Dialog Tokoh ”Outliers: Amplifying the Wonders”

Gambar

Dalam keterbatasannya Gol A Gong berhasil menampik semua anggapan buruk tentang orang cacat. Buku membuatnya lupa bahwa ia cacat. Buku adalah kecintaan dan segalanya bagi Gol A Gong. Buku  membuat pintar, buku membuat berwawasan luas, buku membuat candu, dan buku bisa mengubah hidup jadi lebih baik.

Gol A Gong yang memiliki nama asli Heri Hendrayana Harris. Lahir di Purwakarta, tanggal 15 Agustus 1963. Memiliki satu istri, yaitu Tyas Tatanka serta tiga orang anak, yaitu Bela, Abi, Jordi, dan Kaka. Gol A Gong terinspirasi dari ayahnya yang menyebutkan kata ‘gol’ atas tercapaianya cita-citanya, A yang merujuk pada nama ‘Allah’, dan gong yang terinspirasi dari ibunya karena ibunya mengatakan bahwa apa yang ia lakukan hendaknya memberikan getaran atau dampak kebermanfaatan bagi orang lain. Sehingga ia merangkainya menjadi Gol A Gong. Dengan satu tangannya, ia berhasil menorehkan karya dengan menulis lebih dari 125 novel dan ratusan skenario film. Beberapa dari novelnya adalah Balada Si Roy, Kupu-Kupu Pelangi, Kepada-Mu Aku Bersimpuh, Biarkan Aku Jadi Milik-Mu, Lewat Tengah Malam (adaptasi dari film 2007 berjudul sama bersama Ibnu Adam Aviciena) dan lain-lain. Ia menulis cerita pendek juga terdapat di berbagai antologi dan berhasil mendirikan Rumah Dunia, sebagai tempat membaca bagi anak-anak di daerah sekitarnya.

Awal mula kecintaannya pada buku adalah setelah jatuh dari pohon yang membuat tangannya tak bisa lagi diselamatkan. Lalu ayahnya mengenalkan ia pada buku dan novel. Ia pun berkata “Ini buku, bacalah! Maka kamu akan lupa, bahwa  kamu cacat!” Hal inilah yang kemudian ia tekuni. Ia tekun membaca buku dan novel serta buku apapun juga. Ia begitu mencintai buku, beberapa ungkapan yang ia katakan untuk buku antara lain: Buku itu hati, maka cintailah! Buku itu peradaban, maka masuklah! Buku itu wanita, maka nikahi! Buku itu jiwa, maka dirikan perpustakaan. Buku itu pelangi, maka cintailah hujan! Buku itu masa lalu, maka hargai waktu! Buku itu puisi, maka berbahagialah! Buku itu prosa, maka bergembiralah! Buku itu tuntunan, maka kenali nabi! BUKU ITU SEGALAGALANYA, MAKA DIRIKANLAH TAMAN BACAAN MASYARAKAT.

Bagi Gol A Gong, buku adalah segalanya. Ia juga menularkan kebiasaan ini pertama kali pada keluarga merka. Istri dan anak pertamanya pun sudah menghasilkan beberapa judul buku. Kecintaannya pada buklah yang akhirnya membuat ia mendirikan taman bacaan masyarakat. Dengan prisip berbagi agar masyarakat juga tahu dan merasakan betapa nikmatnya membaca. Pada tahun 1998 – 2000 bersama istri tercintanya, ia mendirikan taman bacaan di garasi dan teras rumah. Kemudian tahun 2001 ia membeli tanah seluas 1000 m2 untuk Rumah Dunia. Baginya, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) adalah ibadah, tidak sekedar  amanat UUD 1945. Ia juga menggunakan prinsip zakat sebesar 2,5% dan tentunya rasa cinta kepada anak-anak sebagai alasan atau landasan ia bergerak.

Ada beberapa program yang ia buat di TBM, antara lain gempa literasi. Gempa literasi adalah upaya penghancuran kebodohan dan membantuk peradaban baru, yaitu peradaban yang gempar membaca. Beberapa kegiatan yang diadakan dalam ”gempa literasi” berupa: orasi literasi, pertunjukkan seni, aneka lomba literasi, wakaf buku, pelatihan menulis, bazaar buku, dan bedah/peluncuran buku. Ada banyak penulis buku dari tingkat ekonomi rendah yang menjadi penulis. Mereka juga mengalami perubahan dengan menjadi penulis atau wartawan setelah tinggal di rumah dunia ini. Bahkan ada yang berhasil lulus S2 di Leiden, Belanda dengan terus membaca buku dan kini menjaid presiden ke-3 di rumah dunia.

Seorang pedagang gorengan yang kini jadi penulis mengatakan bahwa membaca bisa mengubah hidup menjadi lebih baik. Dia bergabung di Kelas Menulis angkatan 9. Kemudian sejak tahun Februari 2010 jadi wartawan Banten Raya Post untuk wilayah Banten Selatan. Seorang pedagang nasi uduk bisa meraih UNICEF Award for Indonesian Young Writer 2004 sekaligus penulis 11 novel best seller karena membaca. Ada lagi, seorang mantan pemulung yang kini S1 di Untirta telah berhasil menulis esai dan cerpen di koran lokal serta majalah nasional. Bagi mereka membaca buku adalah kecintaan dan segalanya. Buku itu membuat pintar, buku membuat kita berwawasan luas, buku itu candu, dan buku bisa mengubah hidup mereka jadi lebih baik. Jadi, gemarlah membaca dan sebarkan virus gemar membaca ini pada orang di sekeliling kita.

Gambar