliki pengalaman berkali lipat tentang kegagalan, dan kekayaan ilmu maupun harta yang tidak sedikit. Mengapa? Karena kerja keras mereka. Karena sebuah term kerja keras yang menghiasi hidup mereka.

Sukses itu yang saya pahami, adalah ketika kita mau sedikit lebih menderita, sedikit lebih bertahan, sedikit lebih berusaha, sedikit lebih bekerja keras di atas rata-rata orang lain. Mau tidak mau, suka tidak suka, demikianlah membuat strateginya agar mau sedikit lebih unggul dari yang lain.

Kenapa harus kerja keras? Apa pentingnya buatku?

Yang saya pahami, Islam telah mengajarkan agar setiap insan hari esok harus lebih baik daripada hari ini, dan lebih baik dari hari kemarin. So, perlu kerja keras. Selain itu, yang saya pahami juga bahwa Allah menilai proses dari hamba-Nya. Bukankah mengikhtiarkan hidup kita dengan kerja keras tidak masalah? Berharap kerja keras inilah yang menjadi jalan kita masuk syurga. Karena kita tak pernah tahu amal apa yang dapat mendorong kita masuk syurga, bukan? Dan terakhir, kerja keras adalah proses. Jika prosesnya baik,caranya baik, semoga hasilnya pun mempunyai konsekuensi yang berkorelasi positif. Artinya, dengan cara dan proses yang baik, berharap hasilnya pun akan baik. Berharap apa yang kita dapatkan juga akan baik.

So, apa yang membuat kita ragu untuk bekerja keras? Lakukan dulu. Percayai itu. 

Iklan

Narsistik

Hari ini, aku mendapat sebuah kuliah gangguan kepribadian dalam mata kuliah abnormal. Ada banyak hal yang akhirnya menarik untuk dibahas dalam materi tersebut. Salah satu yang membuatku terkejut adalah ada salah satu gangguan kepribadian bernama narsistik yang cocok dengan simtom yang ada pada salah satu temanku.

Yang paling membedakan dari sebuah gangguan kepribadian dengan gangguan cemas, atau gangguan lain adalah penderita tidak mau menyesuaikan diri dengan lingkungan (allow-plastis) dan dia tidak cemas dengan masalah gangguan kepribadian yang dialaminya (ego-sintonik). Biasanya gangguan kepribadian muncul sejak kanak-kanak meski dengan nama yang berbeda dari nama gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian juga biasanya tidak memiliki gangguan secara neurologis.

Simtom yang muncul dari gangguan kepribadian narsistik adalah, ia selalu merasa dirinya paling benar, paling spesial, berhak mendapat perlakuan khusus, sehingga ia sulit menerima kritik dari orang lain. Dikatakan pula dalam buku Psikologi Abnormal Klinis Dewasa (Fausiah, 2007) bahwa sikap mereka yang demikian dapat mengakibatkan hubungan yang rentan/mudah pecah.

Kesesuaian simtom dalam teori dengan perilaku yang diperlihatkan temanku ini mirip. Maka, bisa jadi dia mengalami gangguan kepribadian tersebut. Namun, hal ini aku rasa perlu dipertimbangkan lagi dengan merujuk pada psikolog atau mungkin psikiater. Semoga segera bisa disembuhkan.

Pemimpin Masa Depan Indonesia

Ada beberapa kriteria pemimpin masa depan yang didambakan. Sedangkan menjadi pemimpin yang berhasil membutuhkan proses yang tidak singkat. Maka, dibutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan.

Kini menjadi suatu keniscayaan bahwa pemimpin menjadi sosok penting dalam sebuah organisasi yang dipimpinnya. Dari tingkat rumah tangga hingga dunia, pemimpin menjadi simbol dan nahkoda organisasinya. Dunia yang heterogen dan terus berkembang disertai permasalahan yang melingkupinya, menjadi tantangan besar bagi seorang pemimpin untuk dapat menata dan mengarahkan hingga tercapai tujuan yang diharapkan. Menilik pada Indonesia, negeri yang indah dengan beragam sumber daya, tentu membutuhkan pemimpin yang mampu mengakomodir keberagaman tersebut. Apa saja kriteria pemimpin yang sesuai untuk memimpin Indonesia dan bagaimana cara mewujudkannya?

Banyaknya teori kepemimpinan yang beredar, memunculkan banyak definisi tentang pemimpin dan pandangan efektifitas sebuah kepemimpinan. Kepemimpinan bukan hanya bicara siapa orang tertinggi melainkan juga bagaimana pengaruh seseorang dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu, untuk mendukung pengaruh tersebut, ia membutuhkan kompetensi dan pendekatan personal kepada orang yang dipimpinnya. Seiring perkembangan zaman, ketiga hal tersebut masih perlu diimbangi dengan berbagai hal yang mendukung agar berhasil, yaitu kecerdasan dan kebijaksanaan dalam mengelola masalah, mamahami medan dan masalah yang dihadapi, visioner, kreatif, berani mengambil sikap dan menerima konsekuensinya, dapat dipercaya, bersungguh-sungguh mendedikasikan diri untuk melayani, serta dapat memberi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Di negara Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya dan keberagaman kelompok, dibutuhkan krtiteria lain selain kriteria tersebut. Yaitu pemimpin yang moderat, objektif, dan open minde, sebagaimana digagas oleh salah satu pendiri asrama kepemimpinan Nurul Fikri. Seorang pemimpin diharapkan mampu memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang, tidak memihak pada kepentingan ataupun golongan tertentu, pandai memfilter budaya lain yang masuk, menerima kritik ataupun saran dari berbagai pihak dan dapat mengelolanya menjadi hal yang konstruktif, serta berupaya serius menjaga kerhormatan bangsa di kancah dunia.

Sebuah teori behavioral diajukan oleh Yulk dkk (dalam Aamodt, 2010) menyebutkan bahwa para pemimpin yang berhasil, melakukan hal-hal berikut ini: menginisiasi ide, berinteraksi secara informal dengan bawahan, mendukung bawahan, bertanggung jawab, mengembangkan suasana kelompok, mengorganisiasikan pekerjaan, berkomunikasi secara formal dengan bawahan, menggunakan reward and punishment, menetapkan tujuan, membuat keputusan, melatih dan mengembangkan kemampuan pekerja, menyelesaikan masalah, dan membangkitkan antusiasme kelompok. Berbagai hal tersbut tidak berasal dari bakat semata. Adanya penelitian ini justru membuktikan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dengan proses yang tidak singkat.

Menjadi pemimpin yang berhasil membutuhkan proses yang tidak singkat. Cara membentuk karakter pemimpin dapat dimulai dari lingkungan keluarga serta pihak lain yang merasa bertanggung jawab. Misalnya: organisasi mahasiswa di kampus, partai politik, lembaga non-pemerintah, dan negara. Tujuannya jelas, melahirkan pemimpin masa depan yang berkarakter Indonesia. Menyadari hal tersebut, pihak-pihak terkait  perlu membuat perencanaan pembinaan kepemimpinan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Sehingga dapat memperoleh figur pemimpin yang memenuhi kapabilitas. Wujud nyatanya dapat melalui asrama-asrama pembinaan, sekolah-sekolah kepemimpinan, dan sistem kaderisasi organisasi yang dibentuk dengan pola pembinaan berkesinambungan. Pola tersebut harus memiliki standar yang jelas, perencanaan yang matang, materi yang komprehesif, dan fasilitas yang mendukung. Hal ini dibutuhkan untuk menumbukan bibit-bibit unggul pemimpin masa depan guna memajukan bangsa sehingga mampu menghasilkan pemimpin yang berkarakter dan memiliki kapabilitas memadai.

 

Referensi

Aamodt. (2010). Industrial/organizational psychology (6th ed.). Canada : Nelson Education, Ltd