Memaknai Kembali Ke-Islam-an Kita

Tulisan ini dimuat juga di http://www.dakwatuna.com/2013/09/19/39568/memaknai-kembali-keislaman-kita/#axzz2ffQOHs7x

Memaknai Kembali keislaman Kita

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Fatin Rohmah Nur Wahidah – 19/09/13 | 23:31 | 14 Dhul-Qadah 1434 H

 
 

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Islam itu indah, komprehensif, dan sempurna. Maka apa yang membuat kita tidak mengikutinya. Apa yang membuat kita tidak mau menjalankan ajarannya. Mulai sekarang, berdakwahlah dengan cara yang baik agar nilai Islam itu benar-benar dapat dirasakan oleh semua manusia.

Islam adalah agama yang komprehensif. Namun, mengapa tidak semua orang dapat menerima Islam saat ini? Jika Islam adalah agama yang sempurna tentunya semua orang dengan berbagai latar belakang dan karakter bisa menerimanya sebagai jalan hidup. Ternyata, penyebab utamanya adalah bahwaIslam tertutupi oleh perilaku umatnya.Banyak Negara yang tidak menggunakan sistem Islam tapi kehidupan masyarakatnya sangat Islami: jalanan bersih, warga saling menhormati satu dan lainnya, tekun bekerja, selalu memberikan yang terbaik, dan lainya. Sementara negara-negara Islam identik dengan kebodohan dan kemiskinan. Sungguh suatu ironi yang tragis.

Untuk bisa membumikan ajaran langit di dalam kehidupan sehari-hari, kita harus memahami bagaimana karakter Islam yang sejati. Terdapat 3 karakter Islam. Yaitu, pertama Syumuliyatul Manhaj. Bahwa Islam adalah pedoman hidup yang utuh dan menyeluruh, dia memberikan panduan dalam setiap aktivitas kehidupan kita. Oleh karena itu, nilai-nilai ke-Islam-an yang kita laksanakan/dapatkan di masjid harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari kita, Kedua, Wasathiyatul Manhaj (Pedoman hidup pertengahan). Islam merupakan pedoman hidup pertengahan, bukan pedoman hidup yang ekstrim. Kita memang diwajibkan untuk banyak beribadah kepada-Nya namun banyak pihak juga memiliki hak atas diri kita. Keluarga kita punya hak untuk kita kunjungi, tubuh kita memiliki hak untuk kita berikan istirahat, suami/istri kita juga berhak untuk kita gauli. Sehingga semuanya berimbang dan tidak saling mendzalimi.

Ketiga, Taisiriyatul Manhaj (Pedoman hidup yang memudahkan). Dengan menurunkan Islam, Allah melepaskan belenggu-belenggu diri kita. Islam datang untuk membebaskan manusia dari sesembahan yang tidak patut disembah. Islam justru memudahkan manusia untuk memuliakan diri hanya dengan bertaqwa pada Allah SWT.

Dakwah Islam mestilah dengan baik mengajak orang lain agar dapat tersampaikan bagaimana Islam sesungguhnya. Pun kita harus bisa memberi contoh baik dengan menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita akan menyampaikan nilai-nilai Islam jika kita sendiri tidak menunjukkan ke-Islam-an kita. Islam itu indah, komprehensif, dan sempurna. Maka apa yang membuat kita tidak mengikutinya. Apa yang membuat kita tidak mau menjalankan ajarannya. Mulai sekarang, berdakwahlah dengan cara yang baik agar nilai Islam itu benar-benar dapat dirasakan oleh semua manusia. Maknai kembali Islam sebagai aturan hidup yang patut kita terapkan bukan sekadar teori beragama.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/19/39568/memaknai-kembali-keislaman-kita/#ixzz2ffWCKDaP 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook