PPSDMS dan Putri Malu

malu

Setahun sudah keberadaan saya di asrama PPSDMS. Banyak canda, tawa, tangis, dan haru yang mewarnai sepanjang hari. Saya semakin banyak mengenal dan mengetahui karakter manusia. Mungkin memang Allah memberikan tempat ini agar saya sekaligus dapat belajar lebih dalam tentang manusia sebagaimana ilmu yang sedang saya pelajari di bangku kuliah saat ini, psikologi. Tempat ini bisa jadi bukan tempat biasa -tergantung siapa yang memaknai dan apa yang dimaknainya. Orang yang bersinggungan dengan anak PPSDMS di sekitarnya, akan tahu baik buruk sifatnya, kemampuannya, dan manfaat ia bagi sekitar. Namun, bila ia tidak bersinggungan tentu tidak akan tahu bagaimana tabiat anak PPSDMS. 

Bagi saya sendiri, asrama ini adalah tempat yang memang tidak biasa. Apa enaknya bergabung dalam sebuah rumah, sekamar enam orang, ada jadwal piket bersih-bersih dan memasak, sering berisik di kala malam, banyak aturan yang diterapkan, banyak capaian yang dituntut, banyak perbedaan pendapat, dan banyak masalah yang berpotensi muncul. Hal ini dapat berpotensi menjadi masalah bagi mereka yang mempermasalahkannya. Bagi mereka yang tidak suka dengan aturan dan keramaian, yang hanya ingin kebebasan, dan ingin bertindak semaunya sendiri. 

Kalau dikatakan tempat ini seperti penjara, ya bisa jadi. Kalau disebut kawah candradimuka, ya bisa juga. Di sini kami ditempa. Di sini kami dibina. Di sini kami dibiasakan. Di sini kami diberikan nilai. Aktivitas asrama yang menyita waktu, tentu. Aktivitas asrama yang mengganggu perhatian pada kuliah, itu sering. Aktivitas yang membuat belajar untuk ujian terhambat, itu bisa terjadi. Demikianlah kiranya jika hidup di asrama ini tanpa kerja keras dan pengelolaan waktu yang baik. Bagi saya, hal terpenting agar dapat bertahan adalah manajemen waktu dan komitmen.  

Selalu ada konsekuensi dari setiap keputusan. Memilih PPSDMS berarti pula memilih bersedia menerima konsekuensinya. Memilih PPSDMS berarti memilih menerima tanggung jawab yang disertakannya. Siap masuk PPSDMS berarti siap menjadi aktivis Islam, aktivis pergerakan, mahasiswa berprestasi, dan memiliki rasa kekeluargaan yang baik. Tidak ada yang boleh setengah-setengah karena totalitas adalah kekuatan dan motivasi yang membakar.

Setahun sudah saya di sini. Segala daya upaya dikerahkan untuk tetap bertahan. Penolakan yang muncul mulai terbiaskan dengan hal lain atas perenungan. Beberapa perubahan mulai terjadi. Salah satu hal yang semakin bertambah adalah rasa malu. Saya semakin malu jika saya bangun kesiangan karena muslim yang taat tidak solat subuh terlambat. Saya malu jika tak solat malam karena Rasulullah selalu solat malam hingga kakinya bengkak. Ia selalu bermunajat dan bermuhasabah pada Allah di kala sepertiga malam yang sunyi dan dingin. Saya malu jika berpakaian tidak sopan, pun malu tak berlaku santun karena Rasulullah selalu berpakaian sopan dan bersikap santun pada orang lain. 

Saya juga malu jika berbicara sebelum membaca karena muslim yang baik tak mengatakan apa yang tidak ia ketahui. Saya malu jika ditanya tentang sebuah masalah karena merasa masih kurang berilmu. Saya malu jika menyuruh tanpa melaksanakan karena Rasulullah selalu memberi keteladanan. Saya malu jika hanya berleha-leha tak serius dalam melakukan tugas karena kewajiban yang harus dilakukan lebih banyak dari waktu yang tersedia. Saya malu tak punya prestasi karena muslim yang baik akan selalu bergerak untuk berkarya. Saya malu jika membenci kawan karena Rasulullah selalu peduli dan berkasih sayang pada sesama. Saya malu jika masih sama dengan yang dulu karena orang yang beruntung selalu berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya.

“Hendaklah kalian malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu. Barang-siapa yang malu kepada Allah dengan sebenar-benar malu, maka hendaklah ia menjaga kepala dan apa yang ada padanya, hendaklah ia menjaga perut dan apa yang dikandungnya, dan hendaklah ia selalu ingat kematian dan busuknya jasad. Barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat hendaklah ia meninggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang mengerjakan yang demikian, maka sungguh ia telah malu kepada Allah Azza wa Jalla dengan sebenar-benar malu.”  [HR.At-Tirmidzi]

Semoga demikian rasa malu ini bersemi. Hingga malu ini benar-benar pada Allah saja. Bukan rasa malu yang menyebabkan diri ini menyia-nyiakan hak Allah sehingga beribadah kepada Allah dengan kebodohan tanpa mau bertanya tentang urusan agama. Bukan rasa malu yang membuat malu untuk menuntut ilmu, malu membaca Alqur-an, malu untuk shalat berjama’ah bersama kaum muslimin, malu memakai pakaian muslimah yang syar’i, malu mensyiarkan Islam, dan malu melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban seorang muslim. Yang demikian itu adalah kelemahan dan ketidakberdayaan. 

 

Malu, malu, malu. Ia bagai pelita yang membangunkan kebaikan. Bagai ruh yang menghidupkan hati yang mati. Membangunkan hati yang terlena bias indahnya fatamorgana dunia. Malu kemudian menjadi akhlak terpuji seorang mukmin. Menjauhkan mukmin dari dosa, kemaksiatan, dan melalaikan hak orang lain.

(FNW, 2013)