Tantangan Masa Depan Ekonomi Syariah

Tulisan ini dimuat juga di http://www.dakwatuna.com/2013/09/18/39479/tantangan-masa-depan-ekonomi-syariah/#axzz2ffQOHs7x

Tantangan Masa Depan Ekonomi Syariah

Rubrik: Ekonomi | Oleh: Fatin Rohmah Nur Wahidah – 18/09/13 | 11:22 | 13 Dhul-Qadah 1434 H

 
 

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Transformasi masyarakat madani masih terus diupayakan hingga saat ini. Menjadi SDM strategis yang memungkinkan untuk kita masuk dalam tiga sektor kehidupan, sudah tentu perlu mengetahui bagaimana sistem Islam itu dijalankan, salah satunya sistem ekonomi syariah. Ekonomi syariah agaknya tidak terlalu banyak dibicarakan saat ini. Apa ini berarti sudah usang pembahasannya ataukah justru belum banyak orang yang tahu mengenai ekonomi syariah ini?

Fakta dunia ekonomi yang ada saat ini, antara lain: krisis global akibat adanya krisis moralitas ekonomi. Hal ini terkait kapitalisme global yang dilakukan sehingga menimbulkan jurang perbedaan yang makin dalam antara kaya dan miskin. Selain itu, adapun transaksi financial yang terputus dari sektor riil sehingga tidak membantu perputaran penggunaan uang yang nyata di masyarakat. Fakta lainnya adalah penguasaan muslim atas aktivitas ekonomi rendah, kepemilikan asing atas perbankan nasional, serta praktek riba, gharar, maishir yang merajalela.

Praktik kapitalisme dengan riba ternyata terbukti menimbulkan krisis ekonomi setiap periode tertentu sehingga sudah selayaknya lebih diperhatikan kelayakan keberadaannya. Untuk mengatasi masalah yang ada, perbankan syariah hadir sebagai solusi keuangan umat yang menjalankan ajaran-ajaran Islam secara Kaaffah, menegakkan keadilan ekonomi, dan menghindari hal-hal yang dilarang secara syariah di dalam transaksi keuangan.

Meski perbankan syariah menggunakan sistem ekonomi Islam dan menjadi solusi permasalahan ekonomi umat, keberadaan dan perkembangannya di Indonesia termasuk dunia belumlah sedahsyat bank konvensional. Bila mungkin pertumbuhannya meningkat namun masih relative kecil bila dibandingkan bank konvensional yang menggunakan praktik riba. Upaya peningkatan peran dan eksistensi perbankan syariah di masyarakat masih terus ditingkatkan dengan berbagai metode sosialisasi. Tantangan yang dihadapi kini salah satunya adalah bagaimana meningkatkan marketshare perbankan syariah hingga setara dengan perbankan konvensional dan meningkatkan aspek kepatuhan syariah tidak hanya pada produk, tetapi juga keseluruhan standard prosedurnya.

Adapun beberapa keunggulan perbankan syariah, antara lain: menjamin sinkronisasi sektor keuangan (perbankan) dengan sektor riil karena setiap transaksi bank syariah harus memiliki underlying asset/usaha riil sehingga memperkecil dan menghambat kemungkinan kondisi bubble economic secara makroekonomi serta lebih berpihak kepada usaha menengah, kecil dan mikro. Dalam Islam, jika uang tidak dikelola atau diam, maka tidak akan ada valuenya sehingga setiap uang yang ada akan lebih berguna bila dikelola dengan baik pada sektor riil. Artinya, orang yang paling giat mengelola atau mengusahakan perputaran uang tersebutlah yang akan menjadi kaya. Berbanding terbalik dengan sistem konvensional di mana orang kaya adalah orang yang paling banyak uangnya. Jika hal ini dipelihara terus menerus, maka jangan heran bila orang yang tidak punya uang akan menjadi lebih sulit kondisi ekonominya.

Ternyata, hingga sekarang memang tidak banyak yang memahami bagaimana system ekonomi syariah itu berjalan. Namun, upaya penyebarluasan pemahaman ekonomi syariah masih terus dilakukan melihat peluang pengembangan perbankan syariah yang masih terbuka. Antara lain: potensi pasar yang masih luas, pertumbuhan tahunan yang tinggi, peningkatan dukungan pemerintah secara perlahan, dan awareness dunia internasional terhadap industri. Semua ini dilakukan demi tujuan yang baik, maka tidak ada penyesalan untuk berjuang mengabdikan diri menuju kesejahteraan masyarakat yang hakiki.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/18/39479/tantangan-masa-depan-ekonomi-syariah/#ixzz2ffWWKloa 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Iklan

Memaknai Kembali Ke-Islam-an Kita

Tulisan ini dimuat juga di http://www.dakwatuna.com/2013/09/19/39568/memaknai-kembali-keislaman-kita/#axzz2ffQOHs7x

Memaknai Kembali keislaman Kita

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Fatin Rohmah Nur Wahidah – 19/09/13 | 23:31 | 14 Dhul-Qadah 1434 H

 
 

Ilustrasi. (inet)

Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Islam itu indah, komprehensif, dan sempurna. Maka apa yang membuat kita tidak mengikutinya. Apa yang membuat kita tidak mau menjalankan ajarannya. Mulai sekarang, berdakwahlah dengan cara yang baik agar nilai Islam itu benar-benar dapat dirasakan oleh semua manusia.

Islam adalah agama yang komprehensif. Namun, mengapa tidak semua orang dapat menerima Islam saat ini? Jika Islam adalah agama yang sempurna tentunya semua orang dengan berbagai latar belakang dan karakter bisa menerimanya sebagai jalan hidup. Ternyata, penyebab utamanya adalah bahwaIslam tertutupi oleh perilaku umatnya.Banyak Negara yang tidak menggunakan sistem Islam tapi kehidupan masyarakatnya sangat Islami: jalanan bersih, warga saling menhormati satu dan lainnya, tekun bekerja, selalu memberikan yang terbaik, dan lainya. Sementara negara-negara Islam identik dengan kebodohan dan kemiskinan. Sungguh suatu ironi yang tragis.

Untuk bisa membumikan ajaran langit di dalam kehidupan sehari-hari, kita harus memahami bagaimana karakter Islam yang sejati. Terdapat 3 karakter Islam. Yaitu, pertama Syumuliyatul Manhaj. Bahwa Islam adalah pedoman hidup yang utuh dan menyeluruh, dia memberikan panduan dalam setiap aktivitas kehidupan kita. Oleh karena itu, nilai-nilai ke-Islam-an yang kita laksanakan/dapatkan di masjid harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari kita, Kedua, Wasathiyatul Manhaj (Pedoman hidup pertengahan). Islam merupakan pedoman hidup pertengahan, bukan pedoman hidup yang ekstrim. Kita memang diwajibkan untuk banyak beribadah kepada-Nya namun banyak pihak juga memiliki hak atas diri kita. Keluarga kita punya hak untuk kita kunjungi, tubuh kita memiliki hak untuk kita berikan istirahat, suami/istri kita juga berhak untuk kita gauli. Sehingga semuanya berimbang dan tidak saling mendzalimi.

Ketiga, Taisiriyatul Manhaj (Pedoman hidup yang memudahkan). Dengan menurunkan Islam, Allah melepaskan belenggu-belenggu diri kita. Islam datang untuk membebaskan manusia dari sesembahan yang tidak patut disembah. Islam justru memudahkan manusia untuk memuliakan diri hanya dengan bertaqwa pada Allah SWT.

Dakwah Islam mestilah dengan baik mengajak orang lain agar dapat tersampaikan bagaimana Islam sesungguhnya. Pun kita harus bisa memberi contoh baik dengan menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita akan menyampaikan nilai-nilai Islam jika kita sendiri tidak menunjukkan ke-Islam-an kita. Islam itu indah, komprehensif, dan sempurna. Maka apa yang membuat kita tidak mengikutinya. Apa yang membuat kita tidak mau menjalankan ajarannya. Mulai sekarang, berdakwahlah dengan cara yang baik agar nilai Islam itu benar-benar dapat dirasakan oleh semua manusia. Maknai kembali Islam sebagai aturan hidup yang patut kita terapkan bukan sekadar teori beragama.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/09/19/39568/memaknai-kembali-keislaman-kita/#ixzz2ffWCKDaP 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Latar Belakang Kristen Barat Masa Kini; Kemurtadan Yang Terpendam

Tulisan ini juga dimuat di http://www.islampos.com/latar-belakang-kristen-barat-masa-kini-kemurtadan-yang-terpendam-35049/ 

Latar Belakang Kristen Barat Masa Kini; Kemurtadan Yang Terpendam

Oleh Saefullah — 13 Safar 1434 / 27 December 2012 12:58


 

vatican building islampos 268x300 Latar Belakang Kristen Barat Masa Kini; Kemurtadan Yang TerpendamOleh: Fatin Rohmah NW, Mahasiswa S1 Fakutas Psikologi UI 2010/Peserta PPSDMS Jakarta Putri 2012/Ketua Sentra Muslim Cendekia SALAM UI

____________________

FILSUF Kristen terkemuka di kalangan orang Kristen di zamannya, Jacques Maritain menggambarkan agama Kristen dan dunia Barat menghadapi krisis besar yang timbul dari pengalaman, pemahaman, dan penafsiran terhadap kehidupan modern sebagaimana peradaban kota yang dibayangkan. Suatu keadaan yang menzahirkan aliran pemikiran neo-modernis yang lahir dari kalangan Kristen itu sendiri dan para intelektual yang mewakili budaya dan peradaban Barat. Di pertengahan abad ke-19, filsuf-sosiolog Perancis, Auguste Comte telah membayangkan kebangkitan sains dan kejatuhan agama. Ia meyakini dengan logika sekular perkembangan filsafat dan sains Barat bahwa masyarakat berkembang dari primitif ke modern serta adanya pergeseran aspek perkembangan metafisik dari teologi ke sains.

Pada abad yang sama, filsuf-penyair dan peramal asal Jerman, Friedrich Nietzsche meramalkan melalui lisan Zarathustra bahwa Tuhan telah mati. Hal ini diakui oleh para penyair, filsuf dan novelis Barat sebagai persiapan menyongsong kehadiran dunia yang bebas tanpa Tuhan dan agama sama sekali. Penganut Jesuit Perancis, Pierre Tielhard de Chardin dan ahli teologi lain seperti Dietrich Bonhoeffer dari Jerman serta Paul Tillich dari Amerika mengakui perkembangan arus yang berpengaruh besar pada perkembangan Kristen dan dunia Barat. Para teolog pun mengakui ketidakmampuan menolak krisis keyakinan dan keagamaan akibat sekularisasi yang dibawa oleh Barat. Oleh karenanya, intelektual Barat menyarankan agar penganut Kristen berpartisipasi dalam proses sekularisasi, termasuk sekularisasi terhadap Kristen itu sendiri.

Adapun para teolog yang menerima sekularisasi bahkan mulai mempersiapkan landasan teologi baru di atas puing-piung Kristen tradisional yang musnah untuk nantinya dibangun kembali Kristen baru yang mengalami sekularisasi. Pemikir Barat dan teolog kemudian bergabung dengan pemikiran neo-modernis. Mereka melangkah untuk menegaskan bahwa sekularisasi memiliki akar dan merupakan buah dari ajaran Injil Gospel. Hal ini dilakukan agar perkembangan Kristen yang ada nampak sejalan dengan perkembangan Barat yang digambarkan dalam bayangan kehidupan sekular.

Perubahan ini tidak serta merta disetujui oleh seluruh penganut Kristen. Namun, munculnya karya Sigmund Freud, The Future of an Illusion yang menyatakan bahwa tuhan itu ilusi -kita sendirilah/nalar kitalah yang membuat tuhan itu, membuat para penentang sekularisasi itu justru turut membantu dalam sekularisasi tersebut. Ada pula diantara penganut Kristen yang menyadari wabah sekularisasi yang berbeda dengan bentuk Kristen tradisional, namun ia pun turut menyerukan di barisan terdepan bentuk baru Kristen yang telah tersekulerisasi. Secara zhahir menentang adanya sekularisasi, namun mereka tetap melakukan kerja sama atau kolaborasi untuk ajaran Kristen yang baru, memodifikasi tugas gereja, pembelajaran heurmenetika, dan melakukan kompromi lainnya sehingga mereka justru memperkuat kedudukan sekularisasi dalam Kristen. Selanjutnya fenomena ini disebut oleh Maritain sebagai kemurtadan yang terpendam –yang terjadi pada kalangan kaum teolog.

Kemurtadan ini memunculkan dilema bagi para teolog untuk mempertahankan Kristen agamanya, namun mereka tidak berdaya melawan para intelektual sehingga mereka tetap harus menjalankan Kristen yang telah tersekulerisasi oleh para intelektual Barat itu.

Pengaruh Orang Tua dalam Perkembangan Anak

Tulisan ini juga dimuat di http://www.dakwatuna.com/2013/05/25/33792/pengaruh-orang-tua-dalam-perkembangan-anak/#axzz2erO0jkYw pada 25 Mei 2013

dakwatuna.com – Tidak jarang ditemui dalam masyarakat kita adanya pola asuh yang beragam oleh orang tua. Perbedaan pola asuh orang tua ternyata dapat mempengaruhi perkembangan anak. Dalam tulisan ini akan membahas lebih jauh mengenai faktor keluarga, terutama orang tua, yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak terutama perkembangan dalam prestasi anak.

Orang tua adalah aktor utama yang berperan penting dalam perkembangan anak yang diejawantahkan dalam bentuk pola pengasuhan orang tua. Menurut Steinberg, pengasuhan orang tua memiliki dua komponen, yaitu gaya pengasuhan (parenting style) dan praktek pengasuhan (parenting practices). Gaya pengasuhan didefinisikan sebagai sekumpulan sikap yang dikomunikasikan kepada anak dimana perilaku orang tua diekspresikan sehingga menciptakan suasana emosional. Santrock dalam bukunya Educational Psychology (2011) menyinggung 4 macam parenting styles, yaitu authoritative, authoritarian, neglectful, dan indulgent.

1. Authoritative Parenting
Orang tua yang authoritative berperilku hangat namun tegas. Mereka mendorong anaknya menjadi mandiri dan memiliki kebebasan namun tetap meberi batas dan kontrol pada anaknya. Mereka memiliki standard namun juga memberi harapan yang disesuaikan dengan perkembangan anak. Mereka menunjukkan kasih sayang, sabar mendengarkan anaknya, mendukung keterlibatan anak dalam membuat keputusan keluarga, dan menanamkan kebiasaan saling menghargai hak-hak orang tua dan anak. Hal ini mampu  memberi kesempatan kedua pihak (orang tua dan anak) untuk dapat saling memahami satu sama lain dan menghasilkan keputusan yang dapat diterima kedua pihak.

Kualitas pengasuhan ini diyakini dapat lebih memicu  keberanian, motivasi, dan kemandirian. Pola asuh ini juga dapat mendorong tumbuhnya kemampuan sosial, meningkatkan rasa percaya diri, dan tanggung jawab sosial. Mereka juga tumbuh dengan baik, bahagia, penuh semangat, dan memiliki kemampuan pengendalian diri sehingga mereka memiliki kematangan sosial dan moral, lincah bersosial, adaptif, kreatif, tekun belajar di sekolah, serta mencapai prestasi belajar yang tinggi. Pada intinya, orang tua yang menggunakan pola authoritative dapat meningkatkan perasaan positif anak, memiliki kapabilitas untuk bertanggung jawab, dan  mandiri.

2. Authoritarian Parenting
Orang tua authoritarian menuntut kepatuhan dan konformitas yang tinggi dari anak-anak. Mereka lebih banyak menggunakan hukuman, batasan, kediktatoran, dan kaku. Mereka memiliki standard yang dibuat sendiri baik dalam aturan, keputusan, dan tuntutan yang harus ditaati anaknya. Bila dibandingkan dengan pola asuh lainnya, orang tua authoritarian cenderung kurang hangat, tidak ramah, kurang menerima, dan kurang mendukung kemauan anak, bahkan lebih suka melarang anaknya mendapat otonomi ataupun terlibat dalam pembuatan keputusan.

Pengasuhan dengan pola ini berpotensi memunculkan pemberontakan pada saat remaja, ketergantungan anak apada orang tua, merasa cemas dalam pembandingan sosial, gagal dalam aktivitas kreatif, dan tidak efektif dalam interaksi sosial. Ia juga cenderung kehilangan kemampuan bereksplorasi, mengucilkan diri, frustasi, tidak berani menghadapi tantangan, kurang berkeinginan mengetahi secara intelektual, kurang percaya diri, serta tidak bahagia.

3. Neglect Parenting
Pola pengasuhan ini disebut juga indifferent parenting. Dalam  pola pengasuhan  ini, orang tua hanya menunjukkan sedikit komitmen dalam mengasuh anak, mereka hanya memiliki sedikit waktu dan perhatian untuk anaknya. Akibatnya, mereka menanggulangi tuntutan anak dengan memberikan apapun yang barang yang diinginkan selama dapat diperoleh. Padahal hal tersebut tidak baik untuk jangka panjang anaknya, misalnya terkait peran dalam pekerjaan rumah dan perilaku sosial yang dapat diterima secara umum. Orang tua pola ini cenderung tidak tahu banyak tentang aktivitas anaknya. Mereka jarang berbicang-bincang dan hampir tidak mempedulikan pendapat anaknya dalam membuat keputusan.

Orang tua neglect atau indifferent bisa saja menganiaya anaknya, menerlantarkan anaknya, dan mengabaikan  kebutuhan  maupun kesulitan anaknya. Minimnya kehangatan dan pengawasan orang tua membuatnya terpisah secara emosional dengan anaknya sehingga membuat anak minimal dalam segala aspek, baik kognisi, bermain, kemampuan emosional dan sosial termasuk kedekatan/kelekatan pada orang lain. Jika terus menerus terjadi, akan membuat anak berkemampuan rendah dalam menolerir frustasi, pengendalian emosi, perilaku, dan prestasi sekolahnya pun amat buruk. Ia sering kurang matang, kurang bertanggung jawab, lebih mudah dihasut dan dibujuk teman sebayanya, serta kurang mampu menimbang posisinya.

4. Indulgent Parenting
Orang tua indulgent atu permissive berperilaku  highly  involved  pada anaknya. Mereka cenderung  menerima, lunak, dan lebih pasif dalam  kedisiplinan. Mereka mengumbar cinta kasih tetapi menempatkan sangat sedikit tuntutan terhadap perilaku anak dan memberi kebebasan tinggi pada anak untuk bertindak sesuai keinginannya. Terkadang orang tuanya mengizinkan ia mengambil keputusn meski belum mampu melakukannya. Orang tua semacam ini cenderung memanjakan anak, ia membiarkan anaknya mengganggu orang lain, melindungi anak secara berlebihan, membiarkan kesalahan diperbuat anaknya, menjauhkan anak dari paksaan, keharusan, hukuman, dan enggan  meluruskan  penyimpangan perilaku anak.

Baumrind (dalam Barus, 2003) menemukan bahwa anak yang menerima pola pengasuhan ini sangat tidak matang dalam berbagai aspek  psikososial. Mereka impulsive, tidak patuh, menentang jika diminta sesuatu yang bertentangan dengan keinginan sesaatnya, kurang tenggang rasa, dan kurang toleran dalam bersosialisasi. Pemanjaan terhadap anak dapat menyuburkan keinginan ketergantungan dan melemahkan dorongan untuk berprestasi. Thornburg (dalam Barus, 2003) mengemukakan dua alasan mengapa anak yang diasuh dengan pola seperti ini tidak dapat ditingkatkan perilaku tanggung jawabnya. Yaitu, (1) parents who are permissive give little guidance or direction to their adolescents and (2) adolescents do not tend to model the behavior of a parent in the permissive home.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pola asuh orang tua begitu berpengaruh terhadap kondisi perkembangan anak termasuk dalam prestasinya. Bila anak berada dalam pengasuhan yang kondusif, maka anak akan terbantu dalam proses kematangan perkembangan kognitif, afeksi, dan konasinya. Anak yang dibesarkan dari keluarga authoritative lebih mapan secara psikososial dan lebih berprestasi dibandingkan anak-anak yang dibesarkan dari keluarga authoritarian, neglect, dan indulgent.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/25/33792/pengaruh-orang-tua-dalam-perkembangan-anak/#ixzz2eraoFKOz 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Wanita yang Tahu Kadarnya

Tulisan ini juga dimuat di http://www.fimadani.com/wanita-yang-tahu-kadarnya/ pada December 17, 2012 11:31 am | Muslimah

 
Wanita yang Tahu Kadarnya
Photo © Evgeniy Maynagashev
 

Terlepas dari bagaimana masyarakat memperlakukan wanita, Allah justru merahmati wanita yang tahu kadarnya karena ia berbeda dengan pria.

Bagaimana masyarakat memandang wanita di masa kini dan apa peranan wanita dewasa ini? Tentunya hal tersebut telah menjadi bahan perbincangan masyarakat selama ini. Sebenarnya masalah ini pun telah ada sejak zaman sebelum Rasulullah ada. Namun, jawaban setiap zamannya tentunya berbeda. Di zaman sebelum Rasulullah, wanita tidak dianggap dan direndahkan. Hal ini justru berbeda ketika zaman Rasulullah dimana wanita begitu dihargai dan diagungkan.

 Terlepas dari bagaimana masyarakat memperlakukan wanita, Allah justru merahmati wanita yang tahu kadarnya karena ia berbeda dengan pria. Apapun perannya dan aktifitasnya, ia tahu bagaimana harus bersikap serta berbuat. Bagaimana ia harus menjaga izzah dan ifahnya serta pergaulannya dengan laki-laki. Misalnya dalam bekerja, ada etika dan batasan yang dijaga terutama terkait pergaulan dengan laki-laki namun, tetap mempertahankan profesionalitas kerja.

Wanita tetap menunjukan kecerdasan, kemandirian, keterampilan, professional, namun tidak melebur seperti laki-laki. Ia tetap mejaga fikrah dan sikap pemalunya. Seperti putri Syu’aib yang harus bekerja menari nafkah karena ayahnya sudah tua. Ia harus menggembala kambing bersama penggembala lain yang laki-laki, namun ia tetap menjaga diri agar tidak bercampur baur dengan mereka.

Ada banyak kisah sahabat wanita para nabi ataupun kisah wanita-wanita shalihah di zamannya. Contoh kisah lain adalah Siti Hajar, ibu dari nabi Ismail yang bekerja keras mengelola sawahnya dan bercocok tanam  untuk menghidupi keluarganya. Kisah lainnya yaitu Maryam yang suka menyepi dan beribadah pada Allah hingga ia dijuluki al-batuur (terikat pada ibadah) karena ketaatannya beribadah pada Allah. Hal ini membuat ia mendapat keberkahan dan lidungan dari Allah.

Selain itu, peran wanita yang ahli politik adalah Ratu Balqis. Ia memiliki kemampuan yang baik dalam mengorganisir pikiran dan ide para bawahannya. Ia berkarakter visioner, solutif, dan artikulatif seperti dijelaskan dalam QS An Naml: 29-44. Dengan posisinya sebagai ratu, ia harus bisa memilah mana yang penting, mana yang menjadi prioritas dikerjakan sekarang atau besok, bekerja dengan keras, penuh daya dan upaya.

Ia tawadhu dan menjaga rasa malunya, namun tidak minder. Wanita yang tahu kadarnya akan tetap produktif dengan tetap menjaga dirinya sebagai wanita. Ia pun memahami peran utamanya sebagai seorang  istri maupun ibu dan melaksanakan peran tersebut dengan baik. Wanita yang tahu kadarnya akan menyadari perannya dan memahami sikap serta tingkah lakunya dengan posisi ia sebagai seorang wanita.

 

Oleh: Fatin Rohmah NW, Depok,
Facebook – Twitter  – Blog 

Perempuan, Asi, dan Asuhan

Tulisan ini juga dimuat di http://umihanif.speedytaqwa.com/post/detail/2982/perempuan-asi-dan-asuhan dan situs fimadani.com

 

Perempuan, ASI, dan Asuhan

Photo © Michael Howard

 

Perempuan, rasanya tak pernah bosan saya mendengar dan membicarakan tentang makhluk satu ini. Perempuan dengan berbagai keunikan dan keterbatasanya adalah makhluk luar biasa yang dijaga betul kehormatannya dalam agama saya, Islam. Ia diberikan kemudahan dan berbagai kenikmatan yang memang sudah disesuaikan dengan kemampuannya. Bagi saya, perempuan itu bukan makhluk lemah, tak berdaya, dan bukan makhuk yang harus ditutut sama persis dengan laki-laki. Jika jihadnya laki-laki adalah berperang di jalan dakwah, maka merawat anak dan keluarga adalah bentuk jihadnya perempuan.

Salah satu keistimewaan dari perempuan adalah memiliki ASI. Al Quran telah menganjurkan agar setiap ibu dapat memberikan ASI pada anaknya hingga usia dua tahun. Allah berfirman dalam QS Al Baqarah: 233, “Dan para ibu yang menyusui anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang mau menyempurnakan penyusunan.” Meski kini sudah ada susu formula yang diramu dengan teknologi tinggi, namun ASI tetap tak tergantikan baik secara unsur, komposisi, dan efek manfaat yang diberikan. Penelitian dari WHO menganjurkan pemberian ASI didasarkan atas keinginan dari bayi. Setiap kali bayi menginginkan, maka ketika itulah saat yang terbaik pemberian ASI.

Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak, DTM&H, MPH dalam sambutannya pada seminar tentang “Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif Bagi Bayi Dalam Mendukung MDGs” di Jakarta, Selasa 29 Maret 2011 menambahkan bahwa delapan puluh persen perkembangan otak anak dimulai sejak dalam kandungan sampai usia 3 tahun yang dikenal dengan periode emas. Oleh karena itu, diperlukan pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan dan dapat diteruskan sampai anak berusia 2 tahun. Hal tersebut dikarenakan ASI mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan mineral yang dibutuhkan bayi dalam jumlah yang seimbang.

Sebuah penelitian ilmiah baru menunjukkan bahwa menyusui sangat berperan membantu berkurangnya risiko kanker payudara di kalangan ibu. Melinda Johnson, ahli gizi University of Arizona menyebutkan bahwa ASI merupakan asupan paling ideal bagi pertumbuhan anak. Kandungan  docosahexaenoic acid (DHA) dan omega 3 merupakan asupan yang sangat baik bagi pertumbuhan otak dan sistem saraf anak. Dengan adanya komponen ini, dapat menjadikan anak berprestasi akademik yang lebih baik.

ASI juga kaya akan karotenoid dan selenium sehingga ASI berperan dalam sistem pertahanan tubuh bayi untuk mencegah berbagai penyakit. ASI mengandung antibodi yang melindungi bayi dari diare dan pneumonia yang termasuk dua penyakit utama penyebab kematian anak-anak di dunia. Setiap tetes ASI juga mengandung mineral dan enzim untuk pencegahan penyakit dan antibodi yang lebih efektif dibandingkan dengan kandungan yang terdapat dalam susu formula.

ASI dapat memperkuat hubungan emosional anak dan ibu. Baru-baru ini ditemukan hormon kepercayaan pada otak ibu yang menyusui anaknya. Pada saat bayi menyusu dari payudara ibunya, maka sel-sel saraf pada otak ibu akan mengeluarkan hormon kepercayaan yang dapat juga membangkitkan rasa kepercayaan pada bayi yang disusui. Proses ini turut mengurangi rasa takut yang ada pada bayi terhadap dunia baru yang ia alami. Pemberian ASI ini dapat membentuk perkembangan emosional karena dalam dekapan ibu selama disusui, bayi bersentuhan langsung dengan ibu sehingga mendapatkan kehangatan, kasih sayang dan rasa aman.

Begitu besar manfaat ASI untuk bayi dan ibu yang menyusui. Begitu mulia pula para wanita yang mau menyusui bayinya dengan kerelaan. Ketika seorang perempuan mau menyusui anaknya, dapat dikatakan ia turut membangun bangsa ini melalui generasi baru yang dilahirkannya. Dengan memberikan ASI pada anaknya, hal ini menjadi salah satu bentuk pengasuhan seorang ibu untuk turut mencerdaskan benih generasi masa depan bangsa ini. Apalagi jika seorang ibu juga mau mendidik anaknya dengan tulus dan cara yang baik agar ia  menjadi manusia yang cerdas, kuat, dan berakhlak mulia.

Sejak anak dilahirkan, anak-anak telah membutuhkan ibu sebagai pihak yang penting untuk bergantung hidup dan harapan mereka sebelum mengenal siapapun. Maka, tidak berlebihan bila ibu disebut sebagai pendidik pertama dan utama. Seorang ibu yang betul-betul menyadari perannya sebagai pendidik utama, tidak akan mempermasalahkan pendidikannya yang rendah karena itu hanya salah satu bagian dari pendidikan yang perlu diajarkan pada anak. Sikap yang baik, empati, saling menghormati, tata krama, menolong, cerdik, dan hal-hal lain yang tidak secara khusus diajarkan di sekolah, padahal inilah yang lebih penting diajarkan. Maka, tidak salah jika Pohan (1986) dalam bukunya yang berjudul “Masalah Anak dan Anak Bermasalah” mendukung bahwa orang tua harus mampu meng-upgrade diri agar dapat mengimbangi, menyelaraskan, menyokong, dan memperkokoh pendidikan keluarga guna mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kebaikan.

Penting bagi orang tua, ayah dan ibu, untuk saling bekerja sama dalam menumbuh kembangkan serta mendidik anaknya. Kunci keberhasilan orang tua dalam mendidik anak menurut Pohan (1986) adalah keserasian dan kasih sayang. Dalam suasana kasih sayang dan keserasian, orang tua dapat dengan ikhlas bekerja sama, serta rela berkorban mengabdi untuk mendidik anak mereka.

Peran seorang perempuan sebagai orang tua anak adalah penting dalam membesarkan dan mendidik anak mereka. Ia juga berperan menjadi agent of change dalam pembangunan kesehatan membawa masyarakat menuju masyarakat yang sehat dan mandiri. Tentu akan sangat mulia seorang perempuan yang mendidikasikan dirinya untuk keluarga terutama anak-anaknya. Dengan kondisi anak yang sehat, gizi yang tercukupi, kasih sayang yang diberikan sang ibu, dan pendidikan utama dari sang ibu, anak Indonesia siap tumbuh menjadi manusia yang cerdas, kuat, dan berakhlak mulia guna memajukan bangsa ini. Semuanya bisa dimulai dari keluarga terutama dalam hal pengasuhan ibu, yaitu dengan diawali pemberian ASI eksklusif bagi anak yang mencukupi.

Oleh: Fatin Rohmah NW, Depok

Referensi:

1. Alkaheel, A. (2012). ASI: Sungguh luar biasa. Tarbawi Majalah Inspirasi. Jakarta: PT Media Amal Tarbawi;

2. Pohan, M.I. (1986).Masalah anak dan anak bermasalah. Jakarta: Intermedia;

 

AKHLAQ

Fatin Rohmah Nur Wahidah

 
-memperbaiki akhlak dengan tujuan membentuk akhlak yang mulia merupakan faktor utama bagi kekuatan dan keagungan umat-

Sesungguhnya memperbaiki akhlak dengan tujuan membentuk akhlak yang mulia merupakan faktor utama bagi kekuatan dan keagungan umat. Sesungguhnya nilai suatu umat itu terdapat pada akhlaknya. Jika akhlak itu hilang maka hilang pula nilai umat tersebut. Karena itulah perbaikan akhlak memiliki peranan yang sangat penting, karena dia sangat berpengaruh bagi baik atau buruknya suatu umat.

Di samping itu perbaikan akhlak menjadi landasan tegaknya perintah-perintah Allâh Ta’ala di dalam jiwa manusia. Jika jiwa manusia dibiasakan dengan akhlak mulia dan lurus, niscaya jiwa tersebut akan senang dan bangga dalam mengagungkan syiar-syiar Allâh Ta’ala dan berjalan diatas manhaj-Nya.

Tidak ada ucapan yang lebih benar dari firman Allâh Ta’ala. Dia berfirman:

Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.
(QS. Al-Hajj/22: 32)

Akhlak yang mulia merupakan inti ajaran syariat yang toleran dan kumpulan ajaran agama yang menjadi tujuan diutusnya Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam. Karena itu jiwa ini harus dikondisikan dengan akhlak tersebut sehingga mendapatkan kebahagiaan dan patuh terhadap perintah Allâh Ta’ala.

Sesungguhnya tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dan membersihkannya dari setiap kotoran, juga meningkatkan pada akhlak yang mulia. Karena tazkiyatun nufusmerupakan landasan dalam memulai sebuah kehidupan yang islami sesuai dengan manhaj para nabi.

“bahkan engkau kan terlindungi, akibat akhlaq yang kamu perangaikan sendiri”
** MM_pengagum alam semesta **
 

Pendidik(an) Anak Lapas

Tulisan ini juga dimaut di http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/13/05/02/mm5jgr-pendidikan-untuk-anak-lapas pada 2 Mei 2013

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Fatin Rohmah Nur Wahidah

Pendidikan adalah hak setiap warga negara. Sebagaimana telah disebutkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bahwa tujuan bangsa Indonesia pun salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka tidak ada alasan negara untuk mengelak dari amanat undang-undang tersebut. Didukung oleh pasal 31 dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. 

Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”. Dasar hukum dari undang-undang telah jelas. Artinya pendidikan adalah hal utama bagi setiap warga negara Indonesia.

Disebutkan bahwa pendidikan yang dimaksudkan adalah pendidikan yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, diharapkan dapat memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Artinya, sebuah pendidikan dirancang untuk dapat mencerdaskan kehidupan bangsa hingga memajukan peradaban serta kesejahteraan umat. Bila maksud yang baik dari pendidikan ini tidak dilaksanakan, maka bisa jadi tidak ada lagi kemajuan peradaban bangsa yang cerdas dan sejahtera.

Guna mewujudkan hal tersebut, salah satu kebijakan pemerintah yang kini tengah diupayakan adalah menyelenggarakan program wajib belajar 12 tahun, yang menurut undang-undang sistem pendidikan nasional pasal 1, program ini harus diikuti oleh Warga Negara Indonesia. Menteri pendidikan dan kebudayaan, Muhammad Nuh, dalam sambutannya di acara Peringatan Hari Guru Nasional 2012 dan HUT ke-67 PGRI pun mengatakan bahwa agenda yang sedang dibuatnya kini adalah memperluas akses semua anak bangsa dalam dunia pendidikan. Semua anak bangsa berarti semua anak yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia dimana pun ia berada, tak terkecuali anak-anak yang berada dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas).

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, jumlah narapidana anak (anak didik pemasyarakatan) meningkat dari 5.630 anak pada Maret 2008 menjadi 6.308 anak pada awal tahun 2010. Selama menjalani hukuman, banyak anak kehilangan berbagai haknya, seperti hak kebebasan, hak tumbuh kembang, termasuk hak memperoleh pendidikan.

Pada hakikatnya warga binaan pemasyarakatan sebagai insan dan sumber daya manusia harus diperlakukan dengan baik, termasuk terpenuhi hak pendidikan bagi anak-anak di Lapas. Meskipun mereka berada pada lembaga permasyarakatan tetapi hak pendidikan mereka tidak boleh diabaikan. Memperkuat sekolah di Lapas dengan membuka akses bagi penghuni khususnya Lapas anak adalah hal yang patut diperhatikan agar anak-anak tetap dapat menimba ilmu dan melanjutkan pendidikannya. 

Bila anak Lapas tidak mendapat pendidikan yang memadai, mereka tidak dapat memiliki bekal ilmu yang baik setelah menghirup udara bebas untuk menghadapi dunia di luar penjara yang kompetitif. Mereka akan terisolasi, tidak dapat mengaktualisasikan diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi bodoh dan tertinggal sehingga kemungkinan besar mereka dikucilkan dan tidak dapat diterima sekembalinya mereka ke tengah-tengah masyarakat. 

Dampak besar dari itu, Indonesia akan kekurangan  individu dan sumber daya yang baik, berkarakter, dan mampu memajukan peradaban serta kesejahteraan umat dikarenakan tidak mampu memperluas jangkauan pendidikannya hingga Lapas Anak.

Keberadaan guru sebagai pengajar menjadi salah satu faktor penting yang patut diperhatikan. Sebagaimana disebutkan juga oleh M. Nuh yang menekankan dua hal yang perlu diperhatikan agar pendidikan semakin berkualitas, yaitu kurikulum dan guru. Guru tidak dapat dilepaskan dalam proses pendidikan. 

Dalam kelas, ia membantu siswa memahami materi pelajaran dan melakukan pembinaan pada anak didiknya. Ia juga dijadikan pantan sebagaimana yang diungkapkan masyarakat Jawa bahwa guru itu ‘digugu lan ditiru’. Artinya digugu adalah dipercaya, diikuti, dijadikan rujukan sedangkan ditiru artinya dicontoh atau menjadi panutan. 

Santrock menyatakan bahwa guru berkontribusi dalam proses belajar siswa. Ia dapat menjadi memberi penjelasan terkait materi, mengembangkan pengetahuan siswa dengan pertanyaan-pertanyaan, memberikan tugas yang dapat menambah pengetahuan siswa, memberikan motivasi belajar, menjadi teman bagi siswa, menjalin komunikasi yang baik dengan siswa, dan membantu meningkatkan pemahaman serta pengetahuan siswa. 

Bila mengacu pada tujuan pendidikan nasional Indonesia, dapat ditambahkan bahwa guru yang baik juga setidaknya mampu mengupayakan anak didiknya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Salah satu prinsip dalam penyelenggaraan pendidikan menurut Undang-Undang No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran. 

Dalam hal ini prinsip penyelenggaraan pendidikan sudah dijelaskan dengan memberi teladan, memotivasi, dan mengembangkan diri siswa. Artinya, keberadaan guru semakin penting dirasakan sebagai salah satu pihak yang turut berperan mewujudkan hal tersebut. 

Namun pada kenyataannya, adanya guru untuk mengajar pendidikan di Lapas berkualitas rendah masih sedikit. Jangan dulu bicara masalah guru yang harusnya melakukan tugas dan perannya karena jumlahnya saja masih minim. Kualifikasi dan jumlah guru di Lapas tidak memadai. Guru yang ada bukan berasal dari lulusan keguruan karena rata-rata lulusan SMA/sederajat. 

Jumlah guru di Lapas ini hingga 2005 untuk SD, SMP, dan paket C sebanyak 40 orang dengan jumlah siswanya sebanyak 284 anak. Yang mendapat tugas sebagai guru bagi anak-anak penghuni Lapas di Tangerang berusia di bawah usia 15 tahun adalah sejumlah pegawai Lapas Anak Tangerang dan beberapa anggota masyarakat. Pihak Lapas tidak bisa mendatangkan guru karena keterbatasan dana sehingga pihak Lapas ini bekerja sama dengan sekolah lain sebagai induknya. 

Guru, tentu menjadi hal penting yang dibutuhkan kini di Lapas Anak. Kualitas guru yang baik dan tentunya kuantitas yang memadai, akan dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan di Lapas Anak. Sehingga anak-anak Lapas juga semakin memiliki harapan masa depan. Dibutuhkan upaya serius pemerintah maupun masyarakat untuk menyelesaikan masalah kekurangan guru di Lapas Anak. Satu lagi pe-er masalah bangsa yang perlu diselesaikan. Semoga kita dapat menjadi bagian dalam pemecahan masalah bangsa tercinta ini. Semoga.

Mahasiswa Fakultas Psikologi UI
fatin.rohmah@ui.ac.id

Revolusi Sekolah (Review Buku)

Tulisan ini juga dimuat di http://formulapurbalingga.wordpress.com/2011/02/12/revolusi-sekolah-review-buku/ pada 12 Februari 2011

Yang saya tuliskan ini adalah bagian dari isi buku terbitan DAR! Mizan, 2006, karya Fahd Djibran berjudul Revolusi Sekolah. Izinkan saya berbagi, kawan^^…

Beberapa orang terkaya di dunia, salah satunya Bill Gates tidak lulus sekolah. Ia memang lebih memilih tidak sekolah dan nekat mengambil jalan kehidupan lain. Tapi, ternyata ia sukses. Kenapa? Karena ia menemukan kehidupannya. Ia pikir, sekolah tidak mendidiknya menjadi seorang boss besar tetapi hanya menjadi pekerja.

Hemm.. coba ingat, ketika guru TK kita bertanya, mau jadi apa kelak? Kebanyakan mengarahkan kita menjadi dokter, insinyur, pilot, dan sederet profesi pekerja lainnya yang terkait kapitalisme. Jarang ada yang dengan senang hati mengarahkan/menyambut minat muridnya menjadi pelukis, padahal pelajaran kita lebih sering menggambar, atau menjadi seniman, dan sebagainya.

Menurut buku tersebut, sekolah saja ternyata tidak cukup untuk menjadikan kita sukses. Lalu apa? Yang lebih menentukan adalah ide, keyakinan, visi masa depan yang kuat, keberanian mengambil risiko, kemauan, dan tekad yang kuat.

Islam juga bukan mengajarkan kita untuk bersekolah, melainkan menuntut ilmu. Seperti hadis Nabi, “uthlub al-‘ilm walau bishin”. Tuntutlah ilmu walau sampai ke Negeri China. Islam menuntut kita untuk mendapat ilmu/pendidikan bukan sekolahnya. Pendidikan tidak selalu bernama sekolah, bukan? Berarti ketika sekolah, yang lebih penting adalah pendidikannya. Dapat apa kita dari sekolah? Perubahan apa yang kita dapat setelah bersekolah? Dan sebagainya.

Sekolah harus lebih dimaknai lebih dari sekadar rutinitas belaka. Karena sekali lagi, yang lebih penting adalah ilmunya. Ketika kita sudah menyadari hal itu, maka tidak akan ada lagi menyontek, membolos, malas mengerjakan PR atau tugas, dan hal-hal tidak menyenangkan lain yang sering terjadi di sekolah.

Harus ada revolusi sekolah. Harus ada perubahan pola pikir agar orientasi/tujuan kita bukan hanya masalah nilai rapot. Kita harus punya kesadaran total untuk memahami apa tujuan kita bersekolah. Salah satu dari empat model kesadaran menurut Paulo Freire adalah kesadaran naif. Yaitu ketika kita ingin sukses tapi tidak tahu bagaimana caranya/tidak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal semestinya kita punya kesadaran transformatif, sadar apa tujuan akhir kita bersekolah. Ingin seperti apa kita nanti, apa saja yang bisa kita lakukan, dan apa saja yang sudah kita lakukan selama ini untuk mencapai tujuan itu, agar tidak membebek saja mengikuti teman, kemauan orang tua, atau karena paksaan.

Pada awalnya, sekolah hanyalah kegiatan sampingan untuk mengisi waktu luang. Itulah sebabnya dinamakan scholae, yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti waktu luang/waktu kosong. Aktivitasnya dilakukan oleh orang-orang yang ingin mencari ilmu dan kebijaksanaan kepada para filsuf. Atau sebaliknya, para filsuf yang berkeliling pada waktu luang mengajarkan ilmu dan kebijaksanaan kepada orang-orang. Tempatnya pun di alam bebas atau di manapun yang mereka inginkan. Hasilnya, pada waktu itu, sekolah sukses sebagai sarana transfer ilmu karena antara pengajar dan yang diajar sama-sama ikhlas ingin saling belajar.

Selain masyarakat Yunani, hal yang sama juga terjadi pada masa kerajaan Hindu-Budha, masa Rasulullah, dan masa para wali di Indonesia. Namun sejak revolusi industri di Inggris, sekolah mulai diinstitusikan dan diformalkan. Penemuan teknologi dan mesin-mesin baru mendorong bangsa Eropa menjelajahi dunia mencari sumber bahan mentah untuk modal. Penjajahan, kolonialisme, dan imperialisme yang dilakukan ternyata juga untuk mendapat pekerja yang siap dibayar rendah. Makanya dibentuk sekolah yang formal, tersekat dinding-dinding, ada guru sebagai pengajar, dan ada bahan ajar. Bahan ajar disiapkan untuk dipelajari murid agar mereka “siap pakai” sesuai kebutuhan industri yang mereka kembangkan. Sekolah diarahkan guna menciptakan pegawai rendahan untuk kepentingan penjajah sehingga sekolah hanya menghasilkan orang-orang pesanan yang nantinya jadi pegawai, tak punya identitas kemanusiaan.

Itulah yang terjadi sampai sekarang. Bagi kita yang menjadikan sekolah untuk kehidupan, bersekolah adalah untuk memenuhi kehidupan dengan cara bekerja, dan memang begitulah faktanya. Kita akan dan harus terus bekerja untuk kehidupan kita. Akan tetapi, yang selama ini salah adalah kita terlalu banyak dibentuk menjadi sesuatu. Kita tak punya kebebasan untuk memilih pilihan kita sendiri, apalagi dengan adanya penjurusan. Bisa kita hitung berapa persen antara kemauan kita yang sesungguhnya dengan campur tangan sekolah dalam menentukan kita menjadi apa dan siapa.

Nah, kalau kamu pengen sukses dan memilih langkah seperti Bill Gates, kamu harus nekat dan percaya bisa sehebat dia. Tapi kalau ga, mending belajar aja yang bener di sekolah^^. Sekali lagi bukan hanya datang ke sekolah, cari gebetan, nongkrong sama temen-temen, atau cuma pingin foya-foya ketemu temen2. Perbaiki niat kamu untuk bisa dapet ilmu. Munculkan kesadaran transformatif-mu.  Buku ini akan memberikan gambaran lebih jelas dan semangat yang lebih luar biasa kalau kamu baca sendiri. Hehehe…  dibahas pula bentuk-bentuk kekerasan yang ada di sekolah. Bahkan yang termasuk kekerasan non-fisik (psikologis) yang sangat halus sekalipun terkadang terjadi di sekolah tanpa kita sadari.

Penulis juga memberikan cerita pengalamannya dulu ketika melakukan revolusi sekolah. Karena sistem dalam sekolah yang sulit untuk “diotak-atik” bagi anak-anak ukuran seperti kita, makanya ada beberapa jurus yang disarankan untuk bisa mencapai revolusi sekolah. Banyak usaha untuk melakukan perubahan secara hebat ke arah yang lebih hebat dengan segera di sekolah, antara lain: tentunya dimulai dari jurus merevolusi diri sendiri, selain itu jurus membentuk opini, berani “speak out”, mencari pendukung, membuka ruang dialog, tebar senyum, membuat atribut anti kekerasan, melakukan perlawanan, pemberian penghargaan pura-pura, mengkritisi dengan drama, hingga jurus mencari advokasi.  Seru deh pokoknya! Selamat membaca. Semoga bermanfaat!^^…

*penulis adalah mahasiswi aktif di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan juga alumni SMA N 1 Purbalingga

Tulisan ini juga dimuat di http://www.kammikultural.org/2013/02/mencintai-kammi-dengan-sederhana.html pada 24 Februari 2013

Mencintai KAMMI dengan Sederhana

oleh: Fatin Rohmah Nur Wahidah *)

“Kami hanya ingin mencintai KAMMI dengan sederhana…”

-KAMMI Kultural

fatinSepenggal kalimat itu nampaknya kini menjadi slogan manis khas KAMMI kultural yang katanya ingin ‘mencintai KAMMI dengan sederhana’. Agaknya, kalimat itu bisa memiliki beragam makna yang dapat didefinisikan. Mendengar kalimat itu mengingatkan saya akan sepenggal puisi dari penyair ternama Sapardi Djoko Damono,

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana | dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu | Aku ingin mencintaimu dengan sederhana | dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Puisi tersebut terdengar sederhana dengan perumpamaannya. Terkesan manis, tak berlebihan dengan istilahnya. Namun, apakah kata ‘sederhana’ pun menjadi diksi yang tepat disematkan untuk mencintai KAMMI? Lalu bagaimana mereka akan mencintai KAMMI dengan cara yang sederhana?

Apakah mencintai dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api, yang menjadikannya abu? Sangat terlambat… sehingga terkalahkan oleh api yang terlanjur membakarnya. Ataukah dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada? Juga sangat terlambat … sehingga tak menangkap dengan tepat pesan yang disampaikannya.

Ada pula yang mencintai dengan kesederhanaan atas apa yang bisa dilakukan. Dengan sederhana, menjadikannya biasa saja. Dengan sederhana, mencintainya tanpa upaya lebih lainnya. Dengan sederhana, hanya berusaha ala kadanya.

Cinta lain yang sederhana itu, bisa jadi sesederhana cinta Abdurrahman bin Auf saat meninggalkan seluruh hartanya di Mekkah demi mengikuti hijrahnya Rasulullah. Bisa jadi pula sesederhana cinta Abu Bakar yang tetap diam saat seekor ular menggigit kakinya di Gua Tsur, demi tak ingin membangunkan Rasulullah yang tertidur di pangkuannya. Atau mungkin sesederhana cinta Bilal bin Rabah yang rela terpanggang di bawah batu besar pada teriknya gurun. Mungkin juga sesederhana cinta Abu Dzar Al Ghifari yang berjalan kaki ratusan kilo menyusul pasukan Tabuk.

Lalu, bagaimana mencintai dengan sederhana kepada KAMMI? Mencintai dengan tak berlebihan, jujur, tulus, menerima apa adanya ia atau mencintai dengan ala kadarnya, seadanya, sekenanya, se-biasa-nya?

Biarkan mereka yang ‘ingin mencintai KAMMI dengan sederhana’ menjawabnya. Dengan aksi nyata, dengan pengorbanan luar biasa, dengan produktivitas karya, atau dengan cara sederhana lainnya.

 jika cinta adalah sebuah kata kerja, ia akan terus bergerak, berkorban, dan berbagi. tidak peduli atas ujian serta waktu yang akan menggerus dan mengusang. kecuali jika cinta hanya menjadi kata benda, yang sekadar memberi keterangan atas sebuah rasa, tanpa aksi nyata.

(FNR)