Kepentingan

Bila kepentingan adalah sebuah makhluk busuk, maka akan segera aku hanguskan dari bumi ini. Bila kepentingan adalah sebuah sampah bau, bisa jadi akan kubakar hingga tak berbekas. Bila kepentingan adalah sebuah granat dengan daya ledak super, maka bisa jadi akan segera aku ledakan ia di tempat lapang tanpa manusia. Bila kepentingan adalah noda, maka akan aku usir segera dengen detergen ternama.

Bila kepentingan adalah lelaki buaya, maka akan kubenci selamanya. Bila kepentingan adalah burung gagak yang tak tahu diri, maka akan segera aku patahkan sayapnya. Bila kepentingan adalah sebuah elegi, maka aku biarkan ia terhanyut dalam kesedihan mendalamnya. Bila kepentingan itu sebuah kata, maka tak akan aku biarkan ia melesat sebelum aku pastikan bahwa ia bermakna konstruktif.

Bosan? Tentu. Jengah? Pasti. Mistrust? Jelas. Bagai mabuk aku tak sadarkan diri. Bagai tersesat aku bimbang, kemana berjalan dan berbuat. Yang aku hadapi, kepentingan para elit. Tidakkah rakyat dan kaum marginal menderita? Tidakkah para elit berempati pada mereka? Sayang, hati nurani mungkin tak begitu p.e.k.a menanggapinya.

Iklan