Tetap Belajar

Seringkali aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa aku butuh orang lain dalam menjalani hidup. seringkali, aku bahkan ingin disebut mandiri dan tangguh. buruknya adalah jika hal ini membuatku menjadi orang yang mengabaikan orang lain dan membuat orang lain merasa tidak dianggap.

masalah adalah hal mutlak yang akan ada. tapi, yang membuatnya menjadi tidak bermasalah adalah sikap kita terhadap apa yang kita hadapi. demikian yang aku pahami. artinya, secara psikologis, ini adalah tentang persepsi. ini tentang bagaimana kita memandang masalah sebagai apa.

nah, ada baiknya tidak angkuh terhadap diri dan  bijak memandang masalah. tidak selamanya masalah yang muncul adalah salah kita. tidak semua masalah yang muncul juga mampu kita selesaikan sendiri. akui, sadari, dan mintalah bantuan pada orang yang dapat membantu. tidak perlu malu mengakui kelemahan kita, asal itu tidak berlebihan… Yang lebih penting kemauan belajar menghadapi masalah itu sendiri.

Jadi, berusaha menjadi tangguh dan mandiri itu akan lebih baik dibarengi dengan kerendahan hati dan keinginan mau belajar.

Iklan

Prioritas

Prioritas. satu kata ini bisa jadi dimaknai berbeda oleh setiap manusia. apa yang diutamakan dan didahulukan oleh setiap orang bias jadi berbeda. terkadang, aturan dan norma serta komitmen dibutuhkan untuk bisa ‘menyeragamkan’ hal-hal yang harus diprioritaskan.

Bagi saya, sesuatu yang layak diprioritaskan itu adalah sesuatu yang membawa kebermanfaatan paling banyak. Ya, secara umum demikian. secara umum saya gunakan itu. Tapi nanti pasti ada aturan yang perlu kita tiru sebagai standard untuk membuat prioritas itu, yaitu salah satunya ilmu tentang fiqih prioritas.

Dilema itu selalu datang pada setiap pengambilan keputusan, termasuk memilih mana hal-hal yang patut diprioritaskan. Wajar jika ada kebingungan untuk memutuskan mana yang diprioritaskan. Kenapa masih bingung? Menurut saya, kebingungan itu ada karena tidak ada standard, patokan, pegangan, ataupun prinsip.

Jadi, prioritas bagi saya secara umum adalah mana yang jauh lebih bermanfaat bagi orang lain dan bagi saya. Agar tidak bingung membuat prioritas, maka membutuhkan prinsip yang kokoh untuk melandasi, tentunya dengan ilmu.

‘Ketidakberanian’ 2012

Rasanya baru kemarin aku menjadi mahasiswa baru Fakultas Psikologi 2010. Ternyata sudha masuk tahun ketiga, tepatnya semester 5. sebentar lagi pun aku mengikuti UAS di bulan Desember. Artinya, sebentar lagi juga akan beralih status menjadi mahasiswa semester 6.

Selama dua tahun di UI, saya mengikuti organisasi tidak di fakultas psikologi. Alasan pertama, karena ketika saya mendaftar menjadi staf Kastrat BEM Psikologi, saya tidak diterima. Lalu saya mendaftar menjadi staf Aksi dan Propaganda (Akprop) BEM UI 2011 di bulan pembukaan anggota BEM, saya diterima. Jadilah saya anak Akprop BEM UI. Setahun kemudian, saya mendaftar lagi menjadi staf Kastrat BEM Psikologi 2012. Setali tiga uang, hasilnya sama -tidak diterima. Saya akhirnya mendaftar menjadi anggota badan kelengkapan MPM Psikologi 2012. Dalam waktu yang sama, saya diajak menjadi anggota Kastrat Salam UI 2012. Awalnya hanya diajak menjadi staf, namun ternyata saya menjadi deputi departemen tersebut, dengan kondisi saya sudah menjadi anggota BK MPM. Setahu saya, seorang deputi di Salam tidak boleh menjadi anggota organisasi lain, namun entahlah ketua departemen saya yang meminta. Akhirnya, jadilah saya merangkap jabatan sebagai anggota badan kelengkapan MPM bidang 1 (legislasi) dan deputi Kastrat Salam UI di tahun yang sama.

Tidak lama berselang, saya ditawari menjadi ketua pelaksana kegiatan Forum Ukhuwah dan Studi Islam Fak. Psikologi. Nama acaranya adalah kajian Islam awal semester (KIAS), yaitu kegiatan awal bagi mahasiswa baru untuk mengenalkan Islam dan lembaga dakwah yang menaunginya. Belum ada jobdes yang jelas dari kedua jabatan yang saya pegang, ditambah steering comittee yang begitu meyakinkan diri saya bahwa acara KIAS penting untuk diketuai oleh saya, jadilah saya menerima tawaran ini. Selain itu, saya pikir waktu pelaksanaannya juga di akhir tahun sehingga saya anggap akan bisa saya handle. 

Bisa dibayangkan bagaimana saya harus mengatur dengan sangat detail jadwal saya. Antara kuliah, organisasi, dan kegiatan lainnya. Di tahun 2012 pula saya diterima sebagai santri asrama pembinaan PPSDMS Nurul Fikri yang mengharuskan saya untuk menaati sistem/ aturan yang telah dibuat. Belum lagi, saya butuh ilmu Islam dan pemikiran yang membuat saya harus ikut kajian setiap pekan minimal dua kali.

Di tahun yang sama, 2012, saya ditawari menjadi ketua BEM Psikologi. Keinginan yang sudah lama saya pendam. Cita-cita yang sudah lama saya pikirkan, tepatnya sejak semester 2. Bisa dibayangkan mengapa akhirnya saya ingin berorganisasi di Psikologi sejak awal. ya, karena saya ingin mengenal Psikologi lebih dekat dan lebih dalam. Namun, perjalanan dua tahun ini membuat saya urungkan niat saya maju menjadi calon ketua BEM Psikologi UI 2013. Amanah yang masih saya pegang hingga akhir tahun 2012 dan ketidakpercayaan diri atas ‘massa’. 

Saya merasa tidak dekat dengan Psikologi dalam hal lingkungan kampus dan teman-teman. Apa benar saya akan maju sebagai pemimpin di sini tanpa saya tahu banyak tentang sesuatu yang pimpin itu? Apa benar keinginan dan niat menjadi calon ketua BEM ini masih sama seperti pertama kali saya menginginkannya? Apakah saya maju karena ingin mencari jabatan dan ketenaran saja atau karena saya ingin maju mewakili dan melayani teman-teman saya?

Ketidakberanian. Itu juga yang menjadi poin kegagalan saya. Saya ingat sebuah quote yang disampaikan oleh salah satu pembina PPSDMS dalam sebuah seminar kami, bahwa Gerakan ataupun dunia ini akan dirancang oleh orang-orang cerdas, akan dieksekusi oleh orang-orang yang ikhlas, dan dimenangkan oleh orang-orang BERANI. Inilah yang membuat saya kalah, KETIDAKBERANIAN.

Saya malu mengakui pada diri saya sendiri sehingga saya mencari alasan sibuk, banyak amanah, tidak punya massa, dan sebagainya. Itu hanya excuse. Itu hanya alasan yang saya buat atas nama ‘pertimbangan’ keadaan dengan kata kerja ‘mempertimbangkan’ keadaan lingkungan saya dan kemampuan diri saya. Apa saya menyesal? Ya, tapi saya merasa tidak pantas menyesal dan tidak mau menyesali. Cukuplah Allah yang tahu bagaimana bentuk penyesalan saya. Ini adalah pelajaran berarti bagi saya dan menjadi hal yang patut saya renungi. 

 

 

Kerja Keras

Bila kerja keras adalah sebuah proses, maka izinkan aku untuk terus melaluinya dengan kekuatan-Mu. Jika kerja keras adalah lelah yang harus dibayarkan, maka izinkan aku sanggup melunasinya hingga usai dengan harta-Mu. Jika kerja keras adalah beban berat yang harus kupikul di dunia, maka kuatkan pundakku dengan keperkasaan-Mu, Rabbi..

Kerja keras agaknya menjadi momok yang menakutkan dan membuat enggan tiap individu. Ia bagaikan tantangan menanjak gunung ribuan meter di atas permukaan laut. Atau mungkin seperti tantangan menyelam ke dasar samudra dengan kedalaman kiloan meter jauhnya. Tapi, percayalah bahwa kerja keras akan tetap diperlukan untuk menjalani hidup ini. 

Dunia ini, terlalu banyak diisi oleh orang-orang yang berambisi, memiliki tekad baja, memiliki tujuan dan cita-cita menggunung, memiliki rangkaian kisah yang menginspirasi, memiliki pengalaman berkali lipat tentang kegagalan, dan kekayaan ilmu maupun harta yang tidak sedikit. Mengapa? Karena kerja keras mereka. Karena sebuah term kerja keras yang menghiasi hidup mereka.

Sukses itu yang saya pahami, adalah ketika kita mau sedikit lebih menderita, sedikit lebih bertahan, sedikit lebih berusaha, sedikit lebih bekerja keras di atas rata-rata orang lain. Mau tidak mau, suka tidak suka, demikianlah membuat strateginya agar mau sedikit lebih unggul dari yang lain.

Kenapa harus kerja keras? Apa pentingnya buatku?

Yang saya pahami, Islam telah mengajarkan agar setiap insan hari esok harus lebih baik daripada hari ini, dan lebih baik dari hari kemarin. So, perlu kerja keras. Selain itu, yang saya pahami juga bahwa Allah menilai proses dari hamba-Nya. Bukankah mengikhtiarkan hidup kita dengan kerja keras tidak masalah? Berharap kerja keras inilah yang menjadi jalan kita masuk syurga. Karena kita tak pernah tahu amal apa yang dapat mendorong kita masuk syurga, bukan? Dan terakhir, kerja keras adalah proses. Jika prosesnya baik,caranya baik, semoga hasilnya pun mempunyai konsekuensi yang berkorelasi positif. Artinya, dengan cara dan proses yang baik, berharap hasilnya pun akan baik. Berharap apa yang kita dapatkan juga akan baik.

So, apa yang membuat kita ragu untuk bekerja keras? Lakukan dulu. Percayai itu. 

Narsistik

Hari ini, aku mendapat sebuah kuliah gangguan kepribadian dalam mata kuliah abnormal. Ada banyak hal yang akhirnya menarik untuk dibahas dalam materi tersebut. Salah satu yang membuatku terkejut adalah ada salah satu gangguan kepribadian bernama narsistik yang cocok dengan simtom yang ada pada salah satu temanku.

Yang paling membedakan dari sebuah gangguan kepribadian dengan gangguan cemas, atau gangguan lain adalah penderita tidak mau menyesuaikan diri dengan lingkungan (allow-plastis) dan dia tidak cemas dengan masalah gangguan kepribadian yang dialaminya (ego-sintonik). Biasanya gangguan kepribadian muncul sejak kanak-kanak meski dengan nama yang berbeda dari nama gangguan kepribadian. Gangguan kepribadian juga biasanya tidak memiliki gangguan secara neurologis.

Simtom yang muncul dari gangguan kepribadian narsistik adalah, ia selalu merasa dirinya paling benar, paling spesial, berhak mendapat perlakuan khusus, sehingga ia sulit menerima kritik dari orang lain. Dikatakan pula dalam buku Psikologi Abnormal Klinis Dewasa (Fausiah, 2007) bahwa sikap mereka yang demikian dapat mengakibatkan hubungan yang rentan/mudah pecah.

Kesesuaian simtom dalam teori dengan perilaku yang diperlihatkan temanku ini mirip. Maka, bisa jadi dia mengalami gangguan kepribadian tersebut. Namun, hal ini aku rasa perlu dipertimbangkan lagi dengan merujuk pada psikolog atau mungkin psikiater. Semoga segera bisa disembuhkan.

Pemimpin Masa Depan Indonesia

Ada beberapa kriteria pemimpin masa depan yang didambakan. Sedangkan menjadi pemimpin yang berhasil membutuhkan proses yang tidak singkat. Maka, dibutuhkan proses pembinaan yang berkelanjutan.

Kini menjadi suatu keniscayaan bahwa pemimpin menjadi sosok penting dalam sebuah organisasi yang dipimpinnya. Dari tingkat rumah tangga hingga dunia, pemimpin menjadi simbol dan nahkoda organisasinya. Dunia yang heterogen dan terus berkembang disertai permasalahan yang melingkupinya, menjadi tantangan besar bagi seorang pemimpin untuk dapat menata dan mengarahkan hingga tercapai tujuan yang diharapkan. Menilik pada Indonesia, negeri yang indah dengan beragam sumber daya, tentu membutuhkan pemimpin yang mampu mengakomodir keberagaman tersebut. Apa saja kriteria pemimpin yang sesuai untuk memimpin Indonesia dan bagaimana cara mewujudkannya?

Banyaknya teori kepemimpinan yang beredar, memunculkan banyak definisi tentang pemimpin dan pandangan efektifitas sebuah kepemimpinan. Kepemimpinan bukan hanya bicara siapa orang tertinggi melainkan juga bagaimana pengaruh seseorang dalam mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu, untuk mendukung pengaruh tersebut, ia membutuhkan kompetensi dan pendekatan personal kepada orang yang dipimpinnya. Seiring perkembangan zaman, ketiga hal tersebut masih perlu diimbangi dengan berbagai hal yang mendukung agar berhasil, yaitu kecerdasan dan kebijaksanaan dalam mengelola masalah, mamahami medan dan masalah yang dihadapi, visioner, kreatif, berani mengambil sikap dan menerima konsekuensinya, dapat dipercaya, bersungguh-sungguh mendedikasikan diri untuk melayani, serta dapat memberi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya.

Di negara Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya dan keberagaman kelompok, dibutuhkan krtiteria lain selain kriteria tersebut. Yaitu pemimpin yang moderat, objektif, dan open minde, sebagaimana digagas oleh salah satu pendiri asrama kepemimpinan Nurul Fikri. Seorang pemimpin diharapkan mampu memandang permasalahan dari berbagai sudut pandang, tidak memihak pada kepentingan ataupun golongan tertentu, pandai memfilter budaya lain yang masuk, menerima kritik ataupun saran dari berbagai pihak dan dapat mengelolanya menjadi hal yang konstruktif, serta berupaya serius menjaga kerhormatan bangsa di kancah dunia.

Sebuah teori behavioral diajukan oleh Yulk dkk (dalam Aamodt, 2010) menyebutkan bahwa para pemimpin yang berhasil, melakukan hal-hal berikut ini: menginisiasi ide, berinteraksi secara informal dengan bawahan, mendukung bawahan, bertanggung jawab, mengembangkan suasana kelompok, mengorganisiasikan pekerjaan, berkomunikasi secara formal dengan bawahan, menggunakan reward and punishment, menetapkan tujuan, membuat keputusan, melatih dan mengembangkan kemampuan pekerja, menyelesaikan masalah, dan membangkitkan antusiasme kelompok. Berbagai hal tersbut tidak berasal dari bakat semata. Adanya penelitian ini justru membuktikan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dengan proses yang tidak singkat.

Menjadi pemimpin yang berhasil membutuhkan proses yang tidak singkat. Cara membentuk karakter pemimpin dapat dimulai dari lingkungan keluarga serta pihak lain yang merasa bertanggung jawab. Misalnya: organisasi mahasiswa di kampus, partai politik, lembaga non-pemerintah, dan negara. Tujuannya jelas, melahirkan pemimpin masa depan yang berkarakter Indonesia. Menyadari hal tersebut, pihak-pihak terkait  perlu membuat perencanaan pembinaan kepemimpinan untuk jangka pendek dan jangka panjang. Sehingga dapat memperoleh figur pemimpin yang memenuhi kapabilitas. Wujud nyatanya dapat melalui asrama-asrama pembinaan, sekolah-sekolah kepemimpinan, dan sistem kaderisasi organisasi yang dibentuk dengan pola pembinaan berkesinambungan. Pola tersebut harus memiliki standar yang jelas, perencanaan yang matang, materi yang komprehesif, dan fasilitas yang mendukung. Hal ini dibutuhkan untuk menumbukan bibit-bibit unggul pemimpin masa depan guna memajukan bangsa sehingga mampu menghasilkan pemimpin yang berkarakter dan memiliki kapabilitas memadai.

 

Referensi

Aamodt. (2010). Industrial/organizational psychology (6th ed.). Canada : Nelson Education, Ltd

 

Sharing Alumni Bersama Shofwan Al-Banna

Hidup itu ibarat pohon tumbuh yang semakin ke atas. Ketika masih kecil, pohon itu belum bisa menjangkau apa yang ada di atas. Perlahan namun pasti, semakin lama ia mampu menjangkau apa yang ada di atasnya.

Dulu, mungkin kita belum bisa menempati ruang-ruang tertentu yang kita anggap lebih luas dan lebih besar. Kita belum bisa menjangkau  sesuatu yang lebih  atas dari kita, namun yakinlah suatu saat akan bisa kita untuk menjangkaunya. Sebuah pohon juga mengalami gugur daun, kering, dan jatuh. Namun, ia bisa tumbuh lagi sesuai waktunya. Hal ini seperti ingatan kita yang kadang lupa dan kadang ingat. Ada ingatan baik, ada yang buruk, ada yang menyenangkan, ada yang traumatis.

Demikianlah Shofwan Al-Banna memulai pertemuan kami sebelum ia memperkenalkan dirinya lebih mendalam. Nama lengkapnya Sofwan Al-Banna. Ia berasal dari desa yang terkenal sebagai pusat batik, yaitu Jogokariyan, Jogjakarta. Pada masa kecilnya, ia sudah tidak asing dengan Islam karena di desa ini memang sudah kenal ke-Islam-annya. Sekolah dasar dan sekolah menengahnya banyak memberikan pengaruh bagi tumbuh kembangnya. Ia menemukan banyak kelompok orang dari sekolahnya tersebut. Ia juga suka berdiskusi dan bertanya pada orang-orang di sekelilingnya. Di masa SMA, ia pernah membuat kampanye “masuk IPS”.nya, terjadi ketidakadilan

Ketika akan mencari perguruan tinggi, ia memilih UI karena bila ia terus di Jogjakarta, ia merasa tidak tumbuh dan berkembang. Ia masuk UI tanpa dimodali uang oleh ayah ibunya sehingga ia harus mengusahakan biaya sekolahnya sendiri. Sofwan termasuk anak yang berani. Ketika masuk UI, ada kegiatan orientasi kehidupan kampus yang disingkat OKK. Menurutnya, OKK adalah pembodohan atau pembudakan mahasiswa baru. Oleh karena itu, ia menyatakan ketidaksetujuannya mengikuti OKK melalui surat dan menolak mengikuti OKK ketika mahasiswa baru.

Dalam hidup ini, kita hidup ibarat pohon yang selalu tumbuh dan berkembang. Ketika di awal kuliah, buatlah visi yang besar. ketika ia menjadi mapres, ia ingin membuktikan bahwa menjadi aktifis tidak menghalanginya untuk berprestasi. Pelajari berbagai bahasa, banyaklah berlatih, berwawasan luas, milikilah pengaruh di public, independensi perlu dijaga, dan usahakan agar menjadi orang yang dicintai. Belajar terus, intelektual diasah, banyak baca buku. Dalam membuat perubahan, milikilah karakter!

Jadi, penting membuat visi yang besar dan jelas. Jelaskan dengan lebih rinci namun berikan ruang fleksibilitas karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Lembaga, orang tua, orang-orang yang kita sayangi dan ada di sekeliling kita bisa sangt berpengaruh pada kita.

Setiap orang punya definisi sukses yang berbeda. Buat definisi itu. Kita mungkin punya titik awal yang berbeda ketika masuk asrama namun hendaknya punya titik akhir yang sama. Bagaimana cara kita menjangkau titik akhir (sukses) tersebut adalah pilihan kita. Yang penting kita tahu kita mau kemana dan melangkah bersama yang lain justru akan memberikan kekuatan. Jangan lupa, wahyu Allah yang pertama adlaah IQRA’. Kita disuruh membaca dan membaca!

Mari, bertumbuh dengan kebaikan dan ilmu. Kembali kita meningkatkan kuantitas dan kualitas membaca kita, baik kitab suci Al-Quran pun kitab buku pengetahuan 🙂 agar semakin bermakna hidup ini, semakin berkembang ke arah kebaikan yang Allah ajarkan 🙂

Kajian Dhuha Bersama Ustadzah Rufidah

“Hati ini telah sesak oleh kerinduan yang membuncah pada-Mu. Merindukan pertemuan dengan wajah-Mu. Merindukan pertemuan di tempat terindah-Mu. Rabbi… dalam wujud seperti apa aku akan menghadap-Mu nanti?”

Empat golongan dalam surat Al Fatihah yang termasuk orang-orang yang diberi jalan yang nikmat (An-Nisa: 69), yaitu  para nabi, shidiqqin (membenarkan ajaran tauhid Allah dari umat nabi manapun), syuhada, orang-orang shaleh.

Jadilah orang shidiq yang paling percaya pada syariat Allah. Untuk menjadi syuhada, menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah (menyapa, tersenyum, qiyamul lail, dsb) di tengah kerusakan yang begitu hebatnya, maka disitu pahala seperti seratus orang yang syahid. Mencapai satu syuhada saja sulit, apalagi seratus (QS 3: 109). Orang-orang yang mati syahid tidak kembali ke alam ruh tapi langsung ke syurga bahkan mereka hidup di dalamnya karena ruh tersebut Allah titipkan di jasad burung-burung hijau mencicipi kenikmatan syurga. Orang-orang syahid masuk syurga tanpa hisab dan boleh merekomendasikan 70 orang untuk masuk syurga. Jadi, mati syahid adalah cita-cita tertinggi. Barang siapa yang belum pernah ingin mati syahid, maka bisa jadi ia mati dalam kondisi kekafiran. Yang penting adalah kesungguh-sungguhan melakukan syariat Allah dan niatkan mati syahid. Jaga keistiqomahanmu. Orang-orang sholeh itu punya ciri: kedekatannya intens kepada Allah, tidak merasa apa yang diperolehnya adalah karena dirinya, tidak sombong, bertawakal pada Allah, tidak lepas doa kepada Allah.

Jangan pernah ragu dengan doa kita. Pasti dikabulkan. Bisa dikabulkan saat itu juga, bisa ditunda pengabulannya, atau diganti yang leih baik di akhirat. Doa dengan spesifik untuk menunjukkan besarnya harapan kita pada Allah, kedekatan kita pada Allah, dan Allah memang senang mendengar rengekan kita (QS 40:60). Jangan malu meminta pada Allah! Allah itu dekat, lebih dekat dari urat leher kita (QS 2: 186). Syaratnya bila ingin dikabulkan doanya pada Allah: dia punya respon yang cepat pada perintah Allah (sura’atul istijabah). Mejaga keistiqomahannya dan percaya bahwa doa kita akan dikabulkan. Selalu khuznudzon billah.

Jangan lupa infak dan sadaqoh. Sadaqoh bisa menolak bala. Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Jangan menetukan balasan yang kita inginkan, tapi biarkan Allah yang menilai dan membalas dari infak kita. Ayoo infak, untuk mengikis kekikiran dalam diri kita!

Seorang mukmin hendaknya selalu melakukan muakadah (perjanjian) pada Allah bahwa Allah adalah Rabb-nya. Seperti yang telah dilakukan pada saat manusia sebelum dimasukkan ke rahim ibunya. Ia bersaksi bahwa Allah ada rabb-nya. Rabb itu luas, sebagai hakim, pemberi rizki, pengatur kita, penjaga kita, pencipta kita, dan sebagainya. Bayi dilahirkan dalam keadaan hanif (kecenderungan pada Allah). Misalnya, bangun pagi-pagi, tidur sebelum dhuhur, kalau kencing risih dan ingin dibersihkan, dan sebagainya., jadi tugas orang tua adalah menjaga fitrahnya.

Muroqobbah (merasa diawasi oleh Allah selalu, merasa ada pengawasan dari Allah) dimanapun dan kapanpun, dalam sendiri-ramai, terang-gelap, dan sebagainya. Sehingga apa yang kita lakukan selalu merasa ada Allah.

Muhasabah setiap hari. Apa kita lebih banyak taat atau lebih banyak maksiat. Iman itu naik turun, meningkat karena ketaatan pada Allah dan turun karena maksiat pada Allah. Rasakan bahwa waktu kita sedikit padahal kewajiban kita banyak. Para sahabat memperbarui surat wasiat setiap malam tentang amanah, titipan, dan sebagainya. Hisablah diri kita sebelum Allah menghisab kita.

Muaqobah (menghukum diri kita sesuai kemampuan kita). Mujahadah (berjihad= berlelah-lelah) sampai bertemu dengan Allah nanti. Misalnya: bangun solat malam sampai lelah, dan sebagainya. Jangan banyak tidur, perbanyak amal agar tidurnya lama di kubur. Sebaik-baik bekal adalah taqwa.

Sakaratul maut itu sunatullah, sangat sakiiiitt seperti kambing dikuliti, namun Rasulullah tetap mengingat kita, umatnya hingga akhir hayatnya. Subhanallah, solawat untukmu ya Rasul..aku mencintaimu.

Dialog Tokoh Bersama Ustadz Ali Kurt

Meskipun emas jatuh ke lumpur, ia tak lantas berubah nilainya. Umat Islam yang sejatinya baik, juga tidak akan berubah nilainya.

 Ustadz Ali Kurt sebagai seorang tokoh yang gigih memperkenalkan risalah An-Nuur memberi banyak pelajaran pada peserta PPSDMS regional Jakarta putra dan putri mengenai persatuan umat Islam. Ia mengatakan bahwa kaum muslim di seluruh negara ini adalah satu umat. Kita lahir dari generasi Nabi yang sama, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wassalam. Sudah selayaknya jika persatuan umat menjadi hal yang diperhatikan.

 

Bila melihat kondisi umat Islam saat ini, ia mempertanyakan apa yang sudah kita lakukan selama ini? Apa kesalahan kita sehingga kita masih tetap dijajah hingga sekarang. Padahal kita adalah kaum mayoritas di dunia. Mengapa kita tidak bersatu dan menggalang kekuatan untuk menghadapi musuh yang sebenarnya, bukan memerangi umat Islam sendiri. Bila di Amerika ada USA, di Inggris ada UK, tapi kita belum punya wujud persatuan kaum muslim dunia.

 

Semua yang terjadi pada kita bukan karena kebetulan. Ada tiga masalah Islam yang saat ini ada, yaitu:

  1. Kebodohan. Kita tidak lagi menjadi umat yang berwawasan luas, suka berpikir, apalagi menemukan sesuatu. Seringkali kita mengekor pada Barat dan mendewakan ilmu pengetahuan barat. Semestinya umat Islam bisa membuka sekolah sendiri atau institusi pendidikan lain untuk dapat menguranginya.
  2. Kemiskinan. Dengan pendefinisian miskin adalah orang yang memiliki pendapatan di atas 2 dolar per hari. Sangat disayangkan terjadi juga di Indonesia, karena Indonesia memiliki kekayaan yang berlimpah. Kefakiran itu bukan takdir Allah, maka semua pasti bisa diusahakan sehingga kemiskinan bisa diatas.
  3. Perpecahan. Untuk menangani perpecahan ini, salah satu proyek yang dilakukan adalah meningkatkan pendidikan umat Islam. Hal ini dilakukan untuk menumpas kebodohan yang seringkali menjadi latar belakang perpecahan umat Islam sendiri. Atas ketidakpahaman akan ilmu, ketidakmampuan meningkatkan status kehidupan dan ekonominya, semua bsia terjadi termasuk perpecahan umat Islam.

 

Sejalan dengan pentingnya pendidikan, risalah An-Nuur hadir sebagai sebuah ajakan dan konsep pentingnya pendidikan, pentingnya menimba ilmu. Dengan adanya persamaan konsep ini, maka dunia pendidikan umat Islam akan terintegrasi bukan hanya untuk kepentingan dunia atau pencapaian fisik semata melainkan hingga meresap dalam hati.

 

Jalalluddin Rummi bersyair bahwa seluruh ilmu kita adalah apa yang dipahami dan apa yang kalian sampaikan. Jadi, kita harus memberi pendidikan yang bisa memuaskan mata dan hati. Kebodohan itu mendatangkan kejahiliyahan.

 

Kemudian, bagaimana kita bisa mengembangkan negara kita? Menurut beliau, kita bisa melakukannya dengan berperang. Berperang lewat pena (pendidikan) dan lewat pedang (ketentaraan). Kita bisa memilihnya atau melakukan keduanya. Terutama bagi para generasi muda. Namun, menurut saya, yang lebih bisa dilakukan bagi para pelajar dan mahasiswa adalah berperang lewat pena atau pendidikan. Berperang lewat pena, artinya kita belajar dengan giat, menulis pikiran kita, membuat karya, memberikan kegiatan nyata bagi masyarakat, melakukan penelitian, dan banyak lagi prestasi yang mungkin bisa dilakukan melalui pendidikan. Sebagaimana tugas seorang intelektual yang semestinya ia berkontribusi bagi bangsanya dengan pendidikan. saya teringat dengan kisah Harun Ar-Rasyid yang membuat Baitul Hikmah untuk menunjang para kaum mudanya melakukan penelitian, membaca, mengembangkan ilmu pengetahuan, menerjemahkan buku-buku dari bangsa lain, dan sebagainya. Yang terlintas dipikiran saya ketika mengetahuinya adalah betapa pada zaman itu, Islam tangguh dan kokoh pemikirannya yang dibarengi keimanan di hatinya. Ilmu yang mereka cari itu bukan seperti barat yang hanya ingin memuaskan nafsu dan mengeksploitasi alam melainkan karena kecintaan mereka pada Allah. Mereka melakukan pengemangan ilmu pengetahuan karena dalam AL-Quran sudah tertera dan mereka melakukannya untuk kemaslahatan umat.

 

Sedangkan kita bandingkan saat ini, di mana kaum muslim terutama para remajanya justru lebih suka bermain games, jalan-jalan/ nongkrong, menggunakan narkoba, dan berbagai fenomena yang jauh berbeda dari zaman keemasan Islam, Harun Ar-Rasyid. Sangat memprihatinkan bagi saya. Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Ustadz Ali Kurt bahwa agama Islam adalah agama ilmu, bahkan wahyu pertama pun “IQRA” yang artinya, ‘bacalah’. Maka, tidak ada alasan untuk tidak berilmu, membaca dengan nama Tuhan kita, dan berilmu dengan sungguh-sungguh untuk Allah.

 

Risalah An-Nuur membawa misi kebenaran tapi tidak mengklaim bahwa ialah yang paling benar. Pemikiran yang dibawa salah satunya adalah penitngnya pendidikan bagi kaum muslim. Pesan dari ustadz Ali Kurt adalah meskipun emas jatuh ke lumpur, ia tak lantas berubah nilainya. Umat Islam yang sejatinya baik, juga tidak akan berubah nilainya. Maka, umat Islam harus memperkokoh jati dirinya, baru bisa membuka wawasan dari barat. Mari kita kenali Islam lebih mendalam, perkokoh ia dalam hati kita, jadikan Islam sebagai jalan hidup kita. Wallahu’alam bishawab.

Membangun Brand Personality

Menjadi seseorang  yang dikenal baik oleh  orang lain, barangkali menjadi pilihan dan impian setiap manusia. Betapa menyakitkan jika seseorang tahu bahwa dirinya adalah orang yang tidak disukai atau tidak diharapkan orang lain. Apalagi bagi orang-orang yang akan menjadi publik figur, seperti pada saat pemilihan raya belakang ini, dari tingkat himpunan mahasiswa, fakultas, hingga kampus tidak lama lagi.

Kampanye menjadi salah satu cara para kandidat menampilkan dan mempromosikan dirinya agar orang lain terpengaruh memilihnya. Berbagai macam cara dilakukan guna mempromosikan dirinya dengan memberikan cerminan personality yang baik.  Kuliah psikologi konsumen yang saya ikuti siang ini bersama dosen tamu berpengalaman , menyampaikan materi mengenai brand personality produk dengan sangat menarik. Brand personality sebagai sejumlah karakteristik yang dilekatkan pada suatu produk tertentu harus bisa dibangun dengan baik dan konsisten dimanapun dan kapanpun itu. Namun, saya bukan berbicara tentang produk barang/jasa  tertentu dalam arti sebenarnya melainkan diri dari kandidat sendiri. Bila diibaratkan, setiap orang boleh jadi berganti warna baju, model baju, dan penampilan, namun personalitynya tidak boleh berubah. Personality akan tetap dalam konteks apapun. Demikian juga seorang kandidat, ia akan tetap menjadi dirinya dengan karakternya sendiri yang kuat meski penampilan fisiknya berganti.

Mengapa brand personality menjadi penting? Ada beberapa alasan mengapa hal ini menjadi penting, yaitu: pertama membedakan dari kompetitor. Artinya, dengan ciri khas yang dimiliki, dapat membedakannya dengan kandidat lain. Kedua, menentukan konteks. Hal ini tidak dapat dipisahkan dari sasaran konsumen atau segmen pasar yang akan disasar agar produk tersebut tepat sasaran. Ketiga, membangun komunikasi yang konsisten dengan konsumen terkait personality yang dibangun agar konsumen tetap ingat dengan produk yang ditawarkan. Keempat, membangun ekuisitas dalam waktu lama. Hal ini dibutuhkan agar brand personality yang dibangun dapat bertahan lama dan langgeng serta tetap kokoh dengan personality yang dimilikinya.

Membangun brand personality bukanlah hal mudah. Namun, bisa diupayakan dengan baik dan sungguh-sungguh. Pertama, bagaimana konsumen mempersepsikan produk. Cara ini bisa diketahui dengan melakukan riset atau focus group disscussion terhadap personality sebuah brand. Jika diterapkan pada kandidat, bisa jadi ia mencari tahu bagaimana kandidat di mata para pemilih lalu disesuaikan dan dipertimbangkan terkait siapa yang akan menjadi pemilih sasarannya. Kedua, bagaimana kita menyesuaikan persepsi konsumen. Hal ini dimaksudkan agar jarak/gap pemahaman atau yang dipersepsikan oleh konsumen dengan brand yang mungkin sudah dimiliki.

Ketiga, mengetaui sejauh mana gap tersebut dan bagaimana cara menjembataninya. Bisa jadi, kepribadian yang dimiliki kandidat ternyata tidak sesuai

kebutuhan pasar. Lalu pada bagian ini, harus dicari tahu cara menjembatani gap tersebut. Keempat, setelah seluruh proses dilalui, detailkan brand personality yang dibuat. Bagaimana seseorang itu dapat memiliki karakter secara detail dan jelas. Tidak samar-samar dan tidak ragu-ragu. Apakah dia laki-laki atau perempuan, apa dia tua/muda, membosankan/menyenangkan, kaya/miskin, gemuk/kurus, dan sebagainya. Tentu akan lebih  baik ketika kandidat paham personality-nya dengan jelas dan detail. Bagaimana pula dia bisa tahu cara memposisikan diri kepada orang lain, kepada teman baru, kepada pemilih, dan sebagainya terutama kebutuhan pemilih.

Meski kini tengah ramai pemilihan raya dan tulisan ini terkait dengan kandidat ketua lembaga, bukan berarti brand personality hanya untuk kepentingan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sendiri perlu lebih jauh memahami siapa kita dan bagaimana orang mempersepsi diri kita. Jangan sampai ada fitnah-fitnah yang muncul karena kita tidak paham dengan diri sendiri atau karena orang lain yang tidak paham dengan kita. Kita berhak mendefinisikan diri kita sebagai apa dan bertindak dengan lebih tertata. Selamat membentuk diri!