Tulisan ini juga dimuat di http://www.kammikultural.org/2013/02/mencintai-kammi-dengan-sederhana.html pada 24 Februari 2013

Mencintai KAMMI dengan Sederhana

oleh: Fatin Rohmah Nur Wahidah *)
“Kami hanya ingin mencintai KAMMI dengan sederhana…”
-KAMMI Kultural

fatinSepenggal kalimat itu nampaknya kini menjadi slogan manis khas KAMMI kultural yang katanya ingin ‘mencintai KAMMI dengan sederhana’. Agaknya, kalimat itu bisa memiliki beragam makna yang dapat didefinisikan. Mendengar kalimat itu mengingatkan saya akan sepenggal puisi dari penyair ternama Sapardi Djoko Damono,

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana | dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu | Aku ingin mencintaimu dengan sederhana | dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Puisi tersebut terdengar sederhana dengan perumpamaannya. Terkesan manis, tak berlebihan dengan istilahnya. Namun, apakah kata ‘sederhana’ pun menjadi diksi yang tepat disematkan untuk mencintai KAMMI? Lalu bagaimana mereka akan mencintai KAMMI dengan cara yang sederhana?

Apakah mencintai dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya abu? Sangat terlambat… sehingga terkalahkan oleh api yang terlanjur membakarnya. Ataukah dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada? Juga sangat terlambat … sehingga tak menangkap dengan tepat pesan yang disampaikannya.

Ada pula yang mencintai dengan kesederhanaan atas apa yang bisa dilakukan. Dengan sederhana, menjadikannya biasa saja. Dengan sederhana, mencintainya tanpa upaya lebih lainnya. Dengan sederhana, hanya berusaha ala kadanya.

Cinta lain yang sederhana itu, bisa jadi sesederhana cinta Abdurrahman bin Auf saat meninggalkan seluruh hartanya di Mekkah demi mengikuti hijrahnya Rasulullah. Bisa jadi pula sesederhana cinta Abu Bakar yang tetap diam saat seekor ular menggigit kakinya di Gua Tsur, demi tak ingin membangunkan Rasulullah yang tertidur di pangkuannya. Atau mungkin sesederhana cinta Bilal bin Rabah yang rela terpanggang di bawah batu besar pada teriknya gurun. Mungkin juga sesederhana cinta Abu Dzar Al Ghifari yang berjalan kaki ratusan kilo menyusul pasukan Tabuk.

Lalu, bagaimana mencintai dengan sederhana kepada KAMMI? Mencintai dengan tak berlebihan, jujur, tulus, menerima apa adanya ia atau mencintai dengan ala kadarnya, seadanya, sekenanya, se-biasa-nya?

Biarkan mereka yang ‘ingin mencintai KAMMI dengan sederhana’ menjawabnya. Dengan aksi nyata, dengan pengorbanan luar biasa, dengan produktivitas karya, atau dengan cara sederhana lainnya.

 jika cinta adalah sebuah kata kerja, ia akan terus bergerak, berkorban, dan berbagi. tidak peduli atas ujian serta waktu yang akan menggerus dan mengusang. kecuali jika cinta hanya menjadi kata benda, yang sekadar memberi keterangan atas sebuah rasa, tanpa aksi nyata.

(FNR)