Cerita Karimata (1)

IMG01220-20130719-1033

Sepulang saya K2N kemarin, banyak yang bertanya tentang K2N yang saya lakukan. Benar bukan? hehe🙂 Apa saja yang saya lakukan, bagaimana kondisi di sana, dan sebagainya. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya ceritakan. tapi, ini 3 hal awal yang terpikir oleh saya, begitu saya ingat tentang K2N di Desa Padang, Kepulauan Karimata, Kayong Utara, Kalimantan Barat. Yaitu, perilah program kerja saya, masalah terkait pendidikan yang ada, serta kebutuhan dai di sana.

Pertama, perihal program kerja. Saya mendapat program RIC yang bertugas menangani orang berkebutuhan khusus agar mereka dapat mandiri dan diterima masyarakat. Temuan lapangan yang saya dapatkan adalah orang-orang yang diindikasikan memiliki ketunaan/ kebutuhan khusus memang ada di sini. Namun, tujuan dari program RIC dapat dikatakan sudah tercapai. Mereka sudah dapat mandiri, melakukan komunikasi dengan keluarga, teman, dan masyarakat serta sudah dapat diterima masyarakat. Dalam beberapa hari kami melakukan asesmen, banyak orang yang mengatakan bahwa di dusun Pantai Lestari ini tidak ada orang yang mengalami kebutuhan khusus atau kecacatan. Namun, ada beberapa orang dapat menunjukkan kecacatan pada beberapa orang tetangganya.

Setelah mendapat beberapa nama dan alamat orang yang diindikasikan mengalami kebutuhan khusus, kami mendatangi satu per satu dari mereka. Kami melihat kondisinya dan mengajaknya berkomunikasi. Ternyata program RIC ini memang sudah pernah dilakukan di desa ini pada tahun sebelumnya. Sehingga pihak keluarga dari orang yang berkebutuhan khusus mungkin sudah cukup memahami apa yang terjadi dengan anggota keluarganya tersebut. Asesmen terus dilakukan. Kami justru menemui banyak anak-anak di sini yang tidak naik kelas karena bermasalah dengan  kemampuan membaca, menulis, dan  berhitung. Ada juga orang berkebutuhan khusus yang terdata tahun lalu, tidak berhasil kami temui meski sudah kami kunjungi rumahnya beberapa kali.

Setelah digali kembali, warga sekitar tidak menganggap bahwa orang-orang cacat itu perlu dijauhi. Mereka menerima kehadirannya dan tidak bermasalah dengan apa yang mereka alami. Saya dan tim menyimpulkan bahwa tujuan dari RIC ini sudah tercapai setelah mengetahui bahwa orang berkebutuhan khusus di sini bukan orang yang diasingkan. Kami sempat mengalami kebimbangan karena kondisi lapangan yang ada. Ketika kami bergabung dengan rumah kreatif, mengamati anak, kami menemukan beberapa anak yang berbeda dari anak lainnya. Ada yang sangat aktif, sangat pendiam, dan sangat nakal. Akhirnya, setelah berdiskusi tim dan berkonsultasi dengan pendamping lapangan, kami memutuskan untuk menggeser tujuan program RIC. Bukan hanya menangani orang yang mengalami kecacatan tubuh, namun juga menangani anak-anak yang ‘berbeda’ dari anak lainnya.

Memilih anak-anak yang ‘berbeda’ sebagaimana yang kami lakukan ini bukanlah justifikasi. Ini pun yang menjadi masalah bagi kami. Kami mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan S1, belum ada kemampuan untuk mengkategorikan anak dalam berbagai tipe ketunaan termasuk mengklasifikasikan anak yang memiliki penyakit tertentu. Hal tersebut hanyalah boleh dilakukan oleh tenaga professional misalnya psikolog anak. Akhirnya, kami memilih anak-anak yang terlihat ‘berbeda’ secara kasat mata / paling menonjol yang ternyata mereka bermasalah dalam membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

Kedua, masalah pendidikan. Sebagaimana temuan lapangan, banyak anak yang bermasalah dengan kemampuan calistung. Ada anak kelas 3 SD bahkan kelas 1 SMP yang belum lancar membaca. Di desa ini ada 2 SD dan 1 SMP. Secara kuantitas guru, sebenarnya sudah cukup. Namun, kualitas guru yang masih dipertanyakan. Sebagai contoh, ketika kami di sana, tanggal 15 Juli semestinya sudah masuk sekolah. Namun, tidak ada guru yang datang hingga beberapa hari sekolah sudah berjalan. Hal ini membuat anak-anak tidak mendapat pengajaran sebagaimana mestinya. Beberapa dari mereka juga menjadi malas sekolah karena gurunya juga malas hadir. Padahal sekolah di kabupaten ini tidak berbayar dari SD hingga SMA. Sehingga masalah biaya mestinya tidak menjadi masalah anak untuk sekolah. Malasnya guru hadir, dapat terjadi kemungkinan karena kebanyakan guru adalah pendatang. Lokasi yang sulit dijangkau, jauh dari tempat tinggal, cuaca yang tidak menentu, dan mahalnya biaya transportasi menjadi kendala mereka. Padahal tunjangan guru daerah terpencil sangat lumayan untuk menjadi biaya transportasi. Maka menurut saya, masalah ini adalah tentang komiten mengajar para pengajar.

Selain masalah guru, lingkungan dan orang tua di sini kurang mendukung belajar mengajar. Anak-anak selalu bermain setelah pulang sekolah hingga sore. Jam belajar yang minim di sekolah, sekitar 3-5 jam sehari, masih saja digunakan bermain oleh para murid. Orang tua tidak mendukung dalam hal belajar anak. Misalnya, orang tua yang tidak mengajari anak membaca di rumah. Ada yang alasannya tidak ada waktu karena harus bekerja, ada juga yang disebabkan oleh orang tua yang tidak bisa membaca. Masalah kenaikan kelas anak juga seringkali menjadi dilema para guru. Anak yang tidak bisa calistung di kelas 1 SD, terkadang tetap dinaikan karena guru tidak ingin bermasalah dengan orang tua anak. Guru yang kebanyakan adalah para pendatang, seringkali meminta bantuan pada warga setempat jika ingin kembali ke Ketapang atau Sukadana dengan ikut kapal motor mereka. Mereka khawatir jika bermasalah dengan orang tua siswa, mereka tidak bisa ikut kapal motor mereka atau mereka mendapat masalah lain yang tidak diinginkan.

Ketiga, masalah kebutuhan da’i. Di sini, banyak orang mengaji Al-Quran. Namun, hanya membaca, bukan meng-kaji isinya. Bulan puasa, ketika orang kota ramai ke masjid dan melakukan aktivitas lain dengan semangat, masyarakat di sini justru meliburkan semua aktivitas. Kumpul warga, bersih-bersih lingkungan, bekerja, hingga pengajian pun diliburkan karena puasa. Beberapa hari puasa di sini, suasana sepi. Tidak ada aktivitas berarti selain berdiam di rumah. Tarawih hari-hari awal puasa, cukup ramai jamaah. Namun hari ke lima sudah mulai berkurang. Lama-kelamaan peserta K2N yang meramaikan dusun dengan mengadakan olahraga bersama dan bersih-bersih dusun. Seiring dengan itu, mulai ramai juga warga yang merokok di siang hari. Tidak berpuasa. Perempuan tidak berpuasa padahal tidak haid, laki-laki tidak puasa padahal tidak sakit, atau tidak berpuasa tanpa ada alasan.

Konon, jimat dan kepercayaan pada dukun masih sangat kental. Orang sakit dibawa ke dukun, anak lahir diberi jimat pelindung, dan upacara-upacara lain yang tidak ada dalam Islam. Kebanyakan warga juga mengaku Islam tapi tidak solat wajib. Sangat menyedihkan. Padahal di sini sudah ada televisi, namun yang ditonton hanya film laga drama Indonesia, bukan kajian Islam para dai. Da’i sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman tentang Islam, memberi kabar gembira dan peringatan bagi manusia untuk meng-Esa-kan Allah, dan menghilangkan keraguan akan ketetapan Allah. Mungkin warga membutuhkan kedatangan da’i yang dapat memberikan pencerahan yang baik. Bukan hanya kedatangan biduan dangdut untuk menghibur mereka saja.

Dua pekan berpuasa dan K2N di Karimata, sangat mengesankan. Saya mendapat banyak inspirasi dan temuan lapangan tentang kondisi masyarakat Indonesia, saudara umat Islam, dan khususnya gambaran masyarakat pesisir. Saya ingin kembali ke sini, terutama sebagai dai. Entah bagaimana, semoga Allah mudahkan jalannya🙂