Gerimis Pagi Ini

Pagi hari ini terlihat lebih cerah dari biasanya. awan bersahabat lembut dan langit tetap berwarna biru keputihan. hawa pagi ini tidak begitu menyengat bahkan dibumbui angin semilir.

Janur kuning nampak melengkung di kejauhan tepat di bawah kolong langit yang cerah. tinggi ia menjulang sehingga lengkungannya terlihat anggun dan angkub menyita pandang. dari tempatku berdiri, aku bisa melihat orang-orang berkumpul dalam syahdu bahagia. bercanda tawa dan saling menyelamati kepada kedua mempelai. sangat serasi. cantik dan tampan dibalut gaun keemasan. dua sejoli yang dinantikan hari ini. dua sejoli yang membuat orang terpana. dua orang yang membuatku harus bersabar menghadapi kenyataan ini.

akad telah selesai diucap. langit, bumi, matahari, malaikat, dan seluruh makhluk di muka bumi menjadi saksi. sebuah pernyataan yang membuat haram menjadi halal, yang dilarang menjadi dianjurkan, dalam rangkaian peristiwa bernama pernikahan.

Vera memandangku sesaat, lalu ia kembali memandang sepasang mempelai di atas panggung, “Apa kau baik-baik saja, Nan”
“Bagaimana menurutmu, Ver?”
“Aku tak tahu, karena kau begitu lihai menyembunyikan perasaanmu. bertopeng.”
“Ahhh kau ini… bisa saja.” hahahaha gelak tawaku bernada
“Ya..aku sahabat baikmu, Hanan. aku paham bagaimana kau”
Diam dan hening…aku berpikir sejenak, “Aku tak merasa lebih baik kini. tapi tunggu, sepertinya akan lebih tepat dikatakan jika aku katakan bahwa aku lebih begini.”
“Apa kau marah? kesal?”
“Emm tidak. hanya merasa bahwa dunia sedang mengejek kebodohanku”
“Bodoh dalam hal?”
“Bodoh, karena aku berharap pada yang tak semestinya belum boleh aku harapkan”
“Nan, dunia memang tak selalu seperti yang kau kehendaki. ia punya kuasa jauh lebih besar darimu. tapi ia juga punya keajaiban yang sering kali lebih indah dari yang kau pikir. tetaplah tegar sebagaimana kau biasanya. karena masih ada aku, sahabatmu, dan orang-orang yang menyayangimu.”

perlahan rintik hujan turun. gerimis di pagi hari yang cerah menggantikan rintik air dari mataku.