Mengapa Berkerudung?

alhamdulillah… tulisan keempat di media online :D. ada yang diganti lhoo dari teks  originalnya, apa coba? judulnya..hehhe 

klik di sini

Iklan

Tulisan Ketiga di Media Online

klik di sini

yah, itu dia tulisan yang ketiga. sebenarnya itu merupakan rangkuman kajian Islam-Sekulerisme buku karangan Syed Naquib Al-Attas. Ini merupakan tulisan yang paling cepat yang saya dapat respon dari media. pagi jam 6.30 kira-kira saya kirim, lalu jam 13 saya dapat konfirmasinya. Jika sebelumnya selisih sehari atau mungkin sepekan, nah ini, emm setengah hari.. Great! heheh makin ketagihan nulis. Semoga bermanfaat 🙂 semoga Allah meluruskan dan menjaga niat ini hanya karena ingin rahmat serta ridho dari-Nya 🙂 aamiin

Family Gathering PPSDMS VI di TMII

Family Gathering PPSDMS VI di TMII

Ini salah satu foto saya bersama teman-teman asrama PPSDMS angkatan 6. ada Hilda, Greta, dan Bhekti juga. Mereka bertiga adalah teman yang menyenangkan dan menggemaskan. masing-masing memiliki sifat dominan yang berbeda.
Kali ini kami melaksanakan family gathering di TMII bulan November tanggal 17 (kalau tidak salah ingat). Semua teman asrama saya datang sebanyak 30 orang ditambah 2 supervisor. Kami berhenti di anjungan Maluku yang lapang. Acara utama adalah makan-makan, foto-foto, jalan-jalan, dan main-main. 🙂 sangat menyenangkan tentunya.

Terpenjara

Terpenjara

oleh: FRNW

jangan kira jiwa ini terusik.
jangan kira jiwa ini terbelenggu.
jangan kira jiwa ini tak menderu.
bila hanya raga yang terpenjara.
bila hanya mimpi yang tertahan.
bila hanya gerak yang tak bebas.

bukankah sudah kukatakan bahwa dunia ini milikku,
dunia ini bisa kugenggam,
dunia ini bisa kulenyapkan,
kuremas,
dan kuganti dengan kehidupan pencerahan
atas rahmat-Nya

Dialog Tokoh ”Outliers: Amplifying the Wonders”

Gambar

Dalam keterbatasannya Gol A Gong berhasil menampik semua anggapan buruk tentang orang cacat. Buku membuatnya lupa bahwa ia cacat. Buku adalah kecintaan dan segalanya bagi Gol A Gong. Buku  membuat pintar, buku membuat berwawasan luas, buku membuat candu, dan buku bisa mengubah hidup jadi lebih baik.

Gol A Gong yang memiliki nama asli Heri Hendrayana Harris. Lahir di Purwakarta, tanggal 15 Agustus 1963. Memiliki satu istri, yaitu Tyas Tatanka serta tiga orang anak, yaitu Bela, Abi, Jordi, dan Kaka. Gol A Gong terinspirasi dari ayahnya yang menyebutkan kata ‘gol’ atas tercapaianya cita-citanya, A yang merujuk pada nama ‘Allah’, dan gong yang terinspirasi dari ibunya karena ibunya mengatakan bahwa apa yang ia lakukan hendaknya memberikan getaran atau dampak kebermanfaatan bagi orang lain. Sehingga ia merangkainya menjadi Gol A Gong. Dengan satu tangannya, ia berhasil menorehkan karya dengan menulis lebih dari 125 novel dan ratusan skenario film. Beberapa dari novelnya adalah Balada Si Roy, Kupu-Kupu Pelangi, Kepada-Mu Aku Bersimpuh, Biarkan Aku Jadi Milik-Mu, Lewat Tengah Malam (adaptasi dari film 2007 berjudul sama bersama Ibnu Adam Aviciena) dan lain-lain. Ia menulis cerita pendek juga terdapat di berbagai antologi dan berhasil mendirikan Rumah Dunia, sebagai tempat membaca bagi anak-anak di daerah sekitarnya.

Awal mula kecintaannya pada buku adalah setelah jatuh dari pohon yang membuat tangannya tak bisa lagi diselamatkan. Lalu ayahnya mengenalkan ia pada buku dan novel. Ia pun berkata “Ini buku, bacalah! Maka kamu akan lupa, bahwa  kamu cacat!” Hal inilah yang kemudian ia tekuni. Ia tekun membaca buku dan novel serta buku apapun juga. Ia begitu mencintai buku, beberapa ungkapan yang ia katakan untuk buku antara lain: Buku itu hati, maka cintailah! Buku itu peradaban, maka masuklah! Buku itu wanita, maka nikahi! Buku itu jiwa, maka dirikan perpustakaan. Buku itu pelangi, maka cintailah hujan! Buku itu masa lalu, maka hargai waktu! Buku itu puisi, maka berbahagialah! Buku itu prosa, maka bergembiralah! Buku itu tuntunan, maka kenali nabi! BUKU ITU SEGALAGALANYA, MAKA DIRIKANLAH TAMAN BACAAN MASYARAKAT.

Bagi Gol A Gong, buku adalah segalanya. Ia juga menularkan kebiasaan ini pertama kali pada keluarga merka. Istri dan anak pertamanya pun sudah menghasilkan beberapa judul buku. Kecintaannya pada buklah yang akhirnya membuat ia mendirikan taman bacaan masyarakat. Dengan prisip berbagi agar masyarakat juga tahu dan merasakan betapa nikmatnya membaca. Pada tahun 1998 – 2000 bersama istri tercintanya, ia mendirikan taman bacaan di garasi dan teras rumah. Kemudian tahun 2001 ia membeli tanah seluas 1000 m2 untuk Rumah Dunia. Baginya, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah ibadah, tidak sekedar  amanat UUD 1945. Ia juga menggunakan prinsip zakat sebesar 2,5% dan tentunya rasa cinta kepada anak-anak sebagai alasan atau landasan ia bergerak.

Ada beberapa program yang ia buat di TBM, antara lain gempa literasi. Gempa literasi adalah upaya penghancuran kebodohan dan membantuk peradaban baru, yaitu peradaban yang gempar membaca. Beberapa kegiatan yang diadakan dalam ”gempa literasi” berupa: orasi literasi, pertunjukkan seni, aneka lomba literasi, wakaf buku, pelatihan menulis, bazaar buku, dan bedah/peluncuran buku. Ada banyak penulis buku dari tingkat ekonomi rendah yang menjadi penulis. Mereka juga mengalami perubahan dengan menjadi penulis atau wartawan setelah tinggal di rumah dunia ini. Bahkan ada yang berhasil lulus S2 di Leiden, Belanda dengan terus membaca buku dan kini menjaid presiden ke-3 di rumah dunia.

Seorang pedagang gorengan yang kini jadi penulis mengatakan bahwa membaca bisa mengubah hidup menjadi lebih baik. Dia bergabung di Kelas Menulis angkatan 9. Kemudian sejak tahun Februari 2010 jadi wartawan Banten Raya Post untuk wilayah Banten Selatan. Seorang pedagang nasi uduk bisa meraih UNICEF Award for Indonesian Young Writer 2004 sekaligus penulis 11 novel best seller karena membaca. Ada lagi, seorang mantan pemulung yang kini S1 di Untirta telah berhasil menulis esai dan cerpen di koran lokal serta majalah nasional. Bagi mereka membaca buku adalah kecintaan dan segalanya. Buku itu membuat pintar, buku membuat kita berwawasan luas, buku itu candu, dan buku bisa mengubah hidup mereka jadi lebih baik. Jadi, gemarlah membaca dan sebarkan virus gemar membaca ini pada orang di sekeliling kita.

Gambar

Dialog Tokoh : “Cracking Zone”

Leader adalah orang yang paham visi, memiliki semangat untuk mencapainya, dan dapat mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuannya, serta berkontribusi di mana pun dan kapan pun.

Gambar

Dialog bersama bapak Ir. Hasnul Suhaimi adalah satu dialog yang sangat menarik. Ia selaku direktur PT. XL Axiata, terhitung sukses membawa XL menjadi salah satu produk yang diperhitungkan pasar saat ini. Hal ini tidak lepas dari strategi perusahaan yang ia lakukan dan gaya kepemimpinan uniknya. Menurutnya, perubahan adalah hal mutlak yang tidak bisa dihindari. Ia menyampaikan dalam presentasinya bahwa semakin hari, perubahan semakin tidak bisa dihindarkan. Maka, dibutuhkan adaptasi agar proses perubahan itu dapat kita lalui menjadi sukses yang kita capai. Seringkali kita merasa putus asa dengan apa yang kita lakukan karena kita merasa tidak bisa mengikuti perubahan tersebut. Namun, teruslah bergerak meski perlahan. Terus asah potensi kita karena kita dan bersabar menjalaninya. Jangan lupa, tetaplah humble dan rendah hati jika kita sudah di atas tampuk kepemimpinan.

Bapak Hasnul Suhaimi, menjelaskan beberapa isu yang berkembang dalam masyarakat terkait dikotomi bisnis. Pertama, kepentingan perusahaan vs kepentingan masyarakat. Dalam hal ini, kedua hal tersebut tidaklah patut dibenturkan karena keduanya dapat saling mendukung. Oleh karena itu, XL mencoba melakukan hal-hal yang memang dapat dirasakan manfaatnya oleh perusahaan dan masyarakat. Xl memberikan layanan gratis telpon pada jam malam untuk para pekerja malam. Kemudian, XL memberikan tarif harga yang sangat murah untuk sms dan menelepon sesama XL agar masyarakat Indonesia lebih sering menelepon, tidak takut kemahalan, dan terbangunnya komunikasi yang lebih baik antaranggota masyarakat. Selain itu, kepemimpinan yang beroreintasi tugas dengan kesejahteraan karyawan sudah selayaknya menjadi simbiosis mutualisme. Manajemen dan karyawan yang kreatif serta memiliki etos kerja tinggi tidak akan mengalami dikotomi kepentingan. Cara pemimpin pak Hasnul yang luwes, akrab, dan setara membuat karyawan bekerja dengan nyaman serta berlomba memunculkan kreatifitasnya.

Kedua, mulailah segala sesuatu dengan visi. Visi menjadi hal yang begitu penting karena visi dapat menjadi pedoman, arah, tujuan, maupun target kita dalam melangkah. Jangan sampai kita tidak tahu mau kemana kita melangkah apalagi sudah di tengah jalan. Visi membuat kita lebih termotivasi dan jelas dalam melangkah. Perlu juga membuat visi yang mudah diingat untuk memudahkan kita. Misalnya visi XL semasa kepemimpinannya adalah 1-2-3. Selama 3 tahun menjadi nomor 2 dengan kualitas nomor 1. Dengan mengetahui medan, kompetitor, kualitas kompetitor, posisi kita di pasar, dan strategi ditambah inovasi pemikiran akan membuat kita lebih matang mengejawantahkan visi kita. Sehingga sebuah visi bukan hanya menjadi angan-angan yang tidak bisa diraih, melainkan juga menjadi pemacu kita bergerak karena kita dengan yakin mencapai visi kita.

Ketiga, realita. Dalam hidup ini, ternyata sangat sulit untuk bisa menentukan profit, kompetitor, dan kebutuhan masyarakat. Akan ada saja pertimbangan yang membuat kita harus memilih mana yang akan diutamakan. Namun, buatlah strategi yang apik untuk menanggulanginya agar kita dapat mencaai visi kita. Misalnya, XL tetap memutuskan nelpon dengan 100 rupiah permeit, ketika semua operator rata-rata1500an rupiah. Daya beli masyarakat juga 1500 rupiah. Tapi XL harus jadi nomor 2 dalam 3 tahun ini. akhirnya, strateginya adalah tetap dengan 100 rupiah per menit setelah sekian menit, dan sebagainya. Dari strategi, yang penting lakukan saja dulu!

Setelah rapat strategi selesai, persiapkan teknisnya dengan matang dan tetapkan waktunya. Kemudian, kenali produk XL bagaimana sifatnya serta kenali etos kerja XL tersebut. Ethos Kerja XL adalah ibadah, pelayanan masyarakat, kontribusi perusahaan, menghidupi keluarga, dan kepuasan pribadi (esteem).

Keempat, manajemen tugas vs orang. Kedua hal tersebut juga perlu sejalan. Cara pandang penjualan yang kuno mengatakan bagaimana pekerja/ karyawan harus menjual produk, sekarang, tujuan apa, dan sebagainya yang sifatnya itu cenderung langsung menyuruh. Namun, paradigma sekarang harus bisa diubah bahwa karyawan harus paham apa yang mereka lakukan, kenapa mereka harus menjualnya, berapa targetan perusahaan, dan sebagainya. Sehingga hal ini mendorong karyawan bekerja dengan pemahaman dan merasa dilibatkan.

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai cracking zone, yaitu cara yang lebih kreatif dan lebih keras. Pertimbangan masalah harga menjadi satu hal yang perlu diinovasi agar produk kita dapat bersaing dan keuntungan perusahaan tetap meningkat. Buatlah iklan yang menarik. Coba saja! Kalau iklan sensasional kita tidak banyak menuai protes atau hanya sedikit, tetap bertahan. Namun, jika sudah banyak komplain, boleh dipertimbangkan untuk diturunkan atau tidak. Kemudian, masalah kreatifitas adalah hal unik yang bisa datang darimana saja. Karena itu, jangan anggap remeh bawahan kita. Siapapun dia bisa jadi partner kerja. Ide-ide besar juga bisa berasal dari mereka. Jadi, tetap bangun hubungan baik dengan para karyawan.

Dalam presentasi selanjutnya, bapak Hasnul menjelaskan mengenai apa arti leadership? Leader adalah orang yang paham visi, memiliki semangat untuk mencapainya, dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuannya, serta berkontribusi di mana pun dan kapan pun. Ketika seseorang menjadi pemimpin, dia perlu membentuk dirinya untuk memenuhi beberapa kriteria. Yaitu secara fisik, intelektual, emosional-sosial, dan moral-personal. Paling tidak, dia harus sehat, memiliki fisik yang baik, bersih, dan sebagainya. Dia juga berwawasan luas, kutu buku, gemar menimba ilmu. Dia harus bisa mengontrol emosinya dan berlaku tepat pada sesama. Ia juga harus memiliki sifat bertanggungjawab terhadap moral atau aturan yang ada serta memiliki prinsip kebaikan yang kokoh.

Akhirnya, pak Hasnul berpesan bahwa setiap orang perlu melalui tahapan berikut ini hingga ia bisa mencapai visinya. Yaitu, knowledge. Artinya, ia harus berpengetahuan, cerdas, dan paham perkembangan serta update isu teraktual. Kedua, skill. Ia harus memiliki kemampuan organisasi yang baik, komunikasi, negosiasi, debat, dan keterampilan lain yang dibutuhkan. Ketiga, manajemen. Ia juga harus dapat bekerja dalam tim dan dapat mengorganisi orang lain. Kemudian, keempat, teamwork. Hal ini perlu dibangun bukan hanya atasan dengan bawahan melainkan antarunit karyawan sendiri. Terakhir, adalah change! Perubahan terhadap pola pikir kita yang dulu menuju pola pikir yang lebih kreatif dan berorientasi pada visi, yang akhirnya membuat tercapaianya visi kita. Dalam mencapai kelima hal tersebut, perlu dilakukan secara progresif dan berkesinambungan serta tetap menjaga diri menjadi humble. 

Mau Jadi Polwan

Mau Jadi Polwan

yah, ini foto yang saya ambil ketika ada aksi di Monas. seperti biasa, ada korps polisi yang menjaga kami. nah, kebetulan ada mobil polisi juga ni yang diparkir. jadilah saya ingat kembali keinginan jadi polwan atau paling tidak mengabdi pada masyarakat melalui instansi Polri. mungkin di bagian SDM Polda Metro Jaya atau Forensik Bareskrim Mabes Polri 🙂 . semoga

Dua Hal: Mendaki Gunung dan Berorasi

Sudah bulan Desember. target saya sampai saat ini masih ada yang belum terpenuhi. yah, lebih tepatnya cita-cita saya hingga akhir tahun ini. ada dua hal yang sebenarnya sudah saya rencanakan dilakukan di tahun ini, yaitu: mendaki gunung Slamet dan berorasi di depan massa aksi.

kenapa dan bagaimana bisa saya ingin kedua hal ini?

gunung
yah, mendaki gunung bagi saya memiliki makna yang mendalam. ketika akan naik gunung saya harus punya persiapan. ketika berjalan menyusuri menuju puncak, saya harus bisa bertahan. padahal ketika mencapai puncak, bisa jadi hanya gumpalan awan dan keindahan kabut yang saya temui. namun, itu semua akan menjadi sangat menakjubkan dan berhasil menghilangkan semua lelah yang dirasa. subhanllah… Allah begitu Maha Indah dan Maha Kuasa atas Penciptaan-Nya. setiap jejak mendaki selalu dilandasi semangat dan motivasi mencapai puncak. saya rindu masa-masa dimana saya begitu antusias berkompetisi dan optimis memandang hidup saya. saya rindu sebagai individu yang hangat dan dapat dipercaya. saya rindu menjadi seseorang yang bisa dimintai bantuan kapanpun. nah, prototipe-nya bagi saya ada pada saat mendaki gunung, baik pada saat mencapai puncak maupun ketika dalam perjalanan pendakian.

orasi
lalu kenapa saya ingin orasi? bagi saya, sebuah pencapaian adalah ketika saya berhasil berbicara di depan orang banyak. namun, bukan hanya untuk presentasi atau berceramah. yang belum pernah saya lakukan adalah berorasi. saya membayangkan begitu sulitnya berorasi karena penuh dengan kata-kata yang mampu menyihir massa untuk tetap bertahan menjadi massa aksi. selain itu, harus mampu memberikan pemahaman pada mereka dan tentunya membakar semangat massa aksi. yah, di atas mobil sound atau podium saya ingin suara saya lantang terdengar, tidak malu-malu, tidak ragu-ragu, dan menjadi bekal tambahan semangat untuk memperjuangkan isu yang dibawa sebagaimana Soekarno, tokoh idola saya, menyeru idelismenya kepada rakyat Indonesia.

semoga saya dapat segera mencapai kedua hal ini sebelum saya pensiun sebagai mahasiswa. semoga saya pun bisa terus melakukan dua hal ini selama saya masih mampu, meski saya telah menikah. semoga saya tetap menjadi aktivis masyarakat yang memperjuangkan kepentingan mereka 🙂