menjadi pejuang

Apa rasanya menjadi petarung?

Apa rasanya menjadi pejuang?

terbesit pikiran itu, pasti. mempertanyakan peran itu, ya. memperhitungkan dan mempertimbangkan konsekuensi dari pilihan tersebut, tentu. 

 

sejak kecil, ayahku mengajarkan untuk selalu menjadi mandiri. ibuku pun mengajarkan aku untuk menjadi tegar dan tak mudah menangis. kakekku juga mengajarkan berkorban. pamanku pun turut mengajarkan kepedulian. aku bersyukur dengan ini. bersyukur dengan apa yang telah aku alami. pengalaman, pengetahuan terdahulu, pendidikan, dan segala tantangan selama kubertumbuh dan berkembang.

 

satu yang aku simpulkan: menjadi tokoh, menjadi pejuang, menjadi prajurit, dan menjadi tangguh.

 

ayahku seorang prajurit. keluarga kami terbiasa dengan kesederhanaan, kerja keras, dan netralitas. disiplin menjadi makanan sehari-hari. reinforcement pun digunakan dalam membangun prestasi. ibuku sebagai guru terbiasa dengan kesantunan, berpegang pada prinsip, dan memberikan yang terbaik bagi orang lain. kakekku sebagai pembelajar otodidak sejati dan aktivis organisasi mengajarkan pengorbanan tak terbatas bagi sesama. pamanku sebagai dosen dan aktivis mengajarkanku untuk menjadi ideal dan memiliki idealisme dalam kebangsaan dan keagamaan. 

 

jika kini, ada kebenaran yang terbuka, apa akau harus menutup  mata dan telinga?

maaf jika aku memilih menjadi petarung. maaf jika aku memilih menjadi pejuang. bukan pengekor, bukan kerbau dungu, bukan pula hamba yang terbelenggu. karena aku merdeka. karena aku adalah aku.

Iklan