Sederhana yang Bermakna

Bicara hari ini tentang ‘pengaruh’ dan ‘cita-cita tinggi’. Seperti biasa, pencarian definisi dan berpikir ala filsafat yang kusuka membuat dua frasa ini sangat menarik dibiacarakan :p

Apa makna pengaruh sebenarnya? Apakah sebuah jarak -sejauh apa kau bisa menjangkau? Apakah sebuah gema -seberapa besar kau bisa menggetarkan? Apakah sebuah gelombang -sedalam apa kau bisa mengarungi?

Jika dikatakan dalam istilah lain, apakah pengaruh artinya harus menjadi orang yang ada di posisi tertinggi? atau menjadi orang di posisi terdekat? atau barangkali cukup menjadi orang yang selalu diingat meski jarak itu jauh?

Seperti halnya cita-cita tinggi. Apakah harus bercita-cita tinggi seperti presiden? Direktur? Menteri? Apa tidak bisa cita-cita tinggi disematkan dalam frasa guru TK, misalnya?

Yang saya pikir, bukanlah demikian. Ini tentang pengaruh yang menunjukkan seberapa besar manfaat kita untuk orang di sekitar kita. Seberapa kita bisa terhubung dengannya (mereka) meski jarak kita jauh, seberapa ia mengamalkan apa yang mungkin kita ajarkan/contohkan, seberapa ia terinspirasi menjadi lebih baik dalam beramal, seberapa ia teringat akan nasihat yang mungkin kita berikan, dan sebagainya.

Cita-cita tinggi juga demikian. Tidak harus menjadi orang dengan status tinggi atau mungkin borju. Tapi ia tak memberi makna sama sekali pada orang di sekitarnya. Jika menjadi guru TK bisa membuat anak didiknya menjadi orang berbudi, jika menjadi guru SD dapat menginspirasi anak didiknya menjadi orang bijak, mengapa harus menjadi presiden yang tak peduli pada rakyatnya? Tak apa sederhana, namun bisa bermakna. Daripada sebaliknya. Apalagi jika bisa luar biasa dengan makna yang lebih sempurna. Itu lebih istimewa.

Semoga dapat menjadi pengingat, terutama bagi diri saya sendiri, agar bisa lebih bermanfaat.

Iklan

PPSDMS dan Putri Malu

malu

Setahun sudah keberadaan saya di asrama PPSDMS. Banyak canda, tawa, tangis, dan haru yang mewarnai sepanjang hari. Saya semakin banyak mengenal dan mengetahui karakter manusia. Mungkin memang Allah memberikan tempat ini agar saya sekaligus dapat belajar lebih dalam tentang manusia sebagaimana ilmu yang sedang saya pelajari di bangku kuliah saat ini, psikologi. Tempat ini bisa jadi bukan tempat biasa -tergantung siapa yang memaknai dan apa yang dimaknainya. Orang yang bersinggungan dengan anak PPSDMS di sekitarnya, akan tahu baik buruk sifatnya, kemampuannya, dan manfaat ia bagi sekitar. Namun, bila ia tidak bersinggungan tentu tidak akan tahu bagaimana tabiat anak PPSDMS. 

Bagi saya sendiri, asrama ini adalah tempat yang memang tidak biasa. Apa enaknya bergabung dalam sebuah rumah, sekamar enam orang, ada jadwal piket bersih-bersih dan memasak, sering berisik di kala malam, banyak aturan yang diterapkan, banyak capaian yang dituntut, banyak perbedaan pendapat, dan banyak masalah yang berpotensi muncul. Hal ini dapat berpotensi menjadi masalah bagi mereka yang mempermasalahkannya. Bagi mereka yang tidak suka dengan aturan dan keramaian, yang hanya ingin kebebasan, dan ingin bertindak semaunya sendiri. 

Kalau dikatakan tempat ini seperti penjara, ya bisa jadi. Kalau disebut kawah candradimuka, ya bisa juga. Di sini kami ditempa. Di sini kami dibina. Di sini kami dibiasakan. Di sini kami diberikan nilai. Aktivitas asrama yang menyita waktu, tentu. Aktivitas asrama yang mengganggu perhatian pada kuliah, itu sering. Aktivitas yang membuat belajar untuk ujian terhambat, itu bisa terjadi. Demikianlah kiranya jika hidup di asrama ini tanpa kerja keras dan pengelolaan waktu yang baik. Bagi saya, hal terpenting agar dapat bertahan adalah manajemen waktu dan komitmen.  

Selalu ada konsekuensi dari setiap keputusan. Memilih PPSDMS berarti pula memilih bersedia menerima konsekuensinya. Memilih PPSDMS berarti memilih menerima tanggung jawab yang disertakannya. Siap masuk PPSDMS berarti siap menjadi aktivis Islam, aktivis pergerakan, mahasiswa berprestasi, dan memiliki rasa kekeluargaan yang baik. Tidak ada yang boleh setengah-setengah karena totalitas adalah kekuatan dan motivasi yang membakar.

Setahun sudah saya di sini. Segala daya upaya dikerahkan untuk tetap bertahan. Penolakan yang muncul mulai terbiaskan dengan hal lain atas perenungan. Beberapa perubahan mulai terjadi. Salah satu hal yang semakin bertambah adalah rasa malu. Saya semakin malu jika saya bangun kesiangan karena muslim yang taat tidak solat subuh terlambat. Saya malu jika tak solat malam karena Rasulullah selalu solat malam hingga kakinya bengkak. Ia selalu bermunajat dan bermuhasabah pada Allah di kala sepertiga malam yang sunyi dan dingin. Saya malu jika berpakaian tidak sopan, pun malu tak berlaku santun karena Rasulullah selalu berpakaian sopan dan bersikap santun pada orang lain. 

Saya juga malu jika berbicara sebelum membaca karena muslim yang baik tak mengatakan apa yang tidak ia ketahui. Saya malu jika ditanya tentang sebuah masalah karena merasa masih kurang berilmu. Saya malu jika menyuruh tanpa melaksanakan karena Rasulullah selalu memberi keteladanan. Saya malu jika hanya berleha-leha tak serius dalam melakukan tugas karena kewajiban yang harus dilakukan lebih banyak dari waktu yang tersedia. Saya malu tak punya prestasi karena muslim yang baik akan selalu bergerak untuk berkarya. Saya malu jika membenci kawan karena Rasulullah selalu peduli dan berkasih sayang pada sesama. Saya malu jika masih sama dengan yang dulu karena orang yang beruntung selalu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.”  [HR.At-Tirmidzi]

Semoga demikian rasa malu ini bersemi. Hingga malu ini benar-benar pada Allah saja. Bukan rasa malu yang menyebabkan diri ini menyia-nyiakan hak Allah sehingga beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agama. Bukan rasa malu yang membuat malu untuk menuntut ilmu, malu membaca Alqur-an, malu untuk shalat berjama’ah bersama kaum muslimin, malu memakai pakaian muslimah yang syar’i, malu mensyiarkan Islam, dan malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang muslim. Yang demikian itu adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. 

 

Malu, malu, malu. Ia bagai pelita yang membangunkan kebaikan. Bagai ruh yang menghidupkan hati yang mati. Membangunkan hati yang terlena bias indahnya fatamorgana dunia. Malu kemudian menjadi akhlak terpuji seorang mukmin. Menjauhkan mukmin dari dosa, kemaksiatan, dan melalaikan hak orang lain.

(FNW, 2013)

 

 

 

Satu Kesulitan

poster-rumi

Hal yang paling sulit saat ini selain konsisten adalah mencintai. Nyatanya teori tentang rasa tak pernah habis dibahas dan berakhir dalam sebuah teori kokoh, tak terpatahkan. Selalu ada saja jawaban ‘tergantung’ bila itu biacara tentang perasaan. Apalagi cinta. Yang punya seribu definisi dan sejuta faktor pendukung yang mempengaruhinya. 

Aku kira inilah sebuah proses yang menuntut dan menuntun agar cinta menjadi sebuah kata kerja yang bersyarat pengorbanan. Bisa jadi yang diinginkan sebenarnya di ujung rasa cinta adalah keikhlasan sehingga pengorbanan itu terseka waktu dan tak perlu lagi dijadikan beban. 

Mencintai begitu sulit, sesulit memasukan benang dalam jarum tak berlubang. Mencari celah dan membuka diri bisa jadi satu syarat yang dibutuhkan agar mencintai lebih alamiah terjadi. Mengapa alamiah? Lagi-lagi karena ia tak bisa dipaksakan. Dalam satu kondisi, inilah dilemanya. Perasaan yang tak bisa dipaksakan tapi suatu saat kita dituntut menumbuhkanya. Inilah masalahnya.

Mengapa harus mencintainya? Apa benar pepatah Jawa witing tresno jalaran soko kulino? Ahh,. haruskah percaya?

Mungkin sebaiknya aku tak berusaha mencintainya.

poster-rumi

Ba’da Ramadhan

Setelah Ramadhan, apa yang biasa kita lakukan? 

Pertanyaan itu mungkin lazim dilontarkan kepada kita kaum muslim yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Bagi saya, ada pertanyaan yang lebih penting lagi : “Apa perubahan yang akan kita lakukan? Apa capaian yang akan kita tingkatkan?”

Ramadhan sebagaimana diketahui adalah ibadah yang wajib dilakukan. Siapa orang yang mau meewatkan Ramadhan begitu saja pergi, akan sangat merugi. Bulan penuh bonus pahala, penuh rahmat, penuh keberkahan, dan segudang keutamaan-keutamaan lainnya. Lalu apakah Ramadhan adalah akhir dari perjalanan ibadah kita selama setahun? Justru inilah awal dari perjalanan peningkatan kualitas diri menjadi lebih baik.

Ba’da Ramadhan, bukan baju lebaran yang dinanti, bukan pulang kampung dan libur yang diinginkan, melainkan peningkatan kualitas diri terutama ibadah kepada Allah subhannahu wata’ala yang sebaiknya diutamakan. 

Setelah ramadhan >> semakin rajin, semakin soleh/ah, semakin bersih, semakin menjaga, semakin peduli, dan semakin-semakin baik dalam hal lainnya. Semoga Ramadhan kita bermakna dan mampu memperbaiki kita 🙂

 

Cerita Karimata (2)

Kali ini saya akan coba menceritakan bagaimana (rumitnya) perjalanan dari Jakarta-Semarang-Ketapang-Karimata hingga perjalanan pulang dari Karimata-Belitung-Jakarta 🙂

Kuliah Kerja Nyata Universitas Indonesia (K2N UI) 2013 dengan tema “Harmoni dalam Kebhinekaaan menuju Masyarakat Sejahtera dan Mandiri” dilaksanakan pada tanggal 3 Juli hingga 30 Juli 2013. Salah satu lokasi yang menjadi tujuan K2N UI 2013 adalah kepulauan Karimata. Saya melaksanakan program K2N di desa Padang, kecamatan Kepulauan Karimata, kabupaten Kayong Utara, provinsi Kalimantan Barat.

Pada tanggal 3 Juli 2013, saya mulai berangkat dari PPMT UI menuju Semarang. Pada tanggal 4 Juli 2013 saya sudah sampai di Semarang dan istirahat di penginapan pemerintah daerah setempat. Jadwal pemberangkatan kapal adalah tanggal 5 Juli 2013 pukul 23.00 WIB. Sembari menunggu kapal, peserta K2N diajak ke Lawang Sewu, Semarang hingga pukul 16.00. Pukul 16.30 kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Tanjung Emas. Pukul 17.30 kami sudah sampai di pelabuhan. Kami menunggu di ruang tunggu pelabuhan hingga kapal datang pukul 23.00. Penumpang lain nampak heran dengan kami. Rombongan berjaket kuning, membawa barang logistik berkardus-kardus dan pelampung oranye mencolok ditambah carier yang menjulang tinggi di balik punggung.

Pukul 22.00 kami sudah di dalam kapal. Banyak dari peserta yang tidak biasa dengan gelombang laut sehingga bersiap meminum obat anti mabok. Bosan menunggu, akhirnya kami tertidur dengan tetap menjalankan jadwal piket jaga barang. Pagi menjelang, ternyata kapal belum berangkat karena ada kesalahan teknis pada jangkar kapal yang belum bisa terangkat. Kembali perjalanan tertunda. Pada pukul 06.30 WIB kapal kami, Setya Kencana, baru berangkat. Perjalanan cukup panjang, sekitar 36 jam. Sesampainya di pelabuhan Ketapang tanggal 7 Juli 2013 pukul 20.00 WIB, kami dijemput oleh beberapa warga kepulauan Karimata. Ada yang dari desa Padang, desa Betok, desa Pelapis, serta warga kota Sukadana.

Perjalanan belum selesai. Kami diantar menemui bupati Kayong Utara, bapak Hildi Hamid, menggunakan bus mini di penginapan. Menaikkan carier dan barang-barang logistik adalah hal paling merepotkan. Perjalanan selama dua jam cukup melelahkan. Jalanan di sini beraspal. Kebanyakan rumah di Sukadana sudah bersemen/ permanen. Namun, sisi kanan dan kiri jalan masih banyak lahan kosong, rawa, dan juga pepohonan rindang. Sampai di penginapan, kami mendapat sambutan dari bupati. Selain itu, kami juga mempresentasikan program kerja kami di penginapan tersebut. Konon kabarnya, penginapan tempat kami ini akan dibangun menjadi kantor polisi resort Kayong Utara. Sementara ini Kayong Utara masih menginduk kantor polres-nya di Ketapang. Hal ini dikarenakan kabupaten Kayong Utara adalah kabupaten yang baru mengalami pemekaran. Kayong Utara mulanya adalah salah satu wilayah kecamatan di Ketapang yang kini menjadi kabupaten sendiri.

Sukadana bukan lokasi K2N kami. Esok hari, 8 Juli 2013, kami diantar menuju dermaga Sukadana oleh bus sekolah. Tujuan kami selanjutnya adalah desa Pelapis. Pukul 13.00 kapal motor Inka Mina 186 mengantar kami ke desa Pelapis. Desa ini cukup jauh, perjalanan di kapal motor sekitar 9-10 jam. Beberapa peserta mabok laut dikarenakan tingginya gelombang. Sekitar pukul 20.30 kami sampai di desa Pelapis. Malam cukup dingin. Apalagi pasangnya laut membuat kami basah karena harus mencebur ke laut setinggi pinggang untuk mencapai daratan. Di sini, sejumlah peserta K2N dipisah dari tim dan diturunkan untuk melaksanakan programnya. Perjalanan tidak dilanjutkan karena hari sudah malam sehingga kami kembali bermalam. Makan malam lengkap sambal teri dan balai desa bersih untuk menginap, telah disiapkan.

Esok hari, tanggal 9 Juli 2013. Kami melanjutkan perjalanan ke desa Betok dan desa Padang. Perjalanan ke desa Betok sekitar lima jam. Pukul 12.00 WIB kami sudah tiba di dermaga desa ini. Kembali, sejumlah peserta K2N dipisah dari tim dan diturunkan untuk menjalankan programnya. Tanpa singgah, kapal langsung melaju ke desa Padang. Perjalanan masih dua jam lagi. Sekitar pukul 14.00 kami sampai di dermaga Tanjung Ru, salah satu dusun di desa Padang. Dua puluh dua orang peserta K2N UI 2013 ditambah tiga pendamping lapangan disambut ibu kepala desa dan diberikan tempat istirahat. Makan siang yang nikmat karena lapar. Kami tidak buru-buru istirahat. Sejak datang hingga sore menjelang, anak-anak di sini mengajak para peserta bermain. Ada sebagian dari kami yang bermain bersama anak-anak, ada yang jalan-jalan melihat kondisi sekitar, dan ada juga yang berbincang dengan keluarga ibu kepala desa. Besok sudah masuk bulan Ramadhan. Setelah membersihkan diri dan makan malam, kami tarawih di masjid dusun ini.

Setelah tarawih, kami rapat besar. Pendamping lapangan (PL) memberitahukan siapa saja yang menginap dengan induk semang yang sama. Kami merapatkan beberapa hal terkait peraturan K2N dan informasi lain terkait program dan kebutuhan laporan pertanggungjawaban nanti. Kami dibagi menjadi empat tim program. Program Rumah Kreatif (RK), Rumah Inklusi Ceria (RIC), Ekonomi Kreatif (EkoKre), dan  Kesehatan Untuk Semua (KUS). Kami juga membahas apa saja aktivitas yang akan dilakukan oleh setiap tim program selama dua pekan ke depan dalam sebuah timeline kerja bersama. Saya berkesempatan tinggal rumah bapak Natsir, dusun Pantai Lestari, desa Padang, kecamatan kepulauan Karimata. 

Tanggal 23 Juli kami berpamitan kepada seluruh orang berkebutuhan khusus yang pernah kami kunjungi. Kami berpamitan juga pada sanak keluarga dari mereka dan wali dari anak dampingan kami. Tanggal 24 Juli program sudah harus selesai dan kami diajak pergi ke air gemuruh bersama warga. Suasana sangat ramai dengan canda tawa mereka. Tanggal 25 Juli kami harus meninggalkan desa Padang menuju desa Betok sebagaimana jadwal panitia K2N. Berat memang meninggalkan masyarakat, terutama anak-anak yang sangat gemar mengikuti aktivitas kami. Kepergian kami diiringi tangis sedu sedan anak-anak sekolah yang rela berjalan kiloan meter dan tidak masuk sekolah karena ingin mengantar kami di dermaga Tanjung Ru. Tetes keringat bercampur air mata dan wajah pucat anak-anak karena lelah masih tergambar dalam ingatan saya. Sangat mengharukan.

Dua jam perjalanan dari desa Padang ke desa Betok dalam kondisi puasa. Banyak yang memutuskan tidak puasa karena perjalanan. Alhmadulillah tidak termasuk saya dan 4 kawan lainnya. Di desa Betok, Kami kembali bermalam untuk menunggu kapal motor menjemput kami menuju Belitung. Ternyata tanggal 28 Juli baru ada jadwal kami ke Jakarta dari Belitung. Akhirnya, pada tanggal 27 Juli kami melakukan perjalanan ke Belitung selama kurang lebih 12 jam. Kapal pulang kami ke Jakarta, Tristar 2, mengalami kemunduran waktu keberangkatan. Karena itu, kami gunakan untuk pergi ke tempat syuting Laskar Pelangi dan membeli sedikit cinderamata untuk keluarga di rumah. Tanggal 29 Juli kapal baru siap berangkat pukul 13.00 WIB. Selama 18 jam kami di kapal berlayar ke Tanjung Priok. Pada tanggal 30 Juli 2013 sekitar pukul 07.30, kami tiba di Tanjung Priok dijemput bis kuning. Kemudian kami dibawanya ke Depok. Saya tiba di asrama PPSDMS Depok tanggal 30 Juli 2013 pukul 09.00 WIB. Tak sabar ingin berbuka di rumah, lalu saya pulang ke rumah orang tua di Purbalingga pada hari yang sama, pukul 16.00 WIB. Perjalanan yang sangat panjang. Semoga Allah memberkahi dan mengizinkan saya pergi ke pulau lain di Indonesia. Insya Allah 🙂

 

Cerita Karimata (1)

IMG01220-20130719-1033

Sepulang saya K2N kemarin, banyak yang bertanya tentang K2N yang saya lakukan. Benar bukan? hehe 🙂 Apa saja yang saya lakukan, bagaimana kondisi di sana, dan sebagainya. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya ceritakan. tapi, ini 3 hal awal yang terpikir oleh saya, begitu saya ingat tentang K2N di Desa Padang, Kepulauan Karimata, Kayong Utara, Kalimantan Barat. Yaitu, perilah program kerja saya, masalah terkait pendidikan yang ada, serta kebutuhan dai di sana.

Pertama, perihal program kerja. Saya mendapat program RIC yang bertugas menangani orang berkebutuhan khusus agar mereka dapat mandiri dan diterima masyarakat. Temuan lapangan yang saya dapatkan adalah orang-orang yang diindikasikan memiliki ketunaan/ kebutuhan khusus memang ada di sini. Namun, tujuan dari program RIC dapat dikatakan sudah tercapai. Mereka sudah dapat mandiri, melakukan komunikasi dengan keluarga, teman, dan masyarakat serta sudah dapat diterima masyarakat. Dalam beberapa hari kami melakukan asesmen, banyak orang yang mengatakan bahwa di dusun Pantai Lestari ini tidak ada orang yang mengalami kebutuhan khusus atau kecacatan. Namun, ada beberapa orang dapat menunjukkan kecacatan pada beberapa orang tetangganya.

Setelah mendapat beberapa nama dan alamat orang yang diindikasikan mengalami kebutuhan khusus, kami mendatangi satu per satu dari mereka. Kami melihat kondisinya dan mengajaknya berkomunikasi. Ternyata program RIC ini memang sudah pernah dilakukan di desa ini pada tahun sebelumnya. Sehingga pihak keluarga dari orang yang berkebutuhan khusus mungkin sudah cukup memahami apa yang terjadi dengan anggota keluarganya tersebut. Asesmen terus dilakukan. Kami justru menemui banyak anak-anak di sini yang tidak naik kelas karena bermasalah dengan  kemampuan membaca, menulis, dan  berhitung. Ada juga orang berkebutuhan khusus yang terdata tahun lalu, tidak berhasil kami temui meski sudah kami kunjungi rumahnya beberapa kali.

Setelah digali kembali, warga sekitar tidak menganggap bahwa orang-orang cacat itu perlu dijauhi. Mereka menerima kehadirannya dan tidak bermasalah dengan apa yang mereka alami. Saya dan tim menyimpulkan bahwa tujuan dari RIC ini sudah tercapai setelah mengetahui bahwa orang berkebutuhan khusus di sini bukan orang yang diasingkan. Kami sempat mengalami kebimbangan karena kondisi lapangan yang ada. Ketika kami bergabung dengan rumah kreatif, mengamati anak, kami menemukan beberapa anak yang berbeda dari anak lainnya. Ada yang sangat aktif, sangat pendiam, dan sangat nakal. Akhirnya, setelah berdiskusi tim dan berkonsultasi dengan pendamping lapangan, kami memutuskan untuk menggeser tujuan program RIC. Bukan hanya menangani orang yang mengalami kecacatan tubuh, namun juga menangani anak-anak yang ‘berbeda’ dari anak lainnya.

Memilih anak-anak yang ‘berbeda’ sebagaimana yang kami lakukan ini bukanlah justifikasi. Ini pun yang menjadi masalah bagi kami. Kami mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan S1, belum ada kemampuan untuk mengkategorikan anak dalam berbagai tipe ketunaan termasuk mengklasifikasikan anak yang memiliki penyakit tertentu. Hal tersebut hanyalah boleh dilakukan oleh tenaga professional misalnya psikolog anak. Akhirnya, kami memilih anak-anak yang terlihat ‘berbeda’ secara kasat mata / paling menonjol yang ternyata mereka bermasalah dalam membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

Kedua, masalah pendidikan. Sebagaimana temuan lapangan, banyak anak yang bermasalah dengan kemampuan calistung. Ada anak kelas 3 SD bahkan kelas 1 SMP yang belum lancar membaca. Di desa ini ada 2 SD dan 1 SMP. Secara kuantitas guru, sebenarnya sudah cukup. Namun, kualitas guru yang masih dipertanyakan. Sebagai contoh, ketika kami di sana, tanggal 15 Juli semestinya sudah masuk sekolah. Namun, tidak ada guru yang datang hingga beberapa hari sekolah sudah berjalan. Hal ini membuat anak-anak tidak mendapat pengajaran sebagaimana mestinya. Beberapa dari mereka juga menjadi malas sekolah karena gurunya juga malas hadir. Padahal sekolah di kabupaten ini tidak berbayar dari SD hingga SMA. Sehingga masalah biaya mestinya tidak menjadi masalah anak untuk sekolah. Malasnya guru hadir, dapat terjadi kemungkinan karena kebanyakan guru adalah pendatang. Lokasi yang sulit dijangkau, jauh dari tempat tinggal, cuaca yang tidak menentu, dan mahalnya biaya transportasi menjadi kendala mereka. Padahal tunjangan guru daerah terpencil sangat lumayan untuk menjadi biaya transportasi. Maka menurut saya, masalah ini adalah tentang komiten mengajar para pengajar.

Selain masalah guru, lingkungan dan orang tua di sini kurang mendukung belajar mengajar. Anak-anak selalu bermain setelah pulang sekolah hingga sore. Jam belajar yang minim di sekolah, sekitar 3-5 jam sehari, masih saja digunakan bermain oleh para murid. Orang tua tidak mendukung dalam hal belajar anak. Misalnya, orang tua yang tidak mengajari anak membaca di rumah. Ada yang alasannya tidak ada waktu karena harus bekerja, ada juga yang disebabkan oleh orang tua yang tidak bisa membaca. Masalah kenaikan kelas anak juga seringkali menjadi dilema para guru. Anak yang tidak bisa calistung di kelas 1 SD, terkadang tetap dinaikan karena guru tidak ingin bermasalah dengan orang tua anak. Guru yang kebanyakan adalah para pendatang, seringkali meminta bantuan pada warga setempat jika ingin kembali ke Ketapang atau Sukadana dengan ikut kapal motor mereka. Mereka khawatir jika bermasalah dengan orang tua siswa, mereka tidak bisa ikut kapal motor mereka atau mereka mendapat masalah lain yang tidak diinginkan.

Ketiga, masalah kebutuhan da’i. Di sini, banyak orang mengaji Al-Quran. Namun, hanya membaca, bukan meng-kaji isinya. Bulan puasa, ketika orang kota ramai ke masjid dan melakukan aktivitas lain dengan semangat, masyarakat di sini justru meliburkan semua aktivitas. Kumpul warga, bersih-bersih lingkungan, bekerja, hingga pengajian pun diliburkan karena puasa. Beberapa hari puasa di sini, suasana sepi. Tidak ada aktivitas berarti selain berdiam di rumah. Tarawih hari-hari awal puasa, cukup ramai jamaah. Namun hari ke lima sudah mulai berkurang. Lama-kelamaan peserta K2N yang meramaikan dusun dengan mengadakan olahraga bersama dan bersih-bersih dusun. Seiring dengan itu, mulai ramai juga warga yang merokok di siang hari. Tidak berpuasa. Perempuan tidak berpuasa padahal tidak haid, laki-laki tidak puasa padahal tidak sakit, atau tidak berpuasa tanpa ada alasan.

Konon, jimat dan kepercayaan pada dukun masih sangat kental. Orang sakit dibawa ke dukun, anak lahir diberi jimat pelindung, dan upacara-upacara lain yang tidak ada dalam Islam. Kebanyakan warga juga mengaku Islam tapi tidak solat wajib. Sangat menyedihkan. Padahal di sini sudah ada televisi, namun yang ditonton hanya film laga drama Indonesia, bukan kajian Islam para dai. Da’i sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman tentang Islam, memberi kabar gembira dan peringatan bagi manusia untuk meng-Esa-kan Allah, dan menghilangkan keraguan akan ketetapan Allah. Mungkin warga membutuhkan kedatangan da’i yang dapat memberikan pencerahan yang baik. Bukan hanya kedatangan biduan dangdut untuk menghibur mereka saja.

Dua pekan berpuasa dan K2N di Karimata, sangat mengesankan. Saya mendapat banyak inspirasi dan temuan lapangan tentang kondisi masyarakat Indonesia, saudara umat Islam, dan khususnya gambaran masyarakat pesisir. Saya ingin kembali ke sini, terutama sebagai dai. Entah bagaimana, semoga Allah mudahkan jalannya 🙂