Setelah ini, apa?

Mungkin ini semua berawal dari ketidaktaatan. ketidakpercayaan. ketidakinginan untuk memilih taat pada pemimpin. Ini menjadi abu dan kabut yang membuat samar. Membuat ketidakjelasan atas sebuah kerja. Dakwah. Konon, kata ini yang melatarbelakangi semua. Melatarbelakangi gerak dan cita-cita yang masa depan.

Gejolak ini yang muncul. Tidak sepadan dan tidak sefrekuensi sehingga memunculkan kekaburan. Lihat saja, setelah ini mungkin bukan nama baik yang kuperoleh. Lihat saja, mungkin bukan kepercayaan dan kesantunan yang akan kudapatkan. Bisa jadi cacian, makian, kesinisan.

Dakwah. Konon, kata ini yang membuat kami bersatu. Tapi entah setelah ini. Apakah masih bertahan? Apakah masih selembut dahulu? Apakah masih sehangat dahulu? Ketika pengusiran sudah diputuskan. Padahal ide baru dan keinginan perubahan sudah dibulatkan. Hanya Allah yang akan tahu apa yang terjadi kemudian. Hanya Ia yang paham dan membuat skenario selanjutnya.

Bekerjalah kau dalam kerja-kerja dan amal-amal Allah. Meski tidak dalam golongan ini atau itu. Apakah setelah ini aku boleh berkata tentang ‘sakit hati’-ku? Apa setelah ini? Mestinya aku menjadi lebih baik, bukan lebih buruk. Namun,. aku hanya berharap obat hati pada Allah dan meletakkan kesakitan ini pada-Nya.

Iklan

Tetap Bergerak Meski Minoritas

Fenomena golonganminoritas-mayoritas di masyarakat dan dalam kehidupan kita, mau tidak mau harusdiakui keberadaannya. Secara langsung maupun tidak langsung, secara sadarataupun tidak sadar, dalam masyarakat terbentuk sebuah golongan yang dapat dikategorikansebagai mayoritas dan minoritas. Baik itu dalam pandangan makna yang berkonotasinegatif ataupun positif. Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, golongan yangdisebut mayoritas adalah jumlahorang terbanyak yang memperlihatkan ciri tertentu berdasarkan suatu patokandibandingkan dengan jumlah lain yang tidak memperlihatkan ciri itu. Sedangkan golonganyang termasuk minoritas adalah golongan sosial yang jumlah warganya jauh lebihkecil jika dibandingkan dengan golongan lain dalam suatu masyarakat. Bila bolehdisederhanakan, mayoritas adalah golongan yang biasanya lebih banyak, bisa jadilebih dominan, dan lebih menguasai. Sedangkan minoritas adalah golongan yanglebih sedikit, kecil, dan biasanya cenderung dipandang lebih rendah.

Manakah yang lebih berpengaruh? Dalaminteraksi sosial yang terjadi, masing-masing dari kedua golongan tersebut sebenarnyamemiliki pengaruh dan dapat saling mempengaruhi. Forsyth (2010) dalam bukunya, Group Dynamics,mendefinisikan pengaruh mayoritas sebagai pengaruh tekanan yang diberikan oleh bagianyang lebih besar dari suatu kelompok kepada anggota individu atau kepada bagiankecil faksi dalam kelompok tersebut. Sedangkan pengaruh minoritas didefinisikansebagai pengaruh tekanan yang diberikan oleh tunggal individu atau faksi yanglebih kecil dari suatu kelompok terhadap anggota mayoritas.

Kedua golongan sebenarnya memiliki hak hidup yang sama sebagaimanusia. Namun demikian, dalam praktik di lapangan, kelompok minoritas tidakjarang diperlakukan secara diskriminatif dalam masyarakat. Tidak jarang pula kaumminoritas diejek atau dilecehkan bahkan ditolak dari kelompoknya. Dalam banyakkasus, anggota suatu kelompok bisa berubah karena mendapat tekanan langsungdari kelompok mayoritas (mayoritas yang mempengaruhi). Namun, ada juga kelompokminoritas yang berhasil mengubah atau mempengaruhi kelompok mayoritas, meskihal tersebut langka terjadi.

Hasil penelitianMoscovici mengenai pengaruh minoritas tentang conversion theory, membuktikan bahwa minoritas dapat mempengaruhimayoritas, namun hanya pada waktu tertentu dan dengan tingkah laku tertentu.Salah satu yang menjadi faktor penting adalah konsistensi(McLeod, 2007).Levinedan Russo (dalam Forsyth, 2010) punmenambahkan bahwa secara umum, kaum minoritas akan lebih berpengaruh ketikamereka dianggap sebagai pemain tim yangberkomitmen, kompeten, dan mendukung kelompok tersebut.Jadi, salah satu hal lagi yang dapat menjadikan golongan minoritas akan lebihberpengaruh adalah jika termasuk orang yang berkompeten. Dari kedua penelitianini, dapat disimpulkan bahwa konsistensi dan kompetensi dari golongan minoritassangat dibutuhkan jika ingin mempengaruhi mayoritas.

Siapapun bagi orang-orang yang ingin melakukan perubahan namun masih menjadi minoritas, tidak perlu risau. Tetaplah konsisten dan terus berlatih diri agar menjadi semakin kompeten dalam bidang perubahan tersebut. Tetap bergerak, meski minoritas. Lakukan saja. Itulah hak generasi kita.

Teknik Meresensi Buku

Resensi buku adalah meninjau, menilai dan membahas isi suatu buku, sehingga pemikiran penulis dapat dipahami dengan baik oleh khalayak pembaca sebagai arena pertukaran informasi dan pengembangan ilmu pengetahuan atau biasa juga disebut book review

Resensi buku menjadi penting karena kita dapat menyarikan pemikiran seorang penulis dengan cara cepat dan instan, mempercepat proses pertukaran pemikiran dan pengembangan informasi/ilmu pengetahuan, mendokumentasikan jejak pemikiran seorang penulis dalam sejarah perkembangan informasi/ilmu pengetahuan, menilai pengaruh pemikiran seorang terhadap kehidupan masyarakat yang lebih luas, dan mengembangkan budaya kritis dalam perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan.

Langkah praktis menulis resensi buku adalah BACA buku secara cepat (speed reading) dengan memberi tandai bagian yang penting atau yang menarik perhatian. Lalu temukan POKOK PIKIRAN atau argumentasi utama penulis lalu bandingkan apa bedanya pemikiran penulis itu dengan penulis lain. Jelaskan METODOLOGI yang dipakai penulis untuk sampai pada pikiran/argumentasi tadi, hal ini bisa dengan mengaitkan dengan sistematika penulisan yang dipakai dalam buku. Perkenalkan dan diskusikan POSISI PENULIS di tengah khalayak penulis/pemikir lain (apa motivasi dia menulis buku itu). Cermati kekuatan dan kelemahan ISI buku, kemudian juga FORMAT penulisan dan pencetakannya (apa arti penting buku itu buat pembaca). Terakhir, gali INFORMASI LAIN yang menarik, misalnya: berapa harganya, proses penulisannya, dari mana ide awal berasal, dll

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dalam kita meresensi buku adalah memperkuat PEMAHAMAN atas suatu masalah. Bila ada kutipan dari buku yang kita resensi lalu dikoleksi dengan tertib bisa menjadi CATATAN KAKI dalam karya ilmiah. Selain itu, daftar buku yang diresensi bisa menjadi DAFTAR RUJUKAN dalam karya ilmiah. Ada banyak manfaat kita meresensi buku. Mari meresensi sesegera dan sebanyak mungkin. Semoga aktivitas resensi Anda menyenangkan!

Berlawanan dalam Hidup

Berbagai masalah psikologis bisa terjadi pada diri kita. Kapan pun itu. Sikap tidak suka pada dunia, tidak merasa aman di dunia, menyalahkan diri sendiri berlebihan, bahkan ingin meninggalkan dunia. Bisa jadi itu wajar, bagi sebagian orang yang sering mengalaminya. Apakah itu Anda? Saya harap tidak.

Dalam hidup, akan selalu ada hambatan, ujian, dan berbagai bentuk zona tidak nyaman lain yang mungkin akan kita temui. Kemalasan, keajegan, keengganan, mungkin tetap menjadi teman sejati atas kehidupan harian kita. Namun, apakah hidup selalu dalam kutub negatif?

Dunia ini diciptakan seimbang. Yin dan yang, hitam dan putih, baik dan buruk, kiri dan kanan, hidup dan mati, sehat dan sakit, luas dan sempit, dan sebagainya. Semua memiliki rival dan kebalikannya. Begitu juga hidup dalam kutub negatif, ada kutub positif yang tentu juga ada. Jika kini sedang bersedih, satu jam nanti bisa jadi kita sudah tertawa.

Begitupun ketika ada keputusasaan, pun in-sya Allah ada harapan di depan. Sebagaimana Allah berfirman, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah : 8). Artinya, percayalah bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Lalu, bagaimana hal-hal negatif itu bisa berubah menjadi baik? Allah menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sebuah kaum hingga mereka mengubah apapun yang ada pada diri mereka.” (QS Ar Ra’du : 11). Kuncinya adalah diri kita sendiri.

Kita yang mengubahnya dengan mengendalikan pikiran kita, mengubah persepsi kita, mengubah tingkah laku kita, dan mengubah kebiasaan kita, menjadi hal yang lebih positif. Jika kini Anda sedang bersedih, putus asa, memiliki kesulitan dalam hidup dalam bentuk apapun itu, percayalah akan selalu ada jalan. Asal Anda mau berubah dan bergerak mencari jalan keluarnya.

Setelah lorong yang gelap, akan ada cahaya di ujungnya. Teruslah berjalan dengan ketekunan dan kesabaran, mengharap keridhoan Allah subhanahu wata’ala. Wallahu’alam bishawab.