Ah, Kau Sudah Besar Nak!

aku melihatnya (lagi). untuk kesekian kali, mungkin. tanpa sadar. matanya penuh makna. meski ia tak bicara.
ah, kau sudah besar, Nak! dewasa tepatnya. perawakanmu tinggi, meski jangkung. rambutmu gondrong dan terlihat lebih kumal. mungkin kau terlalu berlama-lama disengat sinar matahari.

yah, kau sudah tidak lagi seperti anakku di beberapa tahun lalu. kau tak lagi merah merona. kau tak lagi pepat pipinya. pun kau tak lagi gendut badannya.

ah..kau sudah tak kecil lagi, Nak! bukankah kau sudah punya cara pandang sendiri? kau pun telah memilih jalan itu. kau punya cara bersikap yang berbeda sekarang. apa kau berubah? kuharap tidak… namun, jikalau kau pun berubah karena Tuhanmu dan itu lebih bahagia untukmu, terserahlah kau. aku hanya ibu yang tak mengerti banyak tentang hidup ini. apalagi hidupmu yang kini. hidupmu kini yang penuh dnegan ilustrasi. hidupmu kini yang penuh dengan tanya dan sastra.

berpolitik dalam sastra. bersinkronisasi bersama rasa. berempati dengan psikologi. merangkai simbiosis dalam sosiologi. bersinergi dengan hukum. ah..kau telah terlampau jauh dariku, Nak! kau terlalu luar biasa. apa kau berubah dengan ilmu-ilmu itu, Nak? kuharap tidak…

kau kini telah menjadi orang terpandang di negeri ini. berdiskusi. berargumentasi. beretorika. bernarasi. dan berpakaian dasi pun menjadi menu wajibmu. apa kau masih seperti dulu, Nak? yang lugu, bersahaja, berefleksi penuh makna, berdialog dengan kaum dhuafa, bersendau gurau dengan kaum papa. dan memijat kakiku setiap malamnya. apa kau berubah, Nak? kuharap tidak…

kau anakku, Nak! tetaplah menjadi anakku, seperti dulu. anakku yang kubanggakan dengan kesetiaan dan kecintaan pada Sang Pencipta. anakku yang penuh penghargaan dan penghormatan pada yang lebih tua. anakku yang bersopan santun dan tersenyum ceria pada saudara-saudaranya.

tetaplah menjadi anakku, Nak! yang penuh cinta dna kerja sama…

sumber gambar:
nuepoel.wordpress.com
sabdho.wordpress.com

Iklan

Mengabdi di Perbatasan Negeri : Pulau Wetar

Suatu hari, ketika saya dan teman saya sedang berjalan menuju perpustakaan, kami membicarakan mengenai tawaran kuliah kerja nyata (K2N) UI. Sejurus kemudian, ia bertanya pada saya, apakah saya akan ikut K2N UI juga? Serta merta saya menjawab, “Ya!” Bukan hanya itu, ia pun mempertanyakan alasan saya mengikuti K2N. Kemudian dengan bangga saya menggarisbawahi bahwa pengabdian-lah alasannya. Sebuah keinginan untuk dapat memindahkan sebagian jiwa ini di bagian-bagian lain bumi Indonesia.

Saya tertarik dengan sebuah pernyataan dari dosen saya yang mengatakan bahwa, “Jangan bilang kamu mahasiswa kalau ga pernah melakukan pengabdian dan penelitian, selain kuliah!” Menurut saya, kalimat singkat itu cukup mengena bagi saya yang merasa berperan menjadi agen perubahan, iron stock, dan moral force sebagai mahasiswa. Selain itu, hal lain yang membuat saya benar-benar mantap “mengunjungi” perbatasan negeri ini adalah keprihatinan. Kebanggaan atas kekayaan alam bangsa Indonesia yang begitu “mewah” namun, justru tidak sebanding dengan perhatian yang diberikan pemerintah.

Berawal dari keprihatinan, saya hendak memilih sebuah pulau di perbatasan yang juga cukup memprihatinkan. Pulau Wetar, namanya. Pulau ini berada di Laut Banda yang berada di sebelah utara negara Timor Leste. Tembaga dan emas juga tidak perlu diragukan kualitasnya. Sayangnya, kualitas tembaga dan emas yang baik itu, tidak cukup mampu membuat warga di pulau tersebut memiliki kesejahteraan yang berkualitas baik pula.

Masalah pendidikan, juga tak kalah memprihatinkan. Menurut info yang saya dapatkan, anak-anak sekolah terpaksa kembali pulang karena tidak ada guru yang mengajar mereka sehingga anak-anak hanya bermain dan tidak bersekolah. Jangankan menggapai cita-cita menjadi TNI, memiliki ijazah SD pun mereka tidak punya. Belum lagi, masalah infrastruktur, penerangan, air bersih, serta transportasi yang minim, menambah deretan masalah di pulau perbatasan ini.

Sinergisitas dari berbagai disiplin ilmu dituntut segera diupayakan untuk membangun Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan memberdayakan sumber daya yang ada di negeri ini secara optimal dan terus mengusahakan peningkatan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologinya. Tujuannya, tentu saja untuk mengoptimalkan sumber daya alam yang bisa diolah demi meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memajukan bangsa Indonesia. Pembangunan dari berbagai sudut wilayah negara termasuk perbatasan pun menuntut segera direalisasikan.

Saya adalah mahasiswa psikologi yang sedikit banyak membahas dunia pendidikan dan perkembangan anak. Saya bermaksud menawarkan ide untuk memberi pengajaran tambahan bagi anak-anak dan remaja di Pulau Wetar tersebut, baik sebagai guru atau pendamping belajarnya. Menurut teori Vygotsky, seorang tokoh psikologi perkembangan, seorang anak butuh pendampingan dari orang yang lebih dewasa untuk membantu tugas-tugas yang sulit baginya. Hal ini diperlukan untuk dapat memancaing perkembangan kognisi anak agar terus berkembang dan terlatih dalam menjalankan tugas-tugas kehidupan dan proses berpikirnya. Oleh karena itu , saya bermaksud membantu anak-anak di Pulau Wetar belajar membaca, menulis, berhitung, studi kasus, dan sebagainya. Ditambah dengan pengajaran materi seni dan sastra yang dapat memicu kreatifitas serta kepekaan anak-anak.

Tempat belajar yang saya bayangkan, mungkin tidak beratapkan genting kokoh, dinding halu, ruang ber-AC, maupun alas keramik yang mengkilap. Sekolah yang baru ada beberapa buah jumlahnya, jarak yang sulit dijangkau, dan fasilitas lain dalam pulau yang tidak sebaik di ibukota tentu menjadi tantangan belajar bagi para siswa dan para guru. Oleh karena itu, saya bermaksud melakukan pendampingan belajar di ruang terbuka bersama alam atau di tempat-tempat yang paling tidak memberi rasa nyaman untuk belajar. Tidak lupa akan ada juga games menarik yang menyenangkan bagi anak-anak.

Selain anak-anak, golongan remaja pun bisa ikut dalam proses belajar mengajar tambahan ini. Namun, akan sedikit dibedakan dalam hal materi dan cara pemberian materinya. Menurut Piaget, remaja memasuki tingkat perkembangan kognitif tertinggi (formal operation) saat mereka mengenbangkan kapasitas berpikir secara abstrak. Nah meskipun demikian, setiap perkembangan remaja tidak selalu pasti seperti yang dikatakan Piaget karena lagi-lagi, masalah lingkungan sekitar pun mempengaruhi perkembangan kognisi, fisik, dan psikososial seorang remaja. Penting bagi seorang guru untuk mengetahui kemampuan setiap siswa dalam berpikir dan mencerna materi yang diberikan agar tidak overload dan sia-sia belaka. Yang terpenting adalah siswa tersebut dapat melakukan “belajar” dalam arti sebenarnya. Maksudnya, seorang siswa, dapat melalui proses mental dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu dan kemampuan/ hasil proses tersebut tetap melekat secara permanen.

Di samping itu, dengan minat saya pada psikologi sosial dan pengalaman berorganisasi di kampus, saya ingin menyumbang ide pembentukan sebuah kelompok atau komunitas yang concern pada upaya pembangunan berkelanjutan di Pulau Wetar. Kelompok ini terdiri dari beberapa warga yang memiliki kepedulian pada pembanguna Pulau Wetar. Siapapun warganya, boleh-boleh saja. Dari warga biasa, para ulama, para cendekiawan, hingga para petinggi pemerintahan daerah. Setelah terbentuk komunitas/ kelompok pecinta Pulau Wetar, misalnya, saya bisa membantu menyumbang ide-ide sederhana kelanjutannya. Bisa saja, mereka kemudian membuat jaringan komunikasi antara komunitas tersebut dengan pemerintah setempat, pemerintah pusat, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Harapnnya, setelah ada komunitas/ kelompok ini dapat menjadi pemicu komunitas semacamnya yang cinta dan peduli pada pembangunan Pulau Wetar hingga tercipta ledakan perubahan dari letupan-letupan komunitas kecil tersebut. Tidak ada yang mudah, namun tidak ada yang tidak mungkin bisa dicapai dengan keyakinan, usaha keras, kerja cerda, dan restu Tuhan.

Pulau Wetar ini adalah satu dari dua pulau terselatan Indonesia selain Pulau Kisar, yang masuk dalam daftar 12 pulau yang berbatasan dengan negara luar. Dua belas pulau terluar itu milik NKRI yang membutuhkan perhatian serius pemerintah dan kepedulian masyarakat Indonesia, termasuk mahasiswa agar kasus Sipadan-Ligitan maupun blok Ambalat tidak terulang kembali. Dengan mengikuti program K2N ini, semoga saya mampu menjadi salah satu mahasiswa yang berkontribusi dalam perbaikan negeri ini dari perbatasan.

Satu lagi pulau perbatasan yang membutuhkan perhatian, Pulau Wetar.

Sebuah Cerpen: Kartini, dari Gelap Menuju Cahaya

Kamar itu tidak terlalu gelap. Hanya remang-remang dengan sebuah lampu teplok. Kartini tengah duduk di kamar kecil itu sambil sesekali suaranya terdengar sedu.

Kar, apa kau menangis?
Tidak, bu…

Kau jangan berpura-pura, nak. Ibu tahu kebiasaanmu

Aku sedih, bu… aku ingin keluar dari sini

Sabar ya, nduk.. romomu memang seperti itu dan adat ini sudah sejak nenek moyangmu, apalagi dia bupati di sini. Mau tidak mau harus menjaga adat, nduk..

Iya, bu.. tapi apa iya saya tidak boleh sekolah juga?
Yang diajak bicara pergi. Ia berlalu dengan nafas terbuang lirih. Hatinya nelangsa melihat suami dan anaknya bertengkar barusan.

***
Tahukah kau stela, aku merasa terkungkung di sini. aku ingin pergi ke Eropa segera. Dalam hatiku tidak pernah lepas dari keyakinan bahwa aku akan kesana. Namun, melihat kenyataan yang ada padaku sekarang, sering kali menciutkan nyaliku untuk bermimpi ke Eropa.
Sederetan kata-kata rapih ia tulis untuk sahabat penanya nan jauh di sana. Kartini dan stela sering berkirim surat dan berdiskusi dalam kertas-kertas itu. Bagi kartini, stela adalah kawan diskusi yang sungguh menarik. Banyak hal baru yang ia dapatkan termasuk kehidupan barat yang berbeda dari adat Jawanya.

Aku ingin berkunjung juga ke rumahmu, Stela. Semoga tidak ada abdi yang harus berjalan menunduk dan berbicara dengan penuh hati-hati padaku.

Sore itu, Kartini yang cerdas tengah berpamitan pada romo dan ibunya untuk berkunjung ke rumah paman. Sudah lama kiranya, ia tidak menengok paman dan bibinya di kabupaten seberang. Seusai maghrib, ada pengajian di langgar dekat rumah pamannya. Kartini menyempatkan diri untuk tetap duduk mendengarkan pengajian dari sang Kiai. Pembahasan mengenai makna Al-Quran kali ini cukup menarik perhatiannya. Selesai mengaji, ia menghampiri sang Kiai bersama pamannya, Pak Kiai, bagaimana hukumnya jika kita tahu sesuatu bahwa ada kebenaran namun tidak mau mengajarkannya pada orang lain?

Sontak sang Kiai terkejut. Memangnya ada apa raden ajeng?
Dulu aku sempat mengikuti pengajian membaca Al-Quran, namun ketika aku bertanya pada guruku tentang maknanya, ia tidak membolehkanku tahu. Lalu apa gunanya aku membaca namun tak mengerti maknanya?

Sejak saat itu, sang Kiai tekun menuliskan dan mengajarkan arti al-quran dalam bahasa Jawa kepada kartini. Kartini juga rajin mengikuti pengajian sang Kiai tersebut.

Tidak ada yang lain selain Allah yang kusembah Stela. Ia-lah Tuhanku. Semoga Allah mencurahkan rahmat untuk kerjaku. Aku hanya ingin para wanita boleh bersekolah seperti laki-laki. Karena bagaimanapun juga, perempuanlah yang akan mengajari anak-anaknya. Bila yang mengajari tidak bisa berbuat apa-apa, lalu bagaimana yang diajari?

Pelajaran Al-Quran-nya belumlah selesai hingga sang kiai meninggal dunia. Ia baru sampai pada juz 13. Namun, perasaannya sungguh terang. Ia seperti telah berpindah dari kejahiliyahan dengan hidayah yang Allah berikan.

Perasaanku tak bisa kugambarkan Stela,.. aku merasa begitu bernyawa dengan ini semua. Tiap petikan makna dari ayat dalam Quran itu mengajakku bergerak dari gelap menuju cahaya.

Depok, 13 Maret 2012

The New Generation: Asrama

Perasaan ini kembali tersentuh. Kali ini lebih dahsyat dari yang biasa. Ia bagai air yang dimasukkan lemari es, sangat dingin…bukan?

Kalau teman-teman pernah dengar kata “trenyuh” dalam bahasa Jawa, ya seperti itulah perasaan ini. Memandang kalian bernyanyi bersama di acara grand launcing malam ini, kembali membuka skema lama. Tentang FORKAT, SAHABAT, dan PMKA. Cerita kami dalam P3A, cerita kami dalam rapat, cerita kami dalam canda tawa dan debat, cerita kami dalam acara-acara meramaikan suasana asrama, dan kini kami pun tengah merindu masa-masa itu (kembali).

Malam ini, kalian terlihat begitu rapi dengan pakaian keramahan. Terlihat begitu anggun dengan senyuman, terlihat begitu manis dengan semangat berkobar, dan aku pun melihat harapan baru dalam rona wajah kalian.

Jika bisa kukatakan, dengan lantang akan ku sebarkan berita kebaikan :
Lihatlah, inilah pemuda-pemudi tangguh yang telah bersiap. Merekalah generasi baru keluarga asrama dan merekalah orang-orang yang akan paling peduli dengan asrama. Mereka bersiap menghidupkan rumah tua yang telah rapuh itu, menghidupkan bangunan tua yang sepi itu, dan bersiap memberikan keteladanan hidup bersaudara di rumah bersusun it. Asrama…

“Titip asrama ya…” pesanku pada kalian.

Sejukkan asrama dengan senyum, hidupkan ia dengan keramahan, kokohkan ia dengan persatuan, dan hangatkan ia dengan kebersamaan.
Asrama 2011! Satu Keluarga!

sumber gambar:
hongkonghustle.com
ayomasukui.com

Bukan untuk Dilamunkan

aku tersadar dari lamunanku. tiba-tiba terjaga dalam sekejap saja.
dasar bebal! kataku dalam hati.
apa kau tak mau menyadari, membuat sebuah sekolah, yayasan, atau apalah semacamnya itu tidak mudah.
lihat dia, dia berhasil membuatnya dengan apa? U-A-N-G, kerja keras, dan ilmu. mengerti? bukan dengan lamunan saja.
kataku masih memojokkan diri sendiri.

sebuah tujuan mulia, masih saja akan ada hambatannya. lihat mereka yang telah berhasil, pun masih saja terus berusaha memperbaiki dan memperbaiki. mereka tetap berusaha, tidak stagnan dan bersantai ria setelah keberhasilannya. bagi mereka, berhasil mencapai satu, belum tentu berhasil mencapai dua, tiga, empat, dan seterusnya. maka merekapun berusaha terus dan seterusnya. karena hidup ini adalah bergerak, terus bergerak, dan bergerak. bukan diam, bukan berhenti, dan bukan terpenjara dalam ke-stagnan-an.

kau boleh saja bermimpi, tapi bukan hanya untuk didiamkan. kau pikir, jika hanya mengingat dan memlamunkan mimpimu saja, ia akan terwujud dengan sendirinya? sekalipun tidak. bahkan, mereka-mereka yang tengah mengejar mimpinya pun, masih saja berlari dan memeras keringat karena belum sampai pada garis terakhir mimpi mereka.

biarkan aku bebal dengan mimpiku. biarkan aku pegang cita-citaku. dan biarkan mengistiqomahkan keinginanku hingga ia bergerak mendekat, semakin nyata.

yah, memegang mimpi, keinginan, dan cita-cita memang sulit. mengistiqomahkannya akan menjadi bagian yang lebih sulit. lantas? apa harus menyerah dan membiarkan kesulitan itu menyulitkanmu? sekalipun t-i-d-a-k.

“maka, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan.” (QS.Al-Insyirah: 8)

sumber gambar:
etamgrecek.blogspot.com

Beban Sejarah Gerakan Mahasiswa

Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah membebaskan rakya dari penderitaan sehari-hari. Beban kita adalah membuat rakyat yang menganggur mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan ekonomi yang tidak menguntungkan rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan dengan sesame generasi muda memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk menyuarakan diri. Semua ini adalah beban yang tidak ringan untuk tidak mengatakan berat sekali. Namun, pada akhirnya, berat atau ringan tetap merupakan beban kita. Sekali mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk sejarah. –Hariman Siregar-

Satu paragraph yang yang saya pikir dapat menjadi satu motivasi sekaligus pemahaman bagaimana beban sejarah ini ada di pundak para pemuda. Pemuda bukan lagi sebagai para remaja yang sekadar memikirkan diirnya sendiri. Pemuda itu tonggak negara, generasi penerus bangsa, sekaligus pengubah keterpurukan. Melihat kenyataan di masyarakat beberapa bulan terakhir ini, cukup membuat saya gigit jari. Pemuda sudah sibuk dengan berbagai masalahnya. Mulai dari mahasiswa anarki, polisi muda terjerat narkoba, hingga para pegawai muda yang korupsi. Mungkin jika negeri ini bisa bicara, ia akan meminta para pemuda ini pergi menjauhinya atau mungkin negeri ini hanya bisa menangis meratapi.

Gerakan mahasiswa sebagai sebuah gerakan yang lahir dari mahasiswa merupakan bagian dari sejarah pergolakan politik di Indonesia yang sudha berlangsung lama sejak zaman colonial Belanda. Dalam sejarah gerakna mahasiswa tercatat beberapa momentum yang dianggap momental berkaitan dengan proses perjuangan generasi bangsa menghadpai tantangn zamannya. Rudianto dalam bukunya Gerakan Mahasiswa : dalam perspektif perubahan politik nasional (2010) banyak menjabarkannya. Antara lain:
1. Tahun 1908 –Budi Oetomo, dibidani oleh mahasiswa yang kebanyakan studi di dalam negeri.
2. Tahun 1928 –Sumpah Pemuda yang dibidani oleh pra mahasiswa yang kebanyak studi di Belanda.
3. Tahun 1945 –Gerakan mahasiswa 45, berporos dari gerakan mahasiswa di asrama-asrama mahaisswa di Jakarta.
4. Tahun 1966 –Angkatan 66 Orde Baru, berporos dari kampus UI kemudian menyebar ke kampus-kampus se-Indonesia. Latar belakangnya ideologis dalam upaya pemberangusan komunis di Indonesia.
5. Tahun 1974 –gerakan anti modal asing Jepang yang disebut Malari 74. Berporos pada kampus-kampus di Jakarta dan Bandung yang melibatkan pertentangan elite militer antara pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Aspri/Waka Bakin Mayjend Alli Moertopo.
6. Tahun 1978 –gerakan perlawanan terhadap Soeharto yang disebut Gema 77/78. Berawal adari Bandung lalu menyebar ke kampus-kampus se-Indonesia. Bercirikan tidak melibatkan masyrakat luas untuk membedakan gerakan mahasiswa murni dan bukan gerakan politk praktis.
7. Tahun 1980 –gerakan mahasiswa pasca NKK/BKK berporoses dari isu di luar kampus bertema kerakyatan. Berporos di kampus-kampus hamper menyebar ke seluruh JAwa dan elibatkan masysrakat luas.
8. Tahun 1998 –gerakan mahasiswa 98 yang menumbangkan rezim Soeharto Orde Baru. Berporos di hampir seluruh kampus di seluruh tanah air, berawal di Jogjakarta dan berakhir di Jakarta.

Peran pemuda dan mahasiswa khususnya dalam perubahan politik di Indonesia bukan hal baru. Setidaknya sejak jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, pemuda sudah berperan dalam revolusi kemerdekaan Indonesia menentang penjajahan Belanda sampai kemerdekaan Indoensia tercapai. apakah hal ini berarti revolusi 1945 adalah revolusi pemuda? Dan apakah kemerdekaan Indoensia adalah kemerdekaan hasil keringat pemuda?

Mahasiswa sebagai tokoh sentral dalam percaturan negeri merupakan perpaduan yang pas dalam hal emosi dan pemikirannya. Mahasiswa mestinya memiliki keberanian untuk mendobrak kekomplekan permaslah terutama politk yang sangat menindas dan mengimpit rakyat. Keberanian inilah yang diperlukan dalam melakukan perubahan.
Hariman Siregar mengatakan bahwa selain keberanian, mahasiswa juga pelru kreatif agar gerakannya tidak monoton dan gampang dihancurkan, kreatifitas ini meliputi pemilihan isu dan bentuk respon/ aksi yang memungkinkannya mndapat simpati dan dukungan public secara luas. Spontanitas pun dibutuhkan. Gerakan mahasiswa ini bergerak berdasarkan solidaritas dan isu yang dirasakan bersama. Spontanitas ini tetap membutuhkan pemimpin dan dilakukan secara terorganisir. Selain ketiga hal tersebut, konsistensi juga menjadi penting. Sekali gerakan mahasiswa bergulir, tidak boleh terhenti karena kekuatan dan kepentingan politik manapun (Hasibuan, dkk, 2011)
Meski gerakan mahasiswa selalu menyerempet politik, namun gerakan ini tidak ersifat politik. Gerakan mahasiswa itu berdiir sendiri meski menimbulkan implikasi politik, mengubah konstelasi poliitk, bahkan mengubah kekuasaan. Namun, misi dari gerakan mahasiswa adalah lebih bersifat sosial (social movement) dengan isu lintas sektoral tidak terbatas pada politik dan kekuasaan.

Benar bahwa tugas mahasiswa ini adalah belajr dan belajar, namun coba kita renungi untuk apa kita belajar dan menuntut ilmu tinggi-tinggi? Menueut Hariman, jawabannya adalah bukan hanya untuk memenuhi ambisi oribadi atau menjadi menjadi produksi kapitalisme semata (masuk ke dalam jaringan teknostructur). Melainkan juga untuk menolong orang lain sehingga jawaban lain dari pertanyaan ini adalah obligasi moral (amar ma’ruf nahi munkar).

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Zariyat: 56)

Bila menjadi perubah adalah ibadah, bila membela rakyat adalah ibadah, dan bila kelelahan ini adlah ibadah. Biarkan aku menderita dengan ini semua, asalkan ini memang menjadi ibadahku pada-Mu. Biarkan aku melalui ini dengan sepenuh hatiku sebagai salah satu wujud ibadahku kepada-Mu. Perkenankan aku, Rabb beramar ma’ruf mani mungkar…


Depok, 17 maret 2012

sumber gambar:
smartgeneration.wordpress.com
id.wikipedia.org
muslimrap.net
suma.ui.ac.id

Muslimah : Sosok Mulia

Oh muslimah, berbahagialah..
Kau telah dilahirkannya dengan mulia
Subhanallah ….
Tuhan telah berkati wanita yang cukup ilmu rendah hati
Oh muslimah busanamu menutup rapi
Auratmu kau lindungi dengan indahnya
Oh muslimah kau rajin mengaji
Islam kau jadikan ikutan sejati

-Raihan dan nazrey johani

Ini adalah sebait nasyid yang dibawakan oleh raihan dan nazrey Johani. Nasyid ini cukup menginsiprasi saya untuk menulis betapa mulianya muslimah diciptakan. Bagi saya, sepenggal nasyid ini memiliki makna yang dalam.

Pertama, seorang muslimah ialah wanita solehah yang tidak diragukan kemuliaan akidah dan akhlaknya. Ia beribadah kepada perintah Allah dengan ketaatan yang sebenar-benarnya. Solat lima waktu, berpuasa, menundukkan pandangan, mentaati suami, bertutur kata yang baik, dan sebagainya. Muslimah juga sejatinya memiliki imu yang bermanfaat dan tetap berendah hati dengan ilmu tersebut.

Tentu kita tidak asing dengan nama Kartini, yang dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita di negeri kita ini. Kartini yang cerdas dan open mind terhadap perubahan, mampu menginisiasi gagasan besar demi perubahan wanita. Wanita di zamannya tidak seberuntung sekarang. Mereka hanya bertugas melayani suami dan mengurus anak-anak mereka. Tidak ada sekolah dan tidak ada diskusi di antara mereka. Mereka hanya bertugas melayani suami. Itu saja. Melihat kenyataan itu, Kartini tidak tinggal diam. Ia mendobrak adat di zamannya dan memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita. Tujuannya bukan ingin men-sejajar-kan kedudukan perempuan dengan laki-laki, apalagi untuk menyaingi para kaum lelaki. Kartini hanya ingin para perempuan itu berpendidikan, meningkatkan ilmu, dan kualitas dirinya. Ia menyadari bahwa perempuan sebagai pendidikan pertama bagi anak-anaknya harus memiliki ilmu yang cukup untuk mendidik keturunannya. Bagaimana bangsa ini akan maju jika generasi mudanya terbelakang, bodoh, dan tidak mendapat pendidikan intelektual serta moral dari ibunya?
Selain itu, sebagai istri, wanita juga harus cerdas mendampingi suami dan mengurus rumah tangganya.

Kedua, muslimah rapi berbusana dan menutup auratnya. Dalam QS. AL Ahzab ayat 59 dan An-Nuur ayat 31 telah dijelaskan dengan gamblang kewajiban bagi para wanita untuk menutup auratnya. Allah tidak pernah meyia-nyiakan hamba-Nya dan akan selalu ada hikmah dibalik perintah-Nya. Kenapa kita harus berjilbab? Ada banyak manfaat yang diperoleh, tentu. Salah satu manfaat dari sisi kesehatan menurut Dr Warih Andan Puspitosari, pakar ilmu kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), bahwa jilbab bisa mencegah munculnya penyakit dan kelainan pada kulit yang disebabkan oleh sinar matahari. Namun, satu-satunya alasan yang pasti adalah karena menutup aurat adalah perintah Allah. Maka, sebagai hamba yang taat, kewajiban kita adalah melaksanakan apa yang Allah perintahkan.

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (QS. Al-Ahzab: 59)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya, dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An Nuur : 31)

Ketiga, muslimah menjadikan aturan Islam sebagai tuntunannya. Hanya Islam sebagai dien (sistem hidup) yang dianutnya dan Allah sebagai Tuhannya.
Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”(QS. Al-Ikhlas: 1-4)
Surat ini mengukuhkan keesaan Allah. Tiada sekutu bagi-Nya, Dia-lah yang kita tuju dalam memenuhi semua kebutuhan. Tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, Tiada yang menyerupai dan mampu menandingi-Nya. Konsekuensi dari semua itu adalah ikhlas beribadah kepada Allah dan ikhlas menghadap kepada-Nya saja.

Ketiga hal yang saya uraikan tersebut adalah sekelumit tentang muslimah yang mulia. Begitu agungnya seorang perempuan di mata Islam. Diperlakukan dan diposisikan secara spesial, tidak seperti zaman-zaman sebelum Islam datang. Bersyukurlah, kau muslimah…

Oh muslimah…kau yang suci,
Kecantikanmu yang sempurna,
Memandangmu menenangkan hati,
Kehormatanmu, jagalah…

Referensi :
http://abuhudzaifi.multiply.com/journal/item/86/7 maret 2012
http://www.dakwatuna.com/2010/11/9768/tafsir-surat-al-ikhlash/7 maret 2012
http://www.uhibbukumfillah.co.cc/2009/12/manfaat-jilbab-subhanallah-ternyata.html/7 maret 2012.
http://www.youtube.com/watch?v=AAnXVDNCLEs&feature=related/7 maret 2012