#PemiraUI

apa jadinya ketika penguasa tak lagi bernurani? apa jadinya ketika penguasa tak  lagi peka dan mementingkan keterbukaan pemikiran?

hari ini PEMIRA UI selesai. penghitungan suara selesai. tpai entah akankah ada cerita lanjut yang merentetinya. hasil sudah keluar. sayang, Adnan-Wize dan Kevin-Wildan sudah mundur. tinggal 1 calon saja. Ivan-Aid (calon yang tidak mundur dan menang suara di atas kertas). Dapat dikatakan, Ivan-Aid menang ketika dua calon lain sudah tak lagi berada dalam kompetisi pemilihan. apa artinya?

alasan mereka mundur adalah terjadinya ‘pencederaian demokrasi’ dengan sistem Pemira yang amburadul. aturan Pemira, tata tertib Pemira, pelanggaran Pemira, kampanye Pemira, hingga pemungutan suara e-vote yang kacau. Server down, TPS tidak buka, ketersediaan layanan e-vote, dan sebagainya.

menyesali. tentu. menyesal karena keanehan ini, kejanggalan ini tidak banyak yang merasakan, belum bisa dibuktikan dengan data konkret. pertanyaannya : apakah kami yang mengada-ngada dan ke-GR-an merasa didzalimi ataukah memang ada sistem tertutup yang tak bisa diraba?

terlalu sistemik, iya mungkin saja. sayangnya, keresahan ini tak dirasakan publik. sayangnya, publik tak mengetahuinya. salut pada mereka yang bertahan dalam ‘pekerjaan kotor’ tersebut. ada satu hal yang masih saya pertanyakan : bisakah sistem e-vote ini dibuka kembali, siapa memilih apa? dengan NPM-nya mungkin. jujur, masih penasaran dengan ‘jumlah suara’ itu. siapa yang memilih sebanyak itu? 

pembelajaran politik harus terus dilakukan. PEMIRA bukan untuk main-main dan  adu presitise semata. Cikal bakalnya ada di sini. kalau ingin dapat hasil yang baik, prosesnya pun haruslah baik: jujur, bersih, adil.🙂