Waktu : Berharga pada Setiap Detiknya

Sebuah film ‘In Time’ merupakan film yang memberikan gambaran baru bagi saya ketika waktu adalah benar-benar menjadi uang. semua transaksi dalam kehidupan yang mereka lalui menggunakan waktu. Membeli barang, naik kendaraan, menerima gaji, bisa juga mereka berhutang waktu, mendepositkan waktu, mencuri waktu, termasuk memberikan waktu pada orang lain. Waktu sebagai alat tukar, bisa dibagikan, bisa diminta, dan bahkan bisa membunuh kita. Bagaimana bila seorang yang kaya diukur dari banyaknya waktu yang dimilikinya? Bagaimana  seorang bergantung hidup matinya dari waktu yang ia punya? dan bagaimana bisa kriminalitas terjadi karena perebutan waktu antara merekai?

Waktu sebagaimana sudah kita tahu bahwa ia tak bisa mundur tak bisa juga dipercepat. Waktu begitu saja berjalan. Dalam film ini setiap manusia dilahirkan dengan jatah usia 25 tahun dan penuaan berhenti pada usia 25 tahun. jadi, meski usia kita 50, 75, bahkan 100 tahun, fisiknya tetap terlihat 25 tahun. Seorang laki-laki tua berusia 105 tahun tidak pernah lepas dari pengejaran para manusia yang menginginkan waktu hidup yang lebih lama. Suatu malam, seorang pemuda  berusia 28 tahun, hidup sederhana dengan waktu terbatas yang ia miliki menyelamatkannya dari pengejaran tersebut. Sebagai tanda terima kasih sang tua, ia memberikan waktu 1 abad yang ia miliki pada pemuda itu tanpa sepengetahuan pemuda itu, saat pemuda itu tertidur melalui pergelangan tangan sang tua kepada pemuda. Selain sebagai hadiah, ia melakukannya karena ia ingin  mati. ia mengatakan bahwa usianya telah tua, ia telah lama hidup, meski fisiknya mungkin belum lelah, ia butuh mati karena fikirannya telah lelah.

Keesokan hari, pemuda tersadar dari tidurnya dan mendapati sang tua tengah duduk di jembatan seberang bersiap menjatuhkan diri ke sungai. waktu seabad yang tadinya dimiliki telah diserahkan pada pemuda. kini ia hanya memiliki 5 detik terakhir sebelum kematiannya. pemuda itu terlambat datang menolong sehingga ia hanya bisa melihat mayatnya jatuh tergeletak di bawah sungai, mati kehabisan waktu. kejadian inilah yang mengubah hidup ia selanjutnya.

Bila sebelumnya ia tak bisa tidur dan melakukan berbagai hal dengan cepat karena khawatir kehabisan waktu, kini ia justru menghabiskan waktu seabadnya dengan melakukan berbagai hal dengan ‘tidak cepat’. ia mendepositkan waktu senilai berbulan-bulan, ia menyewa mobil, menyewa hotel termewah senilai beberapa tahun, ia juga bermain judi dengan taruhan mencapai 50-an tahun. malam itu, ia menang judi dengan konglomerat, pemilik bank waktu, hingga taruhannya mencapai nilai 1100 tahun. namun pada malam yang sama, aparat penjaga waktu menangkapnya atas tuduhan pencurian waktu terhadap sang tua yang mati kehabisan waktu. pembelaannya tidak diterima sehingga waktunya disita. ia hanya disisakan waktu selama beberapa menit saja. akhirnya ia melarikan diri bersama putri konglomerat yang baru ia kenal di tempat judi tersebut sebagai sandera.

Singkat cerita, dalam pelarian mereka berdua, gerombolan pencuri waktu yang berhasil membuat mobil mereka kecelakaan. keduanya pingsan dan gerombolan  pencuri waktu itu merampok waktu perempuan tersebut senilai ratusan tahun. setelah tersadar, kedunya hanya memiliki waktu setengah jam. mereka melakukan apapun, termasuk menjual berlian si perempuan senilai 2 hari, untuk bertahan hidup. pemuda yang menyandra perempuan itu juga meminta tebusan 1000 tahun kepada ayahnya. namun, tidak diberikan. akhirnya mereka merampok kesana kemari termasuk merampok bank milik konglomerat, ayahnya. usai merampok, mereka berdua mau membagikan hasil  rampokannya pada masyarakat miskin di sekitar mereka yang kekurangan waktu. mereka berdua membagikannya pada yang membutuhkan gratis tanpa bunga pinjaman.

ya, mungkin saya cukupkan penjelasan potongan film tersebut. yang saya dapatkan adalah pelajaran bahwa waktu itu sangat berharga. apa jadinya jika dunia ini pun bergantung seluruhnya pada waktu. betapa manusia akan bisa memaanfaatkan waktu sebaik-baiknya, melakukan hal-hal produktif yang ia mampu. bekerja lebih keras untuk mendapat upah waktu yang lebih besar. manusia tidak akan membuangnya dengan melakukan hal yang sia-sia. manusia tidak akan melakukan hal bodoh yang menyita waktunya meski sedetik sekalipun.

Di satu sisi, bisa jadi setiap malam saya tak bisa tidur karena khawatir kehabisan waktu atau ada orang yang mengambil waktu saya. tidak juga terbayangkan mayat-mayat tergeletak tidak ada yang mengurus karena masing-masing sibuk dengan waktunya sendiri. karena masing-masing manusia khawatir kehilangan waktunya. setiap orang pun bisa jadi mengincar orang-orang yang kaya akan waktu. kriminalitas tinggi karena perebutan waktu.

Nah, itu pelajaran yang bisa saya ambil dari film tersebut. meski tetap saja nilai-nilai kapitalisme masih mewarnai, film ini cukup menarik dan mengingatkan saya akan berharganya waktu. jika semua bergantung waktu, apa masih saya berbuat baik? apa masih bisa saya terlindung dari perbuatan jahat yang memaksa? apa saya bisa hidup tenang dan bersahabat? sebelum itu semua terjadi, bagi saya kini adalah berubah dengan bergerak lebih cepat, memanfaatkan waktu dengan lebih produktif, dan beramal dengan lebih baik sebelum saya kehabisan waktu lalu mati.