Latar Belakang Kristen Barat Masa Kini; Kemurtadan Yang Terpendam

Tulisan ini juga dimuat di http://www.islampos.com/latar-belakang-kristen-barat-masa-kini-kemurtadan-yang-terpendam-35049/ 

Latar Belakang Kristen Barat Masa Kini; Kemurtadan Yang Terpendam

Oleh Saefullah — 13 Safar 1434 / 27 December 2012 12:58


 

vatican building islampos 268x300 Latar Belakang Kristen Barat Masa Kini; Kemurtadan Yang TerpendamOleh: Fatin Rohmah NW, Mahasiswa S1 Fakutas Psikologi UI 2010/Peserta PPSDMS Jakarta Putri 2012/Ketua Sentra Muslim Cendekia SALAM UI

____________________

FILSUF Kristen terkemuka di kalangan orang Kristen di zamannya, Jacques Maritain menggambarkan agama Kristen dan dunia Barat menghadapi krisis besar yang timbul dari pengalaman, pemahaman, dan penafsiran terhadap kehidupan modern sebagaimana peradaban kota yang dibayangkan. Suatu keadaan yang menzahirkan aliran pemikiran neo-modernis yang lahir dari kalangan Kristen itu sendiri dan para intelektual yang mewakili budaya dan peradaban Barat. Di pertengahan abad ke-19, filsuf-sosiolog Perancis, Auguste Comte telah membayangkan kebangkitan sains dan kejatuhan agama. Ia meyakini dengan logika sekular perkembangan filsafat dan sains Barat bahwa masyarakat berkembang dari primitif ke modern serta adanya pergeseran aspek perkembangan metafisik dari teologi ke sains.

Pada abad yang sama, filsuf-penyair dan peramal asal Jerman, Friedrich Nietzsche meramalkan melalui lisan Zarathustra bahwa Tuhan telah mati. Hal ini diakui oleh para penyair, filsuf dan novelis Barat sebagai persiapan menyongsong kehadiran dunia yang bebas tanpa Tuhan dan agama sama sekali. Penganut Jesuit Perancis, Pierre Tielhard de Chardin dan ahli teologi lain seperti Dietrich Bonhoeffer dari Jerman serta Paul Tillich dari Amerika mengakui perkembangan arus yang berpengaruh besar pada perkembangan Kristen dan dunia Barat. Para teolog pun mengakui ketidakmampuan menolak krisis keyakinan dan keagamaan akibat sekularisasi yang dibawa oleh Barat. Oleh karenanya, intelektual Barat menyarankan agar penganut Kristen berpartisipasi dalam proses sekularisasi, termasuk sekularisasi terhadap Kristen itu sendiri.

Adapun para teolog yang menerima sekularisasi bahkan mulai mempersiapkan landasan teologi baru di atas puing-piung Kristen tradisional yang musnah untuk nantinya dibangun kembali Kristen baru yang mengalami sekularisasi. Pemikir Barat dan teolog kemudian bergabung dengan pemikiran neo-modernis. Mereka melangkah untuk menegaskan bahwa sekularisasi memiliki akar dan merupakan buah dari ajaran Injil Gospel. Hal ini dilakukan agar perkembangan Kristen yang ada nampak sejalan dengan perkembangan Barat yang digambarkan dalam bayangan kehidupan sekular.

Perubahan ini tidak serta merta disetujui oleh seluruh penganut Kristen. Namun, munculnya karya Sigmund Freud, The Future of an Illusion yang menyatakan bahwa tuhan itu ilusi -kita sendirilah/nalar kitalah yang membuat tuhan itu, membuat para penentang sekularisasi itu justru turut membantu dalam sekularisasi tersebut. Ada pula diantara penganut Kristen yang menyadari wabah sekularisasi yang berbeda dengan bentuk Kristen tradisional, namun ia pun turut menyerukan di barisan terdepan bentuk baru Kristen yang telah tersekulerisasi. Secara zhahir menentang adanya sekularisasi, namun mereka tetap melakukan kerja sama atau kolaborasi untuk ajaran Kristen yang baru, memodifikasi tugas gereja, pembelajaran heurmenetika, dan melakukan kompromi lainnya sehingga mereka justru memperkuat kedudukan sekularisasi dalam Kristen. Selanjutnya fenomena ini disebut oleh Maritain sebagai kemurtadan yang terpendam –yang terjadi pada kalangan kaum teolog.

Kemurtadan ini memunculkan dilema bagi para teolog untuk mempertahankan Kristen agamanya, namun mereka tidak berdaya melawan para intelektual sehingga mereka tetap harus menjalankan Kristen yang telah tersekulerisasi oleh para intelektual Barat itu.