‘Ketidakberanian’ 2012

Rasanya baru kemarin aku menjadi mahasiswa baru Fakultas Psikologi 2010. Ternyata sudha masuk tahun ketiga, tepatnya semester 5. sebentar lagi pun aku mengikuti UAS di bulan Desember. Artinya, sebentar lagi juga akan beralih status menjadi mahasiswa semester 6.

Selama dua tahun di UI, saya mengikuti organisasi tidak di fakultas psikologi. Alasan pertama, karena ketika saya mendaftar menjadi staf Kastrat BEM Psikologi, saya tidak diterima. Lalu saya mendaftar menjadi staf Aksi dan Propaganda (Akprop) BEM UI 2011 di bulan pembukaan anggota BEM, saya diterima. Jadilah saya anak Akprop BEM UI. Setahun kemudian, saya mendaftar lagi menjadi staf Kastrat BEM Psikologi 2012. Setali tiga uang, hasilnya sama -tidak diterima. Saya akhirnya mendaftar menjadi anggota badan kelengkapan MPM Psikologi 2012. Dalam waktu yang sama, saya diajak menjadi anggota Kastrat Salam UI 2012. Awalnya hanya diajak menjadi staf, namun ternyata saya menjadi deputi departemen tersebut, dengan kondisi saya sudah menjadi anggota BK MPM. Setahu saya, seorang deputi di Salam tidak boleh menjadi anggota organisasi lain, namun entahlah ketua departemen saya yang meminta. Akhirnya, jadilah saya merangkap jabatan sebagai anggota badan kelengkapan MPM bidang 1 (legislasi) dan deputi Kastrat Salam UI di tahun yang sama.

Tidak lama berselang, saya ditawari menjadi ketua pelaksana kegiatan Forum Ukhuwah dan Studi Islam Fak. Psikologi. Nama acaranya adalah kajian Islam awal semester (KIAS), yaitu kegiatan awal bagi mahasiswa baru untuk mengenalkan Islam dan lembaga dakwah yang menaunginya. Belum ada jobdes yang jelas dari kedua jabatan yang saya pegang, ditambah steering comittee yang begitu meyakinkan diri saya bahwa acara KIAS penting untuk diketuai oleh saya, jadilah saya menerima tawaran ini. Selain itu, saya pikir waktu pelaksanaannya juga di akhir tahun sehingga saya anggap akan bisa saya handle. 

Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengatur dengan sangat detail jadwal saya. Antara kuliah, organisasi, dan kegiatan lainnya. Di tahun 2012 pula saya diterima sebagai santri asrama pembinaan PPSDMS Nurul Fikri yang mengharuskan saya untuk menaati sistem/ aturan yang telah dibuat. Belum lagi, saya butuh ilmu Islam dan pemikiran yang membuat saya harus ikut kajian setiap pekan minimal dua kali.

Di tahun yang sama, 2012, saya ditawari menjadi ketua BEM Psikologi. Keinginan yang sudah lama saya pendam. Cita-cita yang sudah lama saya pikirkan, tepatnya sejak semester 2. Bisa dibayangkan mengapa akhirnya saya ingin berorganisasi di Psikologi sejak awal. ya, karena saya ingin mengenal Psikologi lebih dekat dan lebih dalam. Namun, perjalanan dua tahun ini membuat saya urungkan niat saya maju menjadi calon ketua BEM Psikologi UI 2013. Amanah yang masih saya pegang hingga akhir tahun 2012 dan ketidakpercayaan diri atas ‘massa’. 

Saya merasa tidak dekat dengan Psikologi dalam hal lingkungan kampus dan teman-teman. Apa benar saya akan maju sebagai pemimpin di sini tanpa saya tahu banyak tentang sesuatu yang pimpin itu? Apa benar keinginan dan niat menjadi calon ketua BEM ini masih sama seperti pertama kali saya menginginkannya? Apakah saya maju karena ingin mencari jabatan dan ketenaran saja atau karena saya ingin maju mewakili dan melayani teman-teman saya?

Ketidakberanian. Itu juga yang menjadi poin kegagalan saya. Saya ingat sebuah quote yang disampaikan oleh salah satu pembina PPSDMS dalam sebuah seminar kami, bahwa Gerakan ataupun dunia ini akan dirancang oleh orang-orang cerdas, akan dieksekusi oleh orang-orang yang ikhlas, dan dimenangkan oleh orang-orang BERANI. Inilah yang membuat saya kalah, KETIDAKBERANIAN.

Saya malu mengakui pada diri saya sendiri sehingga saya mencari alasan sibuk, banyak amanah, tidak punya massa, dan sebagainya. Itu hanya excuse. Itu hanya alasan yang saya buat atas nama ‘pertimbangan’ keadaan dengan kata kerja ‘mempertimbangkan’ keadaan lingkungan saya dan kemampuan diri saya. Apa saya menyesal? Ya, tapi saya merasa tidak pantas menyesal dan tidak mau menyesali. Cukuplah Allah yang tahu bagaimana bentuk penyesalan saya. Ini adalah pelajaran berarti bagi saya dan menjadi hal yang patut saya renungi.