Dialog Tokoh : “Cracking Zone”

Leader adalah orang yang paham visi, memiliki semangat untuk mencapainya, dan dapat mempengaruhi orang lain dalam mencapai tujuannya, serta berkontribusi di mana pun dan kapan pun.

Gambar

Dialog bersama bapak Ir. Hasnul Suhaimi adalah satu dialog yang sangat menarik. Ia selaku direktur PT. XL Axiata, terhitung sukses membawa XL menjadi salah satu produk yang diperhitungkan pasar saat ini. Hal ini tidak lepas dari strategi perusahaan yang ia lakukan dan gaya kepemimpinan uniknya. Menurutnya, perubahan adalah hal mutlak yang tidak bisa dihindari. Ia menyampaikan dalam presentasinya bahwa semakin hari, perubahan semakin tidak bisa dihindarkan. Maka, dibutuhkan adaptasi agar proses perubahan itu dapat kita lalui menjadi sukses yang kita capai. Seringkali kita merasa putus asa dengan apa yang kita lakukan karena kita merasa tidak bisa mengikuti perubahan tersebut. Namun, teruslah bergerak meski perlahan. Terus asah potensi kita karena kita dan bersabar menjalaninya. Jangan lupa, tetaplah humble dan rendah hati jika kita sudah di atas tampuk kepemimpinan.

Bapak Hasnul Suhaimi, menjelaskan beberapa isu yang berkembang dalam masyarakat terkait dikotomi bisnis. Pertama, kepentingan perusahaan vs kepentingan masyarakat. Dalam hal ini, kedua hal tersebut tidaklah patut dibenturkan karena keduanya dapat saling mendukung. Oleh karena itu, XL mencoba melakukan hal-hal yang memang dapat dirasakan manfaatnya oleh perusahaan dan masyarakat. Xl memberikan layanan gratis telpon pada jam malam untuk para pekerja malam. Kemudian, XL memberikan tarif harga yang sangat murah untuk sms dan menelepon sesama XL agar masyarakat Indonesia lebih sering menelepon, tidak takut kemahalan, dan terbangunnya komunikasi yang lebih baik antaranggota masyarakat. Selain itu, kepemimpinan yang beroreintasi tugas dengan kesejahteraan karyawan sudah selayaknya menjadi simbiosis mutualisme. Manajemen dan karyawan yang kreatif serta memiliki etos kerja tinggi tidak akan mengalami dikotomi kepentingan. Cara pemimpin pak Hasnul yang luwes, akrab, dan setara membuat karyawan bekerja dengan nyaman serta berlomba memunculkan kreatifitasnya.

Kedua, mulailah segala sesuatu dengan visi. Visi menjadi hal yang begitu penting karena visi dapat menjadi pedoman, arah, tujuan, maupun target kita dalam melangkah. Jangan sampai kita tidak tahu mau kemana kita melangkah apalagi sudah di tengah jalan. Visi membuat kita lebih termotivasi dan jelas dalam melangkah. Perlu juga membuat visi yang mudah diingat untuk memudahkan kita. Misalnya visi XL semasa kepemimpinannya adalah 1-2-3. Selama 3 tahun menjadi nomor 2 dengan kualitas nomor 1. Dengan mengetahui medan, kompetitor, kualitas kompetitor, posisi kita di pasar, dan strategi ditambah inovasi pemikiran akan membuat kita lebih matang mengejawantahkan visi kita. Sehingga sebuah visi bukan hanya menjadi angan-angan yang tidak bisa diraih, melainkan juga menjadi pemacu kita bergerak karena kita dengan yakin mencapai visi kita.

Ketiga, realita. Dalam hidup ini, ternyata sangat sulit untuk bisa menentukan profit, kompetitor, dan kebutuhan masyarakat. Akan ada saja pertimbangan yang membuat kita harus memilih mana yang akan diutamakan. Namun, buatlah strategi yang apik untuk menanggulanginya agar kita dapat mencaai visi kita. Misalnya, XL tetap memutuskan nelpon dengan 100 rupiah permeit, ketika semua operator rata-rata1500an rupiah. Daya beli masyarakat juga 1500 rupiah. Tapi XL harus jadi nomor 2 dalam 3 tahun ini. akhirnya, strateginya adalah tetap dengan 100 rupiah per menit setelah sekian menit, dan sebagainya. Dari strategi, yang penting lakukan saja dulu!

Setelah rapat strategi selesai, persiapkan teknisnya dengan matang dan tetapkan waktunya. Kemudian, kenali produk XL bagaimana sifatnya serta kenali etos kerja XL tersebut. Ethos Kerja XL adalah ibadah, pelayanan masyarakat, kontribusi perusahaan, menghidupi keluarga, dan kepuasan pribadi (esteem).

Keempat, manajemen tugas vs orang. Kedua hal tersebut juga perlu sejalan. Cara pandang penjualan yang kuno mengatakan bagaimana pekerja/ karyawan harus menjual produk, sekarang, tujuan apa, dan sebagainya yang sifatnya itu cenderung langsung menyuruh. Namun, paradigma sekarang harus bisa diubah bahwa karyawan harus paham apa yang mereka lakukan, kenapa mereka harus menjualnya, berapa targetan perusahaan, dan sebagainya. Sehingga hal ini mendorong karyawan bekerja dengan pemahaman dan merasa dilibatkan.

Pembahasan selanjutnya adalah mengenai cracking zone, yaitu cara yang lebih kreatif dan lebih keras. Pertimbangan masalah harga menjadi satu hal yang perlu diinovasi agar produk kita dapat bersaing dan keuntungan perusahaan tetap meningkat. Buatlah iklan yang menarik. Coba saja! Kalau iklan sensasional kita tidak banyak menuai protes atau hanya sedikit, tetap bertahan. Namun, jika sudah banyak komplain, boleh dipertimbangkan untuk diturunkan atau tidak. Kemudian, masalah kreatifitas adalah hal unik yang bisa datang darimana saja. Karena itu, jangan anggap remeh bawahan kita. Siapapun dia bisa jadi partner kerja. Ide-ide besar juga bisa berasal dari mereka. Jadi, tetap bangun hubungan baik dengan para karyawan.

Dalam presentasi selanjutnya, bapak Hasnul menjelaskan mengenai apa arti leadership? Leader adalah orang yang paham visi, memiliki semangat untuk mencapainya, dan mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuannya, serta berkontribusi di mana pun dan kapan pun. Ketika seseorang menjadi pemimpin, dia perlu membentuk dirinya untuk memenuhi beberapa kriteria. Yaitu secara fisik, intelektual, emosional-sosial, dan moral-personal. Paling tidak, dia harus sehat, memiliki fisik yang baik, bersih, dan sebagainya. Dia juga berwawasan luas, kutu buku, gemar menimba ilmu. Dia harus bisa mengontrol emosinya dan berlaku tepat pada sesama. Ia juga harus memiliki sifat bertanggungjawab terhadap moral atau aturan yang ada serta memiliki prinsip kebaikan yang kokoh.

Akhirnya, pak Hasnul berpesan bahwa setiap orang perlu melalui tahapan berikut ini hingga ia bisa mencapai visinya. Yaitu, knowledge. Artinya, ia harus berpengetahuan, cerdas, dan paham perkembangan serta update isu teraktual. Kedua, skill. Ia harus memiliki kemampuan organisasi yang baik, komunikasi, negosiasi, debat, dan keterampilan lain yang dibutuhkan. Ketiga, manajemen. Ia juga harus dapat bekerja dalam tim dan dapat mengorganisi orang lain. Kemudian, keempat, teamwork. Hal ini perlu dibangun bukan hanya atasan dengan bawahan melainkan antarunit karyawan sendiri. Terakhir, adalah change! Perubahan terhadap pola pikir kita yang dulu menuju pola pikir yang lebih kreatif dan berorientasi pada visi, yang akhirnya membuat tercapaianya visi kita. Dalam mencapai kelima hal tersebut, perlu dilakukan secara progresif dan berkesinambungan serta tetap menjaga diri menjadi humble.