Catatan Kadept Kastrat 2012

Menjadi bagian dari kastrat SALAM UI adalah hal baru bagi saya. Tidak diperkirakan sebelumnya bahwa saya dapat menjadi ketua departemen pada tahun 2012 dengan kondisi saya sebagai angkatan 2010 dan baru masuk aktif sebagai anggota SALAM UI. Saya harus menggantikan kepala departemen Kajian dan Aksi Strategis sebelumnya yang mengundurkan diri. Hal ini berat bagi saya karena saya menjalankan apa yang tidak saya siapkan dengan matang. Saya merasa bersalah karena menerima amanah yang saya tahu tidak bisa melakukannya secara optimal.

Berbagai pergolakan dalam diri dan organisasi muncul dengan minimalnya sumber daya yang membantu menyelesaikan. Deputi saya ada kepentingan selama enam bulan tersebut. Mereka pun masih menganggap memiliki program kerja yang sama seperti awal tahun sehingga tidak merasa harus bertanggung jawab dengan kondisi kritis ini, saat saya menggantikan.

Hadirnya Salam Muda Mandiri (SALMAN) memberikan harapan baru dan udara segar karena ada sumber daya tambahan dalam kastrat. Namun, tidak semudah itu ternyata dalam mengkoordinirnya. Program kerja yang tidak sepadat di awal, kekompakan tim Salman yang kurang, waktu kumpul yang sulit karena kuliah dan berbagai kesibukan, menambah masalah baru. Anggota kastrat Salam i5 yang sudah tidak utuh ditambah Salman yang yang butuh dijaga keberadaannya menambah beban dalam mengampu kastrat. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sudah tidak bisa mengangkat air 3 ember, masih saja ditambah menjadi 6 ember.

Yang awalnya saya pikir akan bisa menjaga sisa-sisa kastrat yang rapuh, namun justru kerobohan itu sendiri yang saya hadapi. Yang awalnya saya pikir, akan bisa mempertahankan kontribusi dalam departemen kastrat, nyatanya saya tidak berdaya dengan kondisi tersebut. Sangat buruk bagi saya. Dalam kondisi demikian, saya pun tidak bisa mengharapkan bantuan pengurus lain karena mereka pun punya tanggung jawab masing-masing. Entah kenapa pula, ketika saya meminta tolong atau bantuan pada pengurus lain dalam bentuk ide, tenaga, maupun pendampingan, saya tidak mendapat jawaban atas permintaan tersebut. Padahal akan selalu ada tuntutan memberikan performa yang baik dari saya maupun dari departemen kastrat kepada publik. Demikian juga dalam kepengurusan enam bulan ini dari ketua SALAM, pengurus lain, serta warga UI.

Bagi saya, ini adalah catatan buruk pengalaman organisasi saya. Namun, setiap kisah hidup pasti ada hikmahnya, demikian juga dengan pengalaman ini. Seorang teman pernah berkata pada saya, “Jika kastrat menghalangi kamu untuk berprestasi dan berkontribusi, tinggalkan saja”. Teman yang lain pun pernah mengatakan kepada saya, “Apa saja yang sudah kamu lakukan di kastrat? Apa kamu berkembang di sana? Kamu juga tidak melakukan apa-apa kan selama ini?” Dua hal ini membuat saya membuka mata dan membuktikan diri bahwa saya bisa berkontribusi melakukan banyak hal di kastrat. Selama enam bulan inilah saya belajar dan berusaha bangkit dari keterpurukan. Hal ini saya lakukan sebagai pertanggungjawaban saya selaku hamba Allah yang memegang amanah menjadi kadept kastrat SALAM UI 2012.

Selaku ketua departemen selama enam bulan ini saya merasa menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas ketidakberesan, ketidakstabilan, dan ketidakberjalanan fungsi departemen ini. Saya yang paling bersalah dan saya sangat menyesali keberadaan serta kinerja saya. Mungkin ini karena kualitas diri saya yang belum mencukupi, proses belajar yang kurang, atau karena komitmen yang lemah terhadap kastrat.

Kastrat yang ingin saya wujudnya sebagai kastrat SALAM UI yang membumi -mengajak publik lebih aware terhadap isu keumatan- belum bisa dikatakan berhasil atau tidak hanya dari segi hasil. Bila ingin mengetahui hasil awareness publik apakah meningkat atau tidak dengan kastrat sekarang, perlu dilakukan penelitian menggunakan alat ukur tertentu. Namun, dari segi proses ‘pembumian’ itu, saya merasa belum optimal/ belum berhasil. Alasannya adalah saya belum merasa memberikan informasi mengenai isu keumatan pada sivitas secara intensif, belum melakukan pendekatan dengan publik secara personal maupun lembaga dalam rangka pencerdasan isu pada sivitas, dan belum melakukan sinergisasi kepada seluruh LDF, terutama yang memiliki departemen kajian strategis (FISIP, FE, FIK, FORMASI, FUKI, dsb).

Semoga pengalaman buruk atas kegagalan saya ini akan memicu saya melakukan hal-hal yang lebih baik di lain tempat dan di lain waktu. Cukup saya yang mengalaminya, semoga ke depan departemen kastrat kembali menjadi garda terdepan dalam pengawalan dan pemberitaan isu keumatan secara masif. Semoga pengalaman ini dapat memotivasi saya untuk terus belajar, mengenal, dan mencintai amanah yang diberikan pada saya. Saya percaya akan ada generasi pengganti yang lebih baik dari generasi saya. Bergerak atau tergantikan, nampaknya menjadi slogan yang patut diaktifkan untuk memotivasi saya dan departemen ini untuk terus bergerak meningkatkan kapasitas diri serta bergerak tanpa lelah untuk kepentingan umat ini.