Perempuan, Asi, dan Asuhan

Tulisan ini juga dimuat di http://umihanif.speedytaqwa.com/post/detail/2982/perempuan-asi-dan-asuhan dan situs fimadani.com

 

Perempuan, ASI, dan Asuhan

Photo © Michael Howard

 

Perempuan, rasanya tak pernah bosan saya mendengar dan membicarakan tentang makhluk satu ini. Perempuan dengan berbagai keunikan dan keterbatasanya adalah makhluk luar biasa yang dijaga betul kehormatannya dalam agama saya, Islam. Ia diberikan kemudahan dan berbagai kenikmatan yang memang sudah disesuaikan dengan kemampuannya. Bagi saya, perempuan itu bukan makhluk lemah, tak berdaya, dan bukan makhuk yang harus ditutut sama persis dengan laki-laki. Jika jihadnya laki-laki adalah berperang di jalan dakwah, maka merawat anak dan keluarga adalah bentuk jihadnya perempuan.

Salah satu keistimewaan dari perempuan adalah memiliki ASI. Al Quran telah menganjurkan agar setiap ibu dapat memberikan ASI pada anaknya hingga usia dua tahun. Allah berfirman dalam QS Al Baqarah: 233, “Dan para ibu yang menyusui anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang mau menyempurnakan penyusunan.” Meski kini sudah ada susu formula yang diramu dengan teknologi tinggi, namun ASI tetap tak tergantikan baik secara unsur, komposisi, dan efek manfaat yang diberikan. Penelitian dari WHO menganjurkan pemberian ASI didasarkan atas keinginan dari bayi. Setiap kali bayi menginginkan, maka ketika itulah saat yang terbaik pemberian ASI.

Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak, DTM&H, MPH dalam sambutannya pada seminar tentang “Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif Bagi Bayi Dalam Mendukung MDGs” di Jakarta, Selasa 29 Maret 2011 menambahkan bahwa delapan puluh persen perkembangan otak anak dimulai sejak dalam kandungan sampai usia 3 tahun yang dikenal dengan periode emas. Oleh karena itu, diperlukan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan dan dapat diteruskan sampai anak berusia 2 tahun. Hal tersebut dikarenakan ASI mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan mineral yang dibutuhkan bayi dalam jumlah yang seimbang.

Sebuah penelitian ilmiah baru menunjukkan bahwa menyusui sangat berperan membantu berkurangnya risiko kanker payudara di kalangan ibu. Melinda Johnson, ahli gizi University of Arizona menyebutkan bahwa ASI merupakan asupan paling ideal bagi pertumbuhan anak. Kandungan  docosahexaenoic acid (DHA) dan omega 3 merupakan asupan yang sangat baik bagi pertumbuhan otak dan sistem saraf anak. Dengan adanya komponen ini, dapat menjadikan anak berprestasi akademik yang lebih baik.

ASI juga kaya akan karotenoid dan selenium sehingga ASI berperan dalam sistem pertahanan tubuh bayi untuk mencegah berbagai penyakit. ASI mengandung antibodi yang melindungi bayi dari diare dan pneumonia yang termasuk dua penyakit utama penyebab kematian anak-anak di dunia. Setiap tetes ASI juga mengandung mineral dan enzim untuk pencegahan penyakit dan antibodi yang lebih efektif dibandingkan dengan kandungan yang terdapat dalam susu formula.

ASI dapat memperkuat hubungan emosional anak dan ibu. Baru-baru ini ditemukan hormon kepercayaan pada otak ibu yang menyusui anaknya. Pada saat bayi menyusu dari payudara ibunya, maka sel-sel saraf pada otak ibu akan mengeluarkan hormon kepercayaan yang dapat juga membangkitkan rasa kepercayaan pada bayi yang disusui. Proses ini turut mengurangi rasa takut yang ada pada bayi terhadap dunia baru yang ia alami. Pemberian ASI ini dapat membentuk perkembangan emosional karena dalam dekapan ibu selama disusui, bayi bersentuhan langsung dengan ibu sehingga mendapatkan kehangatan, kasih sayang dan rasa aman.

Begitu besar manfaat ASI untuk bayi dan ibu yang menyusui. Begitu mulia pula para wanita yang mau menyusui bayinya dengan kerelaan. Ketika seorang perempuan mau menyusui anaknya, dapat dikatakan ia turut membangun bangsa ini melalui generasi baru yang dilahirkannya. Dengan memberikan ASI pada anaknya, hal ini menjadi salah satu bentuk pengasuhan seorang ibu untuk turut mencerdaskan benih generasi masa depan bangsa ini. Apalagi jika seorang ibu juga mau mendidik anaknya dengan tulus dan cara yang baik agar ia  menjadi manusia yang cerdas, kuat, dan berakhlak mulia.

Sejak anak dilahirkan, anak-anak telah membutuhkan ibu sebagai pihak yang penting untuk bergantung hidup dan harapan mereka sebelum mengenal siapapun. Maka, tidak berlebihan bila ibu disebut sebagai pendidik pertama dan utama. Seorang ibu yang betul-betul menyadari perannya sebagai pendidik utama, tidak akan mempermasalahkan pendidikannya yang rendah karena itu hanya salah satu bagian dari pendidikan yang perlu diajarkan pada anak. Sikap yang baik, empati, saling menghormati, tata krama, menolong, cerdik, dan hal-hal lain yang tidak secara khusus diajarkan di sekolah, padahal inilah yang lebih penting diajarkan. Maka, tidak salah jika Pohan (1986) dalam bukunya yang berjudul “Masalah Anak dan Anak Bermasalah” mendukung bahwa orang tua harus mampu meng-upgrade diri agar dapat mengimbangi, menyelaraskan, menyokong, dan memperkokoh pendidikan keluarga guna mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kebaikan.

Penting bagi orang tua, ayah dan ibu, untuk saling bekerja sama dalam menumbuh kembangkan serta mendidik anaknya. Kunci keberhasilan orang tua dalam mendidik anak menurut Pohan (1986) adalah keserasian dan kasih sayang. Dalam suasana kasih sayang dan keserasian, orang tua dapat dengan ikhlas bekerja sama, serta rela berkorban mengabdi untuk mendidik anak mereka.

Peran seorang perempuan sebagai orang tua anak adalah penting dalam membesarkan dan mendidik anak mereka. Ia juga berperan menjadi agent of change dalam pembangunan kesehatan membawa masyarakat menuju masyarakat yang sehat dan mandiri. Tentu akan sangat mulia seorang perempuan yang mendidikasikan dirinya untuk keluarga terutama anak-anaknya. Dengan kondisi anak yang sehat, gizi yang tercukupi, kasih sayang yang diberikan sang ibu, dan pendidikan utama dari sang ibu, anak Indonesia siap tumbuh menjadi manusia yang cerdas, kuat, dan berakhlak mulia guna memajukan bangsa ini. Semuanya bisa dimulai dari keluarga terutama dalam hal pengasuhan ibu, yaitu dengan diawali pemberian ASI eksklusif bagi anak yang mencukupi.

Oleh: Fatin Rohmah NW, Depok

Referensi:

1. Alkaheel, A. (2012). ASI: Sungguh luar biasa. Tarbawi Majalah Inspirasi. Jakarta: PT Media Amal Tarbawi;

2. Pohan, M.I. (1986).Masalah anak dan anak bermasalah. Jakarta: Intermedia;